Lucia meninggalkan rumah bibinya dengan perasaan sedih, entah kenapa dia merindukan Gladis yang dulu. Dia tidak menyangka jika sepupunya merasa iri padanya, padahal Lucia sendiri tidak pernah memikirkan soal penampilan atau berniat merebut Tomi. Apa yang dia lakukan hanya semata untuk belajar dan mencari uang agar kehidupan kedua orang tuanya bisa terjamin. Di depan rumah Agung menunggu dengan perasaan was -was, sebab dari luar tadi terdengar suara ribut – ribut. Hanya saja Agung takut untuk ikut campur dengan urusan orang lain. ‘’Kamu tidak apa – apa?’’ tanya Agung. ‘’Tidak apa apa, paman,’’ jawab Lucia kembali tersenyum. Setelah itu Agung membantu Lucia untuk membawakan barang – barang ke garasi mobil, kemudian mereka segera meluncur ke sebuah dealer motor. Mata Lucia langsung tertu

