10. Tak Mengenali

1053 Kata
Nastya merasa heran, karena tadi dari awal berencana ingin ke rumah Aliando tetapi kini justru mereka berada di depan bioskop yang sudah lebih keren lagi dibanding lima tahun yang lalu. "Al, apa - apaan ini? Kenapa kamu malah mengajak aku kemari?" tanya Nastya. "Kita reunian, mengenang masa lima tahun silam," jawab Aliando santai. "Jangan becanda dong, aku ini sedang dalam urusan genting tidak punya waktu untuk bermain. Ayo kita ke rumah kamu menemui orang tuamu, " balas Nastya mulai kesal. "Tepat pukul tujuh ada film bagus, ini masih kurang lima belas menit lagi jadi kita bisa membahas harga jual hotel cabangmu, " ujar Aliando sambil menatap arlojinya. "Kamu tidak becanda kan? " pekik Nastya cukup kaget. "Soal bisnis aku tidak main - main, kamu lupa jika aku ini anak tunggal? Makanya urusan bisnis di Indonesia mereka serahkan padaku, " jawab Aliando serius. "Kenapa tidak kamu ngomong dari awal? " keluh Nastya. "Jika tidak begitu maka aku tidak akan bisa mengajak kamu nonton, dan tentu saja soal harga tergantung bagaimana sikapmu padaku, " goda Aliando sembari merangkul Nastya masuk ke dalam ruangan untuk membeli tiket. "Sungguh gaya bicaramu seperti seorang bos plaboy yang genit, " ejek Nastya tertawa. "Kamu mau tidak Hotelmu aku beli dengan harga tinggi?" balas Aliando. "Siap, Bos. Malam ini aku akan menemanimu dengan baik. Mau pesan cemilan dan minuman apa? " tanya Nastya berlagak menjadi seorang anak buah yang patuh. "Hm, kamu cukup tunggu di sini saja. Aku adalah lelaki sejati jadi hal itu biar aku yang melakukannya, " jawab Aliando. "Baiklah kalau begitu, " jawab Nastya patuh. **************** --- Saiko mengenakan celana panjang, kaos putih dan juga jaket jeans yang dibiarkan kancingnya terbuka. Kemudian memakai sepatu sport, masker, kaca mata hitam dan juga topi sampai wajahnya tidak lagi kelihatan. "Saiko, kenapa kamu pakai pakaian begini?" protes Masayu yang memakai gaun selutut seperti orang yang hendak makan malam di acara resmi. "Jika kamu bawel aku tidak mau lagi mengantarmu, " jawab Saiko cuek. "Ya sudah tidak apa - apa, " sela Masayu merangkul Saiko untuk segera pergi. Saiko mendengus kesal, sebab tidak tahan dengan bau make up dan juga parfum Masayu yang kuat. "Lepaskan aku, kamu bisa jalan sendiri kan? Tak perlu rangkul - rangkul aku, " keluh Saiko. Masayu segera melepaskan, dari pada nanti Saiko marah dan masuk lagi ke dalam kamar. Karena jarang sekali seorang Saiko mau diajak keluar. "Kita tunggu Array dulu, " ucap Saiko. "Apa? Ini adalah acara kita berdua. Aku tidak mau ada Array, nanti bisa - bisa kamu menyelinap pergi dan meninggalkan aku dengannya! " protes Masayu kesal. Kali ini Saiko yang mengalah, sebab tidak adil juga bagi Masayu untuk selalu patuh padanya. "Ini yang terakhir, " batin Saiko menguatkan diri. Mereka berdua pun segera pergi, menuju ke tempat bioskop seperti keinginan Masayu. Ketika masuk, tiba - tiba dari arah depan ada seorang gadis yang menjatuhkan diri ke dalam pelukan Saiko. Bahkan saking kerasnya tubrukan, hingga make up pada gadis tersebut menempel pada kaos putih milik Saiko. "Ih, apaan ini? " pekik Saiko merasa jijik. "Ups, sorrry, " jawab Nastya menyadari ada noda di kaos Saiko. Keduanya saking tidak mengenali, termasuk Masayu. Tetapi Nastya masih teringat jelas dengan Masayu, kemudian gadis itu langsung menghindar agar tidak ketahuan. "Benci sekali