Bag. 8

1301 Kata
Good money? Papa dan keluarga besarnya masih hidup--tidak tahu kalau sudah tidak ada. Good looking? Tentu saja! Wajah tampannya siapa yang bisa mengalahkan? Bahkan sekelas jackie cen muda saja ia jauh lebih tampan. Mata besarnya yang terkadang selalu menjadi semi sipit kala menatap orang dengan tajam. Lalu hidung mancung kecilnya yang tidak perlu lagi dicontour agar mendapatkan gambar hidung sempurna. Rahang yang tegas dan bersih. Lalu halis hitam yang terbentuk rapi. Dan jangan lupakan bibir merah manisnya. Tebal namun tidak sampai meluber. Masih dalam lebih besar bibir nicky minaj. Lalu good attitude? Emm, mungkin iya jika di luar rumah. Karena saat di rumah, sepertinya sifat Angga agak sedikit melenceng dari good. Good brain? Jelas! Angga selama ini selalu berhasil meraih 3 besar dalam segala hal. Entah perlombaan maupun peringkat sekolah. Karena kepintarannya ini juga Angga sering mendapat gelar sebagai pria terpintar sejurusan saat SMA. Dan terakhir good people? Ya. Angga juga termasuk yang satu itu. Angga mudah berteman dengan siapapun. Lelaki itu tidak pandang bulu. Kalau dikhianati, tinggal cari yang lain. Karena motto bertemannya adalah: 'Orang yang idup bukan dia doang. Masih banyak yang bisa jadi temen.'  Dan itu selalu berhasil membuat Angga mendapatkan teman baru tanpa merasa sedih karena ditinggal teman lama. Hahah.. Jadi, kawan, jangan sia-siakan hidup. Cari good dari kelima di atas. Mana yang ada di hidupmu, dan perbaiki agar lebih bagus lagi. "Pak, sudah sampai." Angga menatap keluar jendela. Terlalu sibuk menghirup aroma bakso, ia jadi tidak sadar kalau mobil terus berjalan. Angga mengangguk sebelum akhirnya keluar dari mobil. Lelaki itu menyempatkan diri guna mencium baksonya yang ia tempatkan di sebelah joknya. Menepuknya seperti pada anak kecil. "Papa cari kucing dulu. Kamu diem-diem. Jangan berani ngegelinding! Mahal kamu tuh!" Ujar Angga sebelum akhirnya keluar dari mobil. Lelaki itu mengecek terlebih dahulu dompet di saku celananya sebelum akhirnya memasuki toko kucing yang sopirnya temukan. Angga dorong pintu masuk sampai bunyi terdengar. Kring. "Angga?" *** "Angga?" "Hah?" Fresya mendongkak. Menatap wajah Jonathan yang kini tengah melihat ke arah lain. "Ah, nggak. Kamu cari kandang yang cocok. Aku sepertinya melihat seseorang yang aku kenal." Jonathan lalu bangkit setelah memberikan kertas pada Fresya dan mengusap kepala gadis itu. Ia ingin memastikan, apakah lelaki yang ia lihat benar sosok Angga atau penglihatannya yang sedang tak baik. "Excuse me," ujar Jo dengan sedikit memiringkan kepalanya. "Eh, Pak Jo?" Tanya Angga yang kaget melihat Jonathan menatapnya dengan kepala yang miring. "Ternyata dugaan saya benar. Kamu Angga anak Pak Farhan, right?" Tebak Jo seraya mengulurkan tangannya. Angga tersenyum seraya mengangguuk. Tangannya terulur menjabat tangan Jo yang ada di depannya. "Benar. Saya Angga." "Sepertinya kita belum berkenalan," ujar Jo dengan nada yang terdengar lebih hangat daripada sebelumnya. Angga tersenyum canggung. Lelaki itu menatap sekitar. Apa pria ini juga sedang membeli kucing sepertinya? "Ya, tadi saya tidak sempat berkenalan karena saya rasa Bapak sedang ada perlu dengan Ayah saya. Dan Ayah juga sudah memperkenalkan saya." Jo tersenyum kecil. "Sebaiknya kita berkenalan kembali. Saya Jonathan." "Angga Wiraga." "Sedang mencari keperluan kucing?" Tanya Jo. Keduanya kini sedang duduk di kursi tunggu. Karena pet shop yang mereka tempati sedang dalam waktu istirahat, alhasil hanya satu pelanggan yang akan dilayani. Dan jika ada pelanggan lain, mereka harus menunggu di kursi tunggu yang saat ini Angga dan Jo duduki. "Mau membeli kucing. Bapak sendiri?" Tanya Angga sopan. Jo terlihat menggaruk tengkuknya. Angga jadi mengernyit. Apa pria ini berniat mencuri?! Tapi.. masa? Pria kaya yang terlihat baik-baik ini mencuri? Ah! Atau lelaki ini suka dengan salah satu pelayan di sini?! Ya ampun! Ternyata dunia nyata saja ceritanya seperti di dunia novel, ya? Angga menggelengkan kepalanya dengan senyum miring penuh rahasia. Lelaki itu menatap Jo yang masih setia terlihat salah tingkah. Emm, Angga jadi merasa malu sudah menanyakan hal itu. "Pacar saya sedang mencari kucing," jawab Jo. Angga mengulum bibirnya, tebakannya benar? "Pacar Bapak--" "Sebaiknya panggil nama saja. Rasanya terlalu berat untuk Anda  memanggil saya Bapak," sela Jo yang akhirnya membuat Angga mengangguk. "Pacar Anda bekerja di sini?" Tanya Angga memastikan pemikirannya. "Bukan." Angga mendesah kecewa. Ternyata dugaannya salah. Padahal kalau benar, Angga jadi bisa bercerita pada adik-adiknya bahwa dunia ini ternyata masih ada kisah sinetron. Gagal sudah keinginan Angga untuk bercerita. "Saya kira.." "Kamu sendiri? Membeli untuk sendiri?" "Bukan. Adik saya menyukai kucing. Jadi, saya berniat membawakannya kucing." Bohong! Jelas-jelas lelaki itu sempat memaki Marsha dan menggerutu kesal karena tidak mau menuruti keinginan adik pertamanya itu. Susah dibawanyalah.. siapa yang mengurusnyalah.. Memang, Angga juga ternyata good munafik di waktu tertentu. Jonathan menganggukkan kepalanya. Baru akan membuka mulut, seorang pegawai dari toko tersebut memanggilnya dan mengatakan jika Fresya menanyakan keberadaannya. Segera Jo berpamitan pada Angga dan pergi menemui sang kekasih. Sepeninggal Jonathan, Angga menatap sekitar. Ia menghembuskan napasnya pelan. Seketika otaknya yang sempat membeku karena bakso itu kembali bekerja. Bagaimana caranya ia membawa kucing ini?! Dan siapa yang akan menjaganya selama ia bersenang-senang keluar? "Bapak butuh sesuatu?" Tanya seseorang yang mendatangi Angga dengan sopan. "Ah, iya. Saya butuh kucing, Mbak."  "Kucing jenis apa, Pak?" Tanya wanita itu dengan sopan. "Eh, kucing ada jenisnya?" Tanya Angga polos. Sebenarnya ia sempat tahu beberapa jenis kucing. Tapi karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, ia jadi lupa dan tak ingat sama sekali kalau kucing juga ada jenisnya. Pasalnya, kucing yang Angga lihat itu seperti kucing biasanya. Kucing berwarna oren, hitam, putih, belang, dan lainnya. Dan jenis-jenis yang Angga tahu, kucing hamil berarti betina yang tidak hamil ya jantan. Sesederhana itu. "Banyak, Pak. Ada--" "Jangan dijelaskan, Mbak. Saya gak tau mau dijelaskan sampe malam juga." Wanita itu terkekeh mendengarnya. Ia lalu menunjukkan kertas yang ia pegang pada Angga. "Kalau Bapak mau, selama menunggu Bapak bisa melihat-lihat dulu jenisnya dari kertas ini, Pak. Setelah kami selesai, Bapak bisa langsung melihat-lihat." "Yang gendut aja, Mbak. Kandangnya yang gede warna ungu, sama tempat makannya. Semuanya warna ungu, Mbak. Kucingnya aja yang jangan warna ungu," ujar Angga cepat. Wanita itu tertawa kecil mendengarnya. Beruntungnya mood Angga siang ini sedang baik. Jadi sosok Angga yang lembut bisa pegawai itu dapatkan. Berterima kasihlah pada Tuhan karena sudah memberikan bakso pada Angga hingga akhirnya mood lelaki itu berhasil naik. "Baik, Pak. Akan kami siapkan." "Apa bisa cepat, Mbak?" Tanya Angga seraya melihat jam tangannya. "Kami akan usahakan cepat." Angga mengangguk. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya setelah wanita tadi pergi. Baru akan menyalakan ponselnya, Marsha sudah lebih dulu menelepon. Memang ya, anak ini selalu bisa menyusahkan Angga! "Assalamualaikum, Adik manis.." sapa Angga dengan suara lembutnya yang malah terdengar mengerikan di telinga Marsha saat ini. "Waalaikumsalam. Abang, kucingnya yang gede ya. Yang gembul! Semua alat-alatnya--" "Warna ungu, kan?" Tebak Angga yang langsung mendengar tawa kecil diseberang sana. Sedangkan Angga langsung mendengkus sebal. "Iyap! Marsha tunggu besok, ya!" "Heh?! Mana bisa! Abang di sini tiga hari!" Ujar Angga. Marsha mendengkus keras mendengar ucapan Angga. Hal yang sempat Angga lakukan sebelumnya. "Kata siapa? Orang malem Papa mau pulang, kok. Tanya aja." "Hah?! Kok Papa gak bilang sama Abang?" "Mana tau. Udah dulu, ya. Marsha ada kelas. Ditunggu si embulnya. Assalamualaikum!" Tutup Marsha. "Waalaikumsalam," jawab Angga yang langsung menutup telepon. Lelaki itu buru-buru mengecek ponselnya. Takut jika ternyata Papanya sudah menghubunginya terlebih dahulu. Dan.. Benar saja! 10 panggilan tak terjawab dari Papanya ada di layar ponselnya kini. Angga langsung memegang pipinya dramatis. Tidak! Bisa gawat kalau nanti ia bertemu Papanya di hotel! "Pak, ini kucing yang Bapak perlukan. Silahkan dicek dahulu. Jenis kucingnya--" "Iya, Mbak. Ini kartu saya. Darurat, Mbak! Saya harus cepet-cepet, Mbak." Wanita itu mengangguk dan menurunkan kotak putih yang berisi kucing dan kardus sedang berisi kandang dan segala macam keperluan kucing tersebut di samping Angga. Selanjutnya wanita itu pergi mengambil alat pembayaran dan menyodorkannya ke depan Angga. Lelaki itu dengan gesit mengetik pin atmnya setelah menggesek kartu hitam itu sekali. "Sudah lunas ya, Mbak." Angga buru-buru mengangkat kotak kucing dan juga kotak keperluan kucing tersebut. "Ini bonnya, ya.. Angga langsung menariknya dan pergi. Gawat tingkat dua belas kalau gini! Pak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN