Bag. 9

1240 Kata
Grooaarr... Angga menelan salivanya kasar. Ia menunduk saat merasakan leser tengah menghunus padanya. Apalagi ketika ia melangkah mendekat. Rasanya seperti ada sesuatu yang menusuknya dengan tajam. "Emm, ini Pa.." "Darimana kamu?" Pertanyaan itu mampu membuat Angga kembali terdiam. Merasa tak kuat lagi, lelaki itu menatap wajah Papanya dengan melas. Berharap pria itu akan mengampuninya. Setelah pulang dari pet shop, Angga segera memasuki kamarnya dan menaruh segala barang-barangnya di sana lalu menemui sang papa. Karena kamar keduanya yang saling berhadapan, Angga jadi merasa sedikit lebih baik karena bisa kabur dengan cepat jika terjadi sesuatu. Dan benar saja, baru saja Angga membuka pintu kamar hotel Papanya, aura membunuh langsung menyerang Angga saat itu juga. Kalau tidak beristighfar dan mengingat Allah, sudah pasti Angga tumbang saat itu juga. "Angga tadi keluar dulu, Pa. Beli kucing buat Marsha." "Apa selama itu sampai panggilan Papa tidak kamu angkat?" Tanya Farhan dingin. Angga menelan salivanya lagi. Sekarang tenggorokannya malah terasa sangat kering. Sampai Angga tidak bisa untuk membiarkan mulutnya kering. "Itu.." "Apa bakso lebih penting?" Angga spontan mendongkak. Bodoh! Papanya pasti tahu dan menelepon sopirnya tadi. Tapi kenapa pria itu tidak mengatakannya pada Angga?! Ya sudahlah. Hanya ada cara terakhir. "Maaf, Pa," sesal Angga sungguh-sungguh. Farhan menghela napas panjang. "Kantor pusat sedang ada masalah. Kita harus pulang malam ini." "Masalah? Kenapa?" "Dua pertemuan gagal. Entah kenapa bisa mereka tiba-tiba menginginkan rapat hari ini. Karena kamu dan Papa tidak ada, terpaksa rapat diundur. Tapi pihak mereka tidak terima dan akhirnya memilih memotong harga yang sudah ditentukan." Angga mengepalkan tangannya. Sial! Kenapa ini tiba-tiba terjadi?! Angga tidak bodoh dan percaya-percaya saja. Ini pasti ada seseorang yang mendalangi semuanya. "Kenapa bukan Paman yang datang bertemu dengan Jonathan?" Tanya Angga tiba-tiba. Farhan berjalan menuju sofa. Lelaki itu mengurut keningnya dan menyuruh Angga untuk duduk di sofa bersamanya. "Dia bilang, dia tidak bisa. Ada urusan di kantor cabang." "Tapi apa urusannya lebih berat dari itu?" Angga menatap wajah Papanya dengan serius. Ekspresi memelasnya langsung berubah. Kontras sekali dengan apa yang beberapa menit lelaki itu ucapkan. "Papa gak tahu. Tapi ini lebih parah dari yang Papa kira." Angga semakin mengepalkan tangannya. Ternyata ini rencana Pamannya. Pantas saja sejak pergi, Angga merasa ada yang aneh. Dimulai dengan pemberitahuan dadakan bahwa pihak dari Jonathan akan datang ke Jogja dan bukan ke Jakarta. Yang mana jelas Jakarta adalah pusat kantornya. Lalu kedua, Pamannya tiba-tiba meminta Papanya langsung yang turun bersama Angga. Dengan alasan pihak Jonathan sangat berpengaruh dan tidak mungkin kalau mereka melewatkannya begitu saja. Ketiga, mereka datang dan bertemu di waktu yang sangat tidak pas. Jonathan juga sempat berkata pada Papanya kalau ia juga tidak tahu kalau pihak mereka diminta datang secepatnya ke Indonesia. Sudah merasakan, ada yang aneh? Ditambah Papanya yang secara tiba-tiba di telepon oleh Pamannya karena ada masalah di kantor cabang. Hal yang aneh. Kenapa Pamannya bisa semudah itu meminta bantuan? Biasanya pria itu paling enggan dan malas meminta bantuan pada Papanya karena merasa tersaingi. Dan yang terakhir, masalah tadi. Benar-benar di luar dugaan Angga. Pamannya ternyata memang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Awalnya Angga menganggap semuanya biasa saja dan enggan memikirkannya karena ia merasa bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Namun sayangnya dugaannya benar. "Pa, kita harus bertindak." "Tidak bisa." "Kenapa?!" Tanya Angga geram. "Untuk sementara waktu, kita biarkan dulu. Bukti yang kita punya sedikit. Sedangkan mereka memiliki lebih banyak bukti untuk menjatuhkan. Berbagai alasan dan alibi juga pasti sudah mereka siapkan." Benar juga. Karena terlalu marah, Angga sampai melupakan solusi terbaik dan selalu ingin cepat-cepat selesai. "Tapi ini keterlaluan!" "Itu bukan lagi masalah utamanya." Angga mengernyit kasar. "Kalau sampai Kakek tahu, kita tidak bisa memberikan apa-apa sebagai alasan dan bukti." Angga meninju dinding di depannya. Lelaki itu menggeram kesal. Pamannya segila ini untuk tahta?! Kalau iya, lebih baik mereka mengalah saja! "Kita pasti bisa menemukan buktinya, Pa." Angga benar-benar menyesal karena tidak mengangkat panggilan Arasya tadi. Kalau ia tahu ini ada hubungannya dengan perusahaan, sudah pasti Angga mengangkatnya sejak tadi. Tapi ini semua sudah takdir. Percuma mereka merasa menyesal. Ini bukan waktunya menyerah. Mereka harus lebih kuat lagi. "Ada orang yang Papa curigai di kantor pusat?" Tanya Angga. Matanya menatap Farhan dengan tatapan penuh keseriusan. Lelaki itu juga kini terlihat sangat marah. "Ada beberapa. Tapi Papa masih belum yakin." Angga menghela napas. "Berapa lama biasanya Kakek tahu masalah kaya gini?" "Seminggu kalau memang beliau sedang di Indonesia." "Sekarang di mana?" "Kebetulan sedang pergi ke Inggris." Angga tersenyum kecil. "Selama Kakek di Inggris, buat beliau sibuk. Angga akan cari tahu siapa yang menjadi anak buah Paman di kantor pusat." "Kamu yakin?" Tanya Farhan merasa takut. "Yakin, Pa. Papa tenang aja. Sekarang Papa vicall aja sama Mama. Pasti Mama kangen," goda Angga dengan halis yang terangkat ke atas beberapa kali. Farhan mengembangkan lubang hidungnya kesal. Memang ya, Angga seelalu bisa membuatnya kembali ceria. "Oke." Angga lalu bangkit dan berniat pergi. Baksonya sudah menunggu. Bakso lagi:) "Eh, bentar. Katanya kamu beli dua baksonya, kan? Mana? Papa minta satu." Angga membulatkan matanya lalu berlari begitu saja dari kamar Papanya. Tidak! Angga tidak akan membaginya! Satu jam Angga menunggu! "Moh!" "Heh! Pelit ya, kamu! Bagi sama Papa satu!" "Gak ada! Abis. Udah ditelen semuanya!" Teriak Angga lalu mengunci pintu kamar hotelnya. *** Angga melangkah mendekati ranjang. Lelaki itu terduduk di sana. Merenung sesaat sebelum akhirnya menatap sekeliling. Benar, dirinya ada di Jogja sekarang. Dan ia harus melewatkan hal penting di Jakarta. Jika saja.. Tidak! Tidak ada jika saja atau andai. Ini memang sudah takdirnya. Angga tidak akan bisa memutar waktunya kembali. Ia hanya bisa menunggu saja atau beraksi mulai dari sekarang. Tapi.. siapa?! Siapa yang sampai berani membantu Pamannya. Apa orang itu tidak tahu diri sampai mau mempermalukan Papanya? Atau orang yang bekerja sama dengan Papanya itu memiliki dendam tersendiri? Tapi karena apa? Angga yakin Papanya selama ini baik pada semua karyawan. Pria itu juga tak pernah pandang bulu. Lalu siapa yang sampai berani melakukan itu semua? Meong.. Angga mengedipkan matanya sekali. Apa yang ia dengar tidak salahkan? Itu suara kucing? Atau hanya khayalan Angga? Meong.. Kan, suara itu lagi! Hotel ini memang berhantu kucing, kah? Meong.. Brak. Brak. Brak. Angga segera menolehkan kepalanya pada kotak berwarna putih. Menyipitkan matanya berusaha mencerna jika sesuatu di dalam sana benar-benar kucing. Tapi kucing siap-- Oh iya! Itu kan pesanan Marsha! Angga langsung berlari dan duduk di sebelah kotak itu. Membukanya dan membiarkan kucing gembul berwarna cokelat itu keluar dari tempatnya. Dan dengan amat songongnya, kucing itu berjalan seraya menggoyangkan pantatnya di depan Angga. Yang mana sontak saja membuat Angga membulatkan matanya kesal. Sudah pesanannya aneh, susah membawanya, songong pula! "Emang kucing gak punya akhlak!" Maki Angga dan menutup kotak kucing itu. Tangannya kini mengambil kotak lain yang berisi kandang kucing itu beserta keperluan si songong tadi. Di dalam itu ada kandang yang ukurannya cukup besar, makanan kucing, tempat makan dan minum yang menyatu, satu pack pasir, kotak makan yang bentuknya lebih besar dan lebih bundar. Angga sih hanya berfikir itu memang kotak makanannya. Yang mana ternyata adalah toilet kucing. Lalu yang terakhir ada sebuah handuk. Entah apa fungsi handuk itu. "Laper gak kamu, Ngong?" Tanya Angga pada sang kucing. Lelaki itu mengambil botol minum yang berada di nakas. Bukannya menjawab, kucing itu malah asyik tertidur di atas kasur Angga seraya menjilat-jilat bulunya. Mata Angga sontak menatap datar kucing songong itu. Eh, ralat! Songong dan pemalas. Memang kucing tidak tahu diri! Masih untung Angga membelinya. Coba kalau tidak, mungkin saja tidak akan bisa tertidur di kasur 10 juta. "Udah songong, gak tau diri juga ternyata kamu, Ngong,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN