Aliando mengikuti langkah Nastya secara perlahan dari belakang, melihat rumah yang dulu sering sahabat Nastya itu singgahi.
"Rumahmu masih sama seperti dulu, " ujar Aliando.
"Iya, " jawab Nastya.
"Aku harap pemiliknya juga sama, " balas Aliando.
Nastya baru ingin bertanya apa maksud dari perkataan Aliando, tetapi sang Mami sudah keluar duluan begitu tadi melihat ada suara Nastya di luar rumah.
"Nastya, akhirnya kamu pulang juga. Mami sudah sangat khawatir, apalagi nomor ponsel kamu juga tidak aktif! "
Nastya langsung memeluk Maminya erat, dan mencoba menenangkannya.
"Mi, sekarang Nastya sudah besar. Pastinya bisa menjaga diri, oh iya Nastya mengajak Aliando kemari. Apakah Mami masih ingat? "
Sonia mulai tenang, kemudian beralih menatap sosok pemuda yang terasa familiar.
"Wah, Kamu Aliando putranya Pak Hermansyah? Bagaimana kabarmu, Nak? Sekarang sudah jauh lebih tinggi dan tampan sekali. Dulu kamu dan Nastya sama loh, " pekik Sonia terkagum.
"Iya, Tante. Om Norman dimana ya? Sudah lama sekali tidak pernah bertemu, " jawab Aliando.
"Ayo masuk dulu, tapi jangan kaget ya? Papinya Nastya sakit keras jadi ya beginilah keadaanya, " ajak Sonia.
Di dalam Norman sedang memandang sebuah bingkai foto, dimana saat itu Nastya masih SMA mereka bertiga berfoto di depan hotel Bima Sakti sedang dalam masa jaya - jayanya.
Nastya yang melihat hal itu merasa pedih, tetapi zaman telah berubah dan semakin canggih. Tentu saja persaingan akan kalah dengan yang jauh lebih modern dan mengikuti pasaran di era ini.
"Pi, ini ada tamu. Dia temannya Nastya waktu kecil, putranya Hermansyah, " ucap Sonia lembut.
Norman menoleh ke arah Aliando, kemudian tersenyum simpul tetapi tidak bisa mengucapkan sepatah kata.
Aliando cukup kaget, tidak mengira jika papinya Nastya bisa separah ini. Apalagi memang keadaan Norman yang sakit sangat dirahasiakan takut jika sampai Nastya yang masih kuliah di luar negeri mendengar kabar.
Nastya memeluk Papinya manja, ingin rasanya menangis tetapi dia tahan. Kalau menjadi cengeng pasti akan membuat Papinya semakin tertekan.
"Kalian berdua ayo sarapan dulu kalau begitu," tawar Sonia ramah.
"Aku dan Aliando sudah makan, Kita. Kebetulan tadi kami bertemu di restoran dan aku minta dia anterin aku pulang deh, " jawab Nastya berusaha ceria.
"Iya, Tante. Kami sudah makan, " balas Aliando.
"Ma, ada hal penting yang aku ingin bicarakan pada Papi dan Mami, " sela Nastya mulai serius.
"Ada apa? " tanya Sonia mulai serius.
Norman juga ikut menyimak dan berusaha memasang pendengarannya dengan baik.
"Hotel Bima Sakti kan memang sudah ketinggalan zaman, jadi agar bisa bersaing dengan Hotel Antariksa yang kebetulan saling berhadapan bagaimana jika merombaknya dan merenovasi menjadi lebih modern? " tanya Nastya meminta pendapat.
"Nak, untuk merombaknya pasti membutuhkan uang yang banyak. Sedangkan kamu tahu jika tabungan kita ini sudah menipis, hanya cukup untuk keseharian dan pengobatan Papimu, " jawab Sonia sedih.
"Mi, kan Hotel Bima Sakti memiliki banyak cabang, kita jual saja dan tinggalkan sisa dua yang benar - benar masih berjalan. Lagian lebih baik memiliki sedikit Hotel tetapi bisa maju dari banyak dan tidak berjalan, " sela Nastya.
Sonia terdiam, masih memikirkan saran dari putrinya. Kemudian Norman menatap Sonia dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Papi setuju? " pekik Nastya senang.
Norman kembali mengangguk dan membalas senyuman kepercayaan.
"Karena Papi sudah setuju, Mami juga ikut setuju. Semua kami percayakan padamu, semoga kamu bisa melebihi Papi dan orang terdahulu dalam memajukan Hotel Bima Sakti, " jawab Sonia.
Nastya kembali memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.
"Nas, soal penjualan langkah apa selanjutnya? " tanya Aliando ikut nimbrung.
"Nanti akan aku hubungi teman Papi atau saudara yang sekiranya bisa membeli dengan harga bagus, " jawab Nastya.
"Bagaimana kalau kamu coba tawarkan pada papaku? Kebetulan sedang mencari tempat untuk cabang showroom mobil yang letaknya strategis. Dan kebetulan juga Hotel cabang milik keluargamu di pinggir jalan raya kan? " saran Aliando.
"Wah, ide bagus itu. Eh, tapi bukannya kedua orang tua kamu menetap di Swedia ya? "
"Dalam minggu ini pulang ke Indonesia, makanya kalau bisa kamu segera ke rumah aku saja, " jawab Aliando.
"Kira - kira kapan kedua orang tua kamu di rumah? Takutnya jika mereka sedang ada acara, " tanya Nastya bersemangat.
"Sore ini jam tujuh, bagaimana jika nanti aku jemput?" tawar Aliando.
"Ah, aku bisa ke sana sendiri. Tidak enak jika merepotkanmu terus, " tolak Nastya.
"Pindah rumah loh, dan kamu sudah lama tidak berkeliling di sini siapa tahu lupa jalan, " sela Aliando.
"Baiklah, kalau begitu jam setengah tujuh kamu jemput aku ya? " pintar Nastya.
"Siap," jawab Aliando.
Kemudian pemuda seusia Nastya itu berpamitan pulang.
***************************
---
Nastya malam ini memakai riasan seperti biasanya, sangat sesuai dikatakan princes sebab memakai gaun dan juga make up yang sangat feminim.
Bahkan Aliando sampai tidak tahan untuk memalingkan pandangannya.
"Al, pacarmu sudah banyak dan cantik - cantik. Apakah kamu tidak bosan melihatku terus? " sindir Nastya.
"Aku hanya sedang membandingkan wajah kamu yang seperti ini dengan yang polosan tanpa make up, " jawab Aliando beralasan.
"Menurut kamu cantikan mana? " tanya Nastya penasaran.
"Hm... Sama saja sih. Sama - sama cantik. Tapi tanpa make up kamu terlihat kalem, kalau begini kamu seperti anak manja yang imut, " jawab Aliando jujur.
"Make up adalah duniaku, kebahagiaanku, " balas Nastya yang memang suka dandan layaknya tikoh anime Jepang kesukaannya.
"Senyamannya kamu saja, asal kamu bahagia aku juga ikut bahagia, " jawab Aliando.
"Kamu memang best friend ku, Al," balas Nastya.
Dari sekian banyak orang, memang hanya Aliando yang paling tulus. Justru teman gadis lain hanya memanfaatkan dia dan numpang tenar, sebab dulu semasa sekolah Nastya populer dan royal. Tetapi kini mereka menghilang semua, bahkan begitu tahu Hotel Bima Sakti bangkrut mereka pada menjauhi Nastya bahkan menghina. Pada saat itu Nastya sadar, jika teman sejati akan datang ketika kita dalam posisi terendah
Di sisi lain Aliando hanya memandang Nastya penuh cinta, perasaan terpendamnya sudah berulah kali diungkapkan tetapi Nastya tidak peka dan hanya menganggap sebagai candaan.
Walau kadang Aliando kesal dan sebal, tetapi dirinya juga tahu jika Nastya masih terlalu polos.
"Al, kamu selalu menemaniku terus. Apakah pacar kamu tidak marah? " tanya Nastya.
Aliando yang tengah minum langsung tersedak.
"Kan aku sudah bilang, aku ini jomblo, " jawab Aliando.
Nastya tertawa, sama sekali tidak percaya.