4. Demi 5 Milyar

1024 Kata
Sore harinya Nastya sudah membereskan semua barangnya - barangnya di kamar barunya. karena Array belum pulang, dia juga berniat membersihkan kamar pemuda tersebut sambil mencari sesuatu yang mungkin bisa berguna. Namun, di sana sama sekali tidak ada barang berharga. "Paling disimpan dalam tempat yang aman," batin Nastya. Hari semakin malam, dia penasaran kenapa sejak tadi siang Saiko berdiam diri di dalam kamar dan sama sekali tidak memanggilnya. "Kira - kira apa yang dia lakukan ya? Kenapa tidak keluar sama sekali. Apa tidak bosan seharian berada di dalam sana?" batin Nastya heran. Biar tidak jenuh, Nastya mulai membuka ponsel. Di sana dia membuat daftar perubahan untuk hotel Bima sakti agar bisa menyaingi hotel Antariksa milik Saiko. "Lelah sekali ngetik di ponsel, tapi akan mencurigakan kalau aku membawa laptop. Lagian seorang pelayang untuk apa membawa barang seperti itu?" batin Nastya. Namun, demi mengembalikan kejayaan hotel keluarganya Nastya memaksakan dirinya untuk semangat. Larut malam baru ada suara bel dua kali di dalam kamarnya, itu merupakan tanda jika dia harus segera masuk ke dalam kamar Saiko dan melayani tuannya tersebut. Nastya masuk, dan melihat jika Saiko sedang rebahan sambil menonton film. Betapa enaknya hidupnya yang begitu nyantai seperti itu. Tanpa perlu kerja keras uang sudah mengalir sendiri. "Ada apa, Tuan?" tanya Nastya bergaya lelaki. "Ambilkan buah anggur dan cuci sampai bersih pakai air hangat! Dan juga kupas buah mangga sekalian!" "Iya," jawab Nastya setengah kesal. Hatinya merasa sangat iri, kehidupan Saiko yang berbanding terbalik dengannya. Andai saja Saiko tidak pernah membangun hotel Antariksa mungkin saat ini papanya tidak akan sakit dan Hotel Bima Sakti tetap berjaya. Jika dipikir - pikir awal kehancuran perekonomian keluarganya karena Saiko. ************************** Saiko mengamati Jimmy, pemuda yang tampak kurus itu memiliki gerakan gemulai. Dan saat Jimmy mengambil pisau yang terjatuh di lantai, saat itu Saiko heran melihat b****g Jimmy yang menarik. "Gila, kenapa pikiranku liar begini? Selama ini aku sudah hidup bersama Array bertahun - tahun tapi tidak punya rasa ketertarikan sama sekali," batin Saiko. Saiko sudah hampir sepuluh tahun tidak menyentuh wanita, bahkan teman yang lain jenis saja dia juga tidak punya. Masa remaja dimana dia harus memuaskan beberapa wanita sekaligus serta di beri obat kuat oleh mucikari secara paksa begitu menyiksa batin sampai sekarang. Wajah tampannya itu membuat banyak wanita tergila - gila sampai rela membayar tinggi, kebanyakan mereka adalah istri dari bos besar yang kesepian ditinggal kerja. Sekarang, Saiko menyembunyikan ketampanannya dan jarang menampakkan dirinya di depan umum. Kadang ada perasaan jenuh, tapi baginya kesunyian merupakan tempat ternyaman. Tiba - tiba saja ponselnya berbunyi, dan satu pesan masuk dari ayah angkatnya. Saiko, besok pagi Masayu sudah ada di bandara. Kamu jemput dia ya! Bagaimanapun juga dia adalah tunangan kamu. Saiko merasa pusing, Masayu memang cantik tapi dia sama sekali tidak tertarik. Alasan dia pulang ke Indonesia setelah selesai kuliah karena Saiko ingin menghindari gadis tersebut, siapa sangka jika Masayu justru akan mengikutinya sampai ke sini. Kemudian Saiko melirik ke arah Jimmy yang masih mengupas apel. Seketika dia memiliki ide. "Jimmy, kemarilah!" pinta Saiko. "Iya," jawab Jimmy bergegas sambil membawa piring berisi buah - buahan. "Ada hal penting yang mau aku bicarakan padamu. Jika kamu mau maka aku bisa memberikan uang berapapun yang kamu mau," ucap Saiko serius. "Ada apa, Tuan?" tanya Saiko tampak penasaran. "Maukah kamu berpura - pura jadi kekasihku?" Jimmy langsung membelalakkan matanya mendengar kalimat yang terdengar mengejutkan itu. "Tapi, aku ini lelaki," ujar Jimmy kaget. "Justru karena kamu lelaki makanya aku membutuhkanmu, karena besok akan ada seorang wanita dari Jepang. Kalau bisa kamu buat dia tidak betah di sini dan segera pergi. Jika kamu berhasil maka aku akan memberimu imbalan yang setimpal," tawar Saiko. "Dua Milyar," cetus Jimmy. "5 Milyar, tapi kamu harus menjadi kekasih aku sampai Masayu membatalkan pertunangan denganku," jawab Saiko. "Sepakat," jawab Jimmy tanpa basa - basi. "Kalau begitu kamu bisa pergi sekarang, dan nanti setelah Array pulang bilang untuk menjemput Masayu di Bandara," perintah Saiko. Jimmy langsung keluar. Sedangkan Saiko merebahkan dirinya di sofa sambil memakan buah - buahan segar. "Lima milyar, walaupun jumlah besar tapi setidaknya aku bisa lepas dari Masayu. Aku tidak mau dalam seumur hidupku terjerat pernikahan dengan mahluk yang aku benci," gumam Saiko. Masayu sebenarnya gadis cantik yang anggun, hanya saja mencium bau parfum wanita Saiko sudah tidak tahan. Terlebih lagi saudara angkat Saiko, yaitu Ryu begitu mencintai Masayu. Akan tetapi justru Masayu dijodohkan dengannya karena gadis tersebut lebih memilihnya. Saiko dan Ryu sangat akrab, jadi dia tidak ingin melukai saudaranya yang sejak remaja rela membagi kasih sayang orang tua serta semua yang dimilikinya. ********************** Di dalam kamar Nastya girang bukan main, saat ini perekonomian keluarganya memang sedang runtuh. uang 5 milyar bisa ditabung untuk nanti tambahan merenovasi hotel. "Hanya pura - pura menjadi gay saja dibayar segini, dia memang royal. Aku penasaran apa mungkin tunangannya itu begitu jelek sampai Saiko rela membayar 5 Milyar," gumam Nastya. Nastya semakin bersemangat membuat sistem baru untuk hotel Bima Sakti. Apalagi dia juga harus menunggu Array yang sedang pesta untuk memberitahukan kabar kedatangan Masayu. "Kenapa aku tadi tidak minta nomor Array saja ya? Dengan begitu jika ada apa - apa bisa mudah," gumam Nastya menyalahkan dirinya sendiri. Karena sudah tidak tahan menahan rasa kantuk, Nastya menuliskan sesuatu di kertas dan menyobeknya. kemudian dia menempelkan kertas tersebut di depan pintu kamar Array. "Sip, kalau nanti malam Array pulang dia langsung akan membacanya. aku mamang cerdas," puji Nastya pada diri sendiri. Tiba - tiba ponselnya berbunyi, panggilan telepon dari Aliando. Langsung saja Nastya mengangkatnya. [Hallo, Al. Ada apa? ] [Hanya ingin tahu kondisimu saja, kan kamu anak manja yang tidak terbiasa bekerja keras] [Terima kasih atas perhatianmu, tapi kamu tenang saja walau aku ini anak manja tetapi mudah beradaptasi] [Apakah kamu sudah makan? Kalau belum biar aku kirimkan? ] [Tentu saja sudah, makanan bagiku adalah poin utama] [Ya sudah kalau begitu, kamu sebaiknya istirahat dulu] [Bye... Terima kasih banyak, Al.] Sambungan telepon terputus, Nastya meletakkan ponselnya di tepi tempat tidur. Bahagia di rasa ketika memiliki sahabat yang selalu ada dan peduli. "Al, maaf karena kali ini aku tidak bercerita soal uang lima milyar. Aku hanya takut jika nanti kamu kecewa dan menganggap aku ini mau melakukan segala cara hanya demi uang, " batin Nastya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN