“Permisi, Pak. Ibu Fresya kembali datang.” Tangan yang sedang sibuk mengetik di keyboard laptop itu terhenti. Menghela napas panjang, lelaki dengan kemeja kusutnya itu memejamkan mata sejenak. “Usir dia. Dan jangan perbolehkan dia masuk ke dalam kantor ini lagi,” titahnya tak ingin dibantah. Namun cukup membuat seorang perempuan yang menjadi sekretarisnya itu terhenyak kaget. “Baik, Pak.” Mendongkak setelah mendengar suara pintu tertutup, Angga mulai menyadarkan punggungnya pada kursi besar yang biasanya dipakai sang papa. Tanganya mulai memijat kening yang terasa pusing beberapa hari ini. Sudah seminggu sejak pernyataannya pada Fresya agar gadis itu melakukan hal konyol. Dan sudah seminggu pula Angga selalu menghindari gadis itu. Setelah dua bulan berjalan dan menikmati segalanya ta