aku dengan beginian, " keluh Saiko yang mencoba membersihkan bekas lipstik pada kaosnya tetapi tidak bisa. "Aku rasa dia sengaja, karena ingin menggoda lelaki tampan sepertimu," sela Masayu ikutan kesal. "Darimana dia tahu jika aku tampan sedangkan wajahku tertutup begini? " sergah Saiko. "Yah, dari postur tubuhmu saja sudah kelihatan cowok ganteng, " jawab Masayu nyengir. "Tidak masuk akal, " balas Saiko kembali melanjutkan perjalanan sedangkan Masayu langsung membuntuti. Di sisi lain Nastya berhasil menemukan Aliando. "Al, akhirnya kamu ketemu juga, " ucap Nastya ngos - ngosan. "Loh ngapain kamu kemari? Kan aku sudah bilang untuk menunggu di ruangan tadi, " protes Aliando. "Tidak apa - apa, aku hanya khawatir kamu tidak bisa membawa cemilan dan minuman kalau banyak, " sergah Nastya berbohong. Aliando yang memang agak kerepotan tersenyum malu, mengira jika Nastya begitu perhatian padanya. "Sini aku bawakan yang untuk bagianku, " ucap Nastya. "Nih, " jawab Aliando tidak keberatan. Sedangkan Nastya masih gemetar juga, sebab tadi melihat Masayu. "Dia tidak mengenaliku, karena wajahku beda jauh ketika pakai make up. Dan lelaki yang tadi aku tabrak itu terasa familiar, apakah dia Saiko? Dari bentuk badannya mirip. Tetapi bukannya Saiko tidak mau bersama Masayu? " batin Nastya heran. "Nas, kenapa kamu melamun? " tanya Aliando. "Ah tidak apa - apa, " jawab Nastya. "Yuk masuk, sepertinya akan segera mulai, " ajak Aliando. ************************** Saiko mulai jenuh, tidak tahu ingin pulang atau kemana. Akhirnya dia meninggalkan Masayu seorang diri.Saat melintasi sebuah club malam diapun berencana untuk masuk. Dulu Saiko sama sekali tidak ada keinginan masuk ke tempat laknat itu, tetapi kali ini ingin mencoba untuk mengetes diri sendiri apakah masih ada rasa ketertarikan terhadap perempuan atau memang sudah tertarik dengan sesama jenis? Karena perasaannya terhadap Jimmy sangat sulit untuk diartikan. Saiko mulai mencari berbagai macam perempuan yang cantik, baru mencium bau make up dan parfum saja sudah pusing. Kemudian Saiko meminta pada bos di sana untuk mencarikan perempuan yang polos dan tidak terlalu menor. "Oh ada, dia masih baru dan sepertinya masih perawan, " jawab bos tersebut. "Yang aku maksud polos itu bukan yang ber make up tebal, aku ingin yang cantik alami, " balas Saiko. "Baik, akan aku suruh dia tampil apa adanya. Tetapi dijamin dia memang cantik. " Saiko di bawa ke kamar VIP, tak lama kemudian datang perempuan yang sangat cantik alami seperti yang tadi pemilik tempat hiburan ini bilang. "Siapa namamu? " tanya Saiko. "Erlita." Saiko mendekati, memang tidak ada bau make up atau parfum. Sebatas body Lotion yang kalem. Akan tetapi ketika Saiko ingin mencium bibir gadis tersebut, seketika pikirannya terbayang bibir Jimmy. "Sial, " Umpat Saiko. "Kenapa, Tuan?" tanya Erlita heran. "Tidak apa - apa, ini bayaran untukmu dan silahkan kamu pergi! " jawab Saiko. Saiko frustrasi, memang dia sudah tidak ada lagi keinginan terhadap wanita. Padahal barusan sudah ada mangsa yang begitu bagus, nyatanya tubuhnya sama sekali tidak bereaksi. Sangat berbeda ketika dengan Jimmy. Dan pada akhirnya Saiko kembali lagi ke Bioskop untuk menemani Masayu. "Kamu dari mana? Aku cari kok tidak ada? " tanya Masayu merengut. "Maaf, aku ke toilet sebentar. Tadi perutku sakit, " jawab Saiko nyengir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN