Di sepanjang perjalanan beberapa orang yang melihat Freya dan Arsen pun menatap mereka dengan lekat. Mungkin karena tak pernah melihat mereka, sehingga beberapa warga bertindak seperti itu. “Mbok Inem, mau ke mana?” tanya salah seorang warga, yang sepertinya memberanikan diri untuk bertanya. “Eh, Neng Naya. Ini Neng, mau ke kebun.” Ternyata nama Nenek itu bernama Mbok Inem saat warga memanggilnya. “Akang sama Tetehnya ini siapa? Saudaranya, ya?” “Iya, Neng. Dari kota, dulu ke sini pas mereka masih kecil. Baru kali ini ke sini lagi dan tinggal di sini menemani kami,” jawab Mbok Inem. Ternyata Nenek beralasan dengan baik untuk menutupi identitas mereka. “Oh iya, Mbak. Saya pulang dulu, Mbok.” Naya anak yang cantik dan lemah lembut layaknya anak desa terdahulu saat bersika. “Mari Teh, Ak

