JPD 11 Terlalu Bermimpi

1003 Kata
Pov Alfa Setelah menurunkan Riyanti di tempat yang dia minta, aku melajukan mobilku dan berhenti tak jauh dari jangkauan pandanganku ke dia. Aku sengaja ingin mengikuti sampai ke rumahnya tanpa dia tahu. Aku tak menyangka dia sangat sayang pada keluarganya terbukti dia menyempatkan beli buah tangan sebelum naik angkot. Aku pun mengikuti angkot yang dia tumpangi, sampai di suatu persimpangan dia turun dan membonceng laki-laki bermotor yang telah menunggunya. Deg, siapa laki-laki itu. Kenapa aku kawatir dan tidak rela jika laki-laki itu ada hubungan khusus dengan Riyanti. Aku rupanya takut mendapati kenyataan itu, ternyata setelah kuamati laki-laki itu masih muda, pasti adiknya. Jauh aku mengikutinya sampai ke desa tempat tinggalnya yang memang pelosok. Aku berhenti di sebuah warung kelontong dan membeli minuman sambil mengobrol. Aku mencari cara mendapatkan info tentang Riyanti tanpa dicurigai. Ternyata satu kalimat tanya mampu memancing banyak informasi tentang keluarga Riyanti yang sungguh menyesakkan dadaku. Kasihan Riyanti hidupnya untuk membanting tulang demi membantu keluarganya. Pantas saja dia gila kerja meski hanya part time karena harus kuliah. Jika boleh bermimpi, inginku memberikan setitik bahagia untuknya. Jika aku bisa masuk dalam zona nyamannya, harapku dia menerima tanpa memandang yang aku punya. Aku sengaja menginap di kota Magelang untuk refreshing. Sekalian menunggu esok hari saat Riyanti kembali pulang Yogya. Aku menyewa penginapan yang dekat dengan Candi Borobudur. Sebagai orang Bandung, aku baru sekali wisata ke sini itupun saat study tour sekolah dasar. Sekarang banyak perubahan. Wisata di sini sudah kian maju. Pemandangan terasa indah dan wajib dinikmati. Hari menjelang siang segera kukirim pesan ke WA Riyanti. [Lagi, dimana?] Beberapa menit pesanku dibalasnya [Masih di rumah. Ada apa, Mas?] [Pulang jam?] [Baru siap-siap] [Ok, tunggu di tempat turun kemarin. Nurut aja] [Ckck...] Aku senyum sendiri melihat balasan terakhirnya yang kuyakini dia pasti kesal karena memaksanya. ------- Pov Riyanti 'Ckckck, Mas Alfa kenapa masih di Magelang. Pakai acara ketemu di tempat kemarin juga, hufh dasar pemaksa.' "Pak, Bu. Yanti pamit ke Yogya dulu ya. Doakan lancar besok ada ujian," pintaku dengan mata berkaca menahan air yang terbendung di pelupuk mata. Sejak kondisi keluarga kami terpuruk, air mataku gampang tumpah saat memandang kedua orang tuaku ini. Inginku segera mengembalikan senyum mereka. Tentunya masih dengan tertatih-tatih. Semalam ada haru dan bahagia saat bisa makan bersama mereka juga kakak adikku. Dengan sedikit jerih payahku di Graha Tailor. "Jaga kesehatan di sana ya, Ti. Kami hanya bisa mendoakanmu. Bahkan kamu pun menolak kami kasih uang saku. Justru kamu yang memberi uang meski belum kerja seperti Ratih." "Tidak masalah Bu, Pak. Yang penting Bapak Ibu sehat selalu." Aku mencium takzim kedua punggung tangan mereka dan menyeka sekali air mata yang lolos juga dari pelupuk mata ini. Amar mengantarku dengan motor yang dipinjam dari temannya. Tak lupa aku berpamitan pada Mbak Ratih yang selalu menyemangatiku. "Mbak, aku balik dulu ya." "Iya hati-hati di jalan. Ingat pesanku, orangnya ganteng, baik hati pula. Hehe kurang apa lagi coba? Jangan ditolak takutnya sakit hati dia," ledek Mbak Ratih padaku. "Ishhh, jangn keras-keras nanti Bapak Ibu dengar. Lagian kami cuma berteman kok." Aku memang menceritakan perihal kedekatanku pada Mas Alfa yang tak lain adalah dosenku. Mbak Ratih justru mengompori dengan semangatnya. Amar kali ini mengantarku samai ujung kota kecamatan karena dia ingin membeli perlengkapan sekolah untuk praktek. "Makasih Amar, kamu hati-hati." "Mbak Yanti naik angkot kan? Atau ada yang jemput?" ucapnya dengan kerlingan mata seakan menggodaku. "Ya ampun anak kecil tau apa. Sana pulang, awas kalau bilang sama bapak ibu ya. Mbak cuma janjian sama teman di sini." "Teman apa teman." "Beneran, Mar." Amar tertawa lepas dan berlalu meninggalkanku. Sepuluh menit kemudian datang mobil sport yang dipakai Mas Alfa kemarin berhenti tak jauh dari tempatku berdiri. "Ayo, masuk!" Aku berdecak, ngapain juga sih harus jemput. Meskipun aku bisa menghemat 2x ongkos perjalanan tapi ada rasa nggak enak karena aku masih ragu motif Mas Alfa baik padaku. "Mas Alfa nginep di Magelang juga? Ada acara apa? Kenapa pakai jemput aku segala?" "Ya ampun, Ri. Satu-satu tanyanya. Aku memang ada acara di sini. Sekalian refreshing aku nginep di dekat Borobudur semalam." "Oh. Mas Alfa, ini kenapa malah muter? Harusnya kita lurus jalannya." "Ada yang ingin aku bicarakan?" Deg..., Jantungku berdetak tak menentu. Aku takut dia ngomong sesuatu diluar dugaanku. Bagaimana ini, aku bingung harus bersikap. 'Apa aku hanya terlalu bermimpi kalau dia mau menyatakan perasaannya padaku? Tapi kalau benar begitu, apa yang harus kujawab. Aku belum siap, mimpiku belum tercapai.' Laju mobil berhenti di taman alun-alun kota Magelang. Mas Alfa mengajakku makan di salah satu warung kuliner yang tidak begitu ramai. Kami memesan tahu guling dua porsi dan jeruk anget. Tahu guling di kota ini terkenal enak. Mas Alfa yang orang Bandung tadi tanya padaku makanan khas kota ini, langsung aku ajak makan tahu guling dan dia menyukainya. "Ri, apa kamu sedang dekat dengan seseorang?" tanyanya dengan mimik serius membuat jantungku yang sempat normal kembali berdetak kencang. "Haah, maksudnya?" aku melongo tak percaya Mas Alfa bisa bertanya dengan serius kali ini. "Kamu lagi dekat dengan seorang laki-laki kah? Atau kamu justru sudah punya pasangan?" Lidahku kelu mencerna pertanyaanya. Berbagai pikiran melintas dibenakku dan akupun bingung tak bisa menjawab secara langsung. "Kamu lagi dekat dengan seorang laki-laki kah? Atau kamu justru sudah punya pasangan?" Lidahku kelu mencerna pertanyaanya. Berbagai pikiran melintas dibenakku dan akupun bingung tak bisa menjawab secara langsung. "Hmm, Aku..." Kuhela nafas untuk menetralkan detak jantung yang memburu. Kurangkai kata yang terbaik supaya tidak salah ucap. "Tidak perlu dijawab sekarang, Ri. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Juga keluargamu, apa boleh?" katanya sedikit memohon. Ada setitik kelegaan karena dia tak menuntut jawab sekarang. Aku perlu berpikir panjang untuk hubungan kami jauh ke depan. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Aku hanya orang miskin, yang sedang berjuang mengembalikan senyum keluargaku. Apa yang bisa diharapkan dari orang seperti aku, Mas. Bahkan aku hanya seorang yang gila kerja untuk mencari uang." "Jangan katakan itu, Ri. Aku mendukungmu, tapi ingat juga kesehatanmu. Jangan terlalu keras bekerja, fokus saja dengan kuliahmu hingga bisa lulus tepat waktu." Aku pun mengangguk dan membalas senyuman yang dia berikan padaku tanda dia mendukung aktivitasku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN