“SAH!” “ALHAMDULILLAH! PA, ANGGA UDAH SAH, PA! YA ALLAH, MAKASIH!” Dela menunduk malu melihat anaknya yang baru saja selesai mengucapkan ijab Kabul itu berdiri dengan tangan yang terangkat bahagia. Belum lagi peci hitam yang dipakainya sudah miring karena heboh dan bahagia akhirnya bisa menjadikan Fresya miliknya. “IYA, BANG! YA ALLAH, KAMU GAK BUJANG LAGI BESOK!” Para tamu dan saksi yang kini masih diam di tempatnya hanya bisa tertawa melihat bagaimana anak dan ayah itu saling berpelukan haru. “Udah dulu! Itu Fresyanya mau turun!” Angga langsung melepaskan pelukannya dan melihat ke arah tangga. Lelaki itu mendadak menjadi kalem, diam dan tersenyum lembut. Tangannya yang semula dingin karena akan mengucapkan serentetan kalimat sacral, kini kembali mendingin dan berkeringat. Meliha

