9. Sebatas Adik

1001 Kata
Saiko terdiam seperti patung ketika Masayu masuk ke dalam ruangan pribadinya dengan senyuman manis tanpa perasaan bersalah apapun. "Saiko, apakah kamu marah padaku? Maaf ya aku tidak tahu yang aku masukkan dalam obat itu apa. Karena Ayah angkatmu yang memberikan padaku, " ucap Masayu lugu. Saiko mendengus kesal, memang dia sudah curiga sejak awal. Sebab Masayu ini hanya tubuhnya yang dewasa tetapi pikirannya begitu polos. "Bukannya kamu sudah diantar oleh Array? Kenapa kamu bisa kembali lagi? " tanya Saiko. "Bodo banget aku jika harus menuruti kemauanmu. Sudah susah payah aku bisa datang kemari, jadi aku harus menikmati dulu di sini tanpa adanya pengawal yang pastinya akan sangat menyenangkan, " jawab Masayu kesal. Saiko tahu jika Masayu merupakan putri dari keluarga terhormat, dan untuk menjaganya kedua orang tuanya selalu mengutus para bodyguard untuk menjaga kemana - mana Masayu berada. Saiko kasihan juga, dia tidak mencintai gadis tersebut tetapi dia juga menyayangi Masayu seperti seorang adik. "Tiga hari, aku temani kamu bermain tetapi setelah itu kamu harus langsung pulang! " tawar Saiko. "Seminggu, " rengek Masayu. "Dua hari, " sela Saiko tidak suka dibantah. "Baiklah kalau begitu tiga hari, ngomong - ngomong dimana Jimmy? Kenapa dia tidak terlihat? " "Itu bulan urusanmu." Masayu terdiam, kemudian mencoba tersenyum lagi. "Sore ini kita ke bioskop ya? Ada film baru yang dirilis loh, " pinta Masayu manja. "Aku akan suruh Array untuk menyiapkan semuanya agar kamu bisa menonton di sini, " jawab Saiko tidak suka keramaian. "Yah, tidak asyik sekali. Katamu mau menemaniku, " rengel Masayu. Saiko mengembuskan napas berat, yasudahlah akhirnya Saiko setuju. Hitung - hitung sebagai permintaan maaf karena tidak bisa membalas cintanya Masayu. "Tapi janji, kamu jangan masukkan apapun ke dalam minumanku lagi! " ancam Saiko. "Iya, semua barang itu sudah di buang oleh Array, " jawab Masayu. "Memangnya Ayah angkatku memberi berapa? " tanya Saiko. Masayu hanya nyengir saja, sedangkan Saiko memalingkan wajah ingin segera tidur siang. "Dasar Pak tua, " gumam Saiko kesal. Bagaimanapun juga Saiko tetap masih menghormati Ayah angkatnya tersebut, pahlawan yang akan selalu terkenang dalam hati seumur hidup. Tetapi jika untuk menerima pernikahan dengan Masayu sungguh Saiko tidak bisa. Terlalu banyak hal alasan untuk menolaknya, dan dirinya juga belum siap untuk mencintai mahluk yang bernama wanita. "Masayu, sebaiknya kamu istirahat dulu. Aku mau tidur siang, nanti sore aku temani ke bioskop, " ucap Saiko. "Iya, Terima kasih banyak, " jawab Masayu mengecup pipi kiri Saiko kemudian berlari pergi. Saiko kaget, Masayu benar - benar menyebalkan. Semenjak kecil selalu seperti itu, mencium pipi sembarangan kemudian kabur. Tetapi Saiko benar - benar hanya menganggap Masayu sebagai seorang adik. ********************* Saiko tidak bisa tidur dengan tenang, pikirannya soal Jimmy dan juga Masayu yang tidak mau pulang membuat dirinya pusing setengah mati. Saiko memilih mengobrol degan Array, mengecek dan membahas soal Hotel Antariksa untuk menghibur dirinya sendiri. "Apakah ada perkembangan dengan Hotel Antariksa? " tanya Saiko tenang. "Sejauh ini masih bagus, ada kenaikan pengunjung walau tidak sebanyak pas awal hotel ini di bangun, " jawab Array. "Mungkin lama kelamaan mereka bosan juga, sudah wajar jika orang akan ramai kalau ada sesuatu yang baru. Bagaimana jika kamu adakan saja acara apa gitu yang sekiranya bisa menarik perhatian? Misal adakan acara bazar. Cari orang - orang yang punya seni tinggi yang sedang diminati. Kan lumayan juga buat mereka bisa mengadakan acara pameran gratis di hotel besar. Bisa juga undang desainer, penulis novel, koki terkenal, " saran Saiko. "Siap, Bos. Akan saya disiapkan semua nya, " jawab Array patuh. "Oh Iya, aku ada rencana ingin membangun hotel cabang. Menurut kamu dananya cukup apa tidak? Kalau tidak akan aku tambah dari tabungan pribadiku, " tanya Saiko serius. "Sepertinya cukup, hanya saja mencari lokasinya yang agak sulit, " jawab Array. "Sola lokasi biar aku saja yang mencari, dan kamu pilih dari beberapa karyawan yang bagus. Biar nanti bisa mengelola hotel cabang. Aku ingin nanti Hotel cabang juga seperti Antariksa dari segi penampilan dan pelayanan, " sela Saiko. "Itu bisa di atur, aku juga punya beberapa kandidat yang sangat handal untuk dijadikan leader, " balas Array. Tiba - tiba Masayu masuk, membuat Array sungkan untuk tetap di sana dan memilih berpamitan pergi. "Bos, kalau begitu aku permisi dulu. Masih banyak kerjaan yang belum diselesaikan, " ucap Array. "Iya, " jawab Saiko lemas. Setelah kepergian Array, Masayu duduk di samping Saiko. Menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki tersebut. "Masayu, aku mohon jangan seperti ini lagi! " tegur Saiko sambil berdiri. "Saiko, kenapa semenjak pulang ke Indonesia kamu jadi berubah? Dulu kamu sangat peduli padaku dan perhatian padaku! " keluh Masayu. "Itu karena aku menganggap kamu sebagai adikku, dan setelah aku tahu jika kamu memiliki perasaan lebih aku tidak bisa menerima nya. Masayu, aku hanya menganggap kamu sebagai adik. Kamu sudah tahu kan jika aku menyukai sesama jenis? " pekik Saiko tidak bisa mengontrol emosinya. "Aku tidak percaya, aku tidak mau kamu bodohi lagi. Dan sekarang dimana Jimmy? Kenapa dia tidak ada? Aku memang curiga dia hanyalah bayaranmu saja untuk mengusirku! " balas Masayu. Saiko terdiam, Masayu memang tipe perempuan yang ngeyel. Apalabila sudah menginginkan sesuatu akan selalu gigih sejak kecil. "Sudahlah, aku mau tidur dulu. Kalau kamu tidak pergi nanti malam aku mengantuk dan tidak bisa menemanimu jalan, " sergah Saiko. "Saiko, kamu harus sadar jika aku bukan anak kecil lagi yang bisa kamu bujuk! Kamu bisa menolakku, tapi kamu takkan mampu melawan Ayah angkatmu! " balas Masayu berlalu pergi. Saiko kesal sekali, ingin rasanya menendang pintu tetapi dia tidak mau kalah oleh emosinya sendiri. "Sial, bagaimana cara aku lepas dari Masayu? Dia sangat menyebalkan sekali, " batin Saiko. Saiko mengakui, jika Masayu anak yang manis dan cantik. Tetapi entah kenapa dalam hatinya sama sekali tidak ada ketertarikan, hanya sebatas sayang seperti kakak pada adiknya. Saiko yakin, jika dia menikahi Masayu takutnya jika kelak tidak bisa membahagiakan gadis tersebut. Sebab hatinya sudah tertutup rapat. "Jimmy... " gumam Saiko. Ketika terlintas bayangan Jimmy, Saiko tersenyum. Sungguh menjadi misteri kenapa dia tertarik dengan lelaki tersebut. "Aku tidak tahu, apakah aku ini benar - benar sudah tidak normal atau bagaimana? " batin Saiko.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN