7. Misteri

1001 Kata
Sesampainya di hotel Nastya langsung mengusir Aliando secara halus. "Aku mau tidur, sebaiknya kamu segera pulang karena sudah malam, " pinta Nastya. "Baiklah, besok pagi aku akan kemari lagi menemanimu sarapan, " jawab Aliando mengalah. Nastya langsung menutup pintu dan menguncinya, kemudian berendam air hangat sambil menangis. "Apa aku yang terlalu ceroboh dan bodoh? Karena aku baru saja lulus kuliah dan belum memiliki banyak pengalaman. Papi saja yang sudah banyak pengalamannya kalah telak oleh si b*****t itu. Sungguh aku menyesal, kenapa bisa - bisanya aku melakukan hal bodoh ini. Pada akhirnya aku yang rugi sendiri, jika sampai Papi dan Mami tahu mereka akan sangat hancur, karena putri satu - satunya sebagai kebanggaan telah ternodai oleh musuh sendiri, " batin Nastya tidak mampu menahan tangisnya. Kemudian Nastya teringat akan kondisi Papinya yang tragis, diapun segera beranjak dari kamar mandi. "Memangnya kenapa jika aku sudah tidak perawan? Aku adalah wanita dewasa, dan banyak juga dari temanku yang terbiasa melakukan s*x sebelum menikah. Ah… Tetapi aku tidak rela! Kenapa harus pada orang yang seharusnya menjadi rivalku! " Nastya sangat frustrasi, dia ingin memukul cermin seperti dalam cermin tetapi tidak jadi sebab takut tangannya terluka. "Jangan bodoh Nastya! Jangan lukai jemarimu yang cantik ini! Sudah terlanjur sampai di sini, tidak boleh tanggung - tanggung harus menyelesaikan sampai habis, " gumam Nastya kesal. Nastya menatap dirinya di cermin, wajah polosnya ini sangat berbeda dengan dirinya yang biasanya memakai riasan bak barbie. "Wajah tanpa make up ini harus aku gunakan untuk mendapat uang lagi. Dia sudah mencuri kesucian ku, tidak boleh terbuang sia - sia, " batin Nastya. Esok harinya Nastya sarapan ditemani Aliando, sahabatnya itu tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang sudah di pendam semenjak semalam. "Nas, kamu kenapa sih semalam kacau sekali. Dan sekarang kamu juga tidak memakai make up? " tanya Aliando. "Tidak apa - apa, aku hanya kesal saja karena penyamaranku hampir ketahuan dan aku kabur buru - buru. Soal make up aku kan tidak bawa alat tempurnya, " jawab Nastya. Aliando merasa ada sesuatu yang aneh, akan tetapi tidak tahu apa itu. Mau bertanya juga percuma karena Nastya tidak mau menjawab dengan jujur. "Setelah sarapan kamu mau pulang kan? Biar aku antar, " tawar Aliando. "Terima kasih, Al. Tapi aku masih ada urusan dulu, aku bisa pulang sendiri nanti, " balas Nastya. "Nas, aku ini sahabatmu. Jika kamu dalam kesulitan jangan sungkan bilang padaku, " bujuk Aliando. "Iya, Al. Aku tahu kamulah yang terbaik, " jawab Nastya. Aliando diam - diam melirik ke arah leher Nastya, ada bekas merah - merah sama halnya ketika dia memberikan tanda itu pada para kekasihnya. Semalam lelaki itu memang tidak begitu memperhatikan, dan kini kecurigaan itu semakin nyata. "Kalau aku bertanya mengenai ini apakah Nastya akan merasa malu dan tersinggung?" batin Aliando. "Al, kenapa kamu bengong? " tanya Nastya membuyarkan lamunan sahabatnya. "Aku hanya merasa jika kamu aneh saja sejak semalam, lebih banyak diam. Aku merindukan kamu yang super bawel dan menggemaskan, " pancing Aliando. "Idih, kamu jangan terlalu baik padaku. Nanti para pacarmu bisa salah paham, " jawab Nastya. Saiko hanya nyengir saja, sebab seseorang yang selama ini dicintainya hanyalah Nastya. Tetapi Aliando memiliki banyak pacar sebagai sampingan hanya untuk bersenang - senang. "Nastya, kau ingat ketika kita masih kecil? Aku selalu bilang hanya ingin menikahimu. Jika aku bilang itu serius bagaimana? " tanya Aliando menatap Nastya penuh perasaan. Nastya hanya tertawa, saat ini sama sekali tidak ada pikiran ke arah situ. "Al, kau tahu bagaimana kondisi keluargaku. Jadi dalam otakku saat ini hanya memikirkan bagaimana membuat Hotel Bima Sakti berjaya lagi. Saat ini hanya itulah impianku, " jawab Nastya bersungguh - sungguh. Aliando meraih jemari Nastya, kemudian tersenyum lembut. "Tenang saja, aku akan selalu menemanimu. Kamu tidak sendiri, " bujuk Aliando. *********************** --- Esok harinya Saiko terbangun, dia sangat kaget sebab tidak berada di dalam kamarnya sendiri. "Bagaimana bisa aku berada di kamar Jimmy? " batin Saiko. Kemudian samar - samar Saiko mengingat kejadian semalam, dimana dia yang hilang kendali. Tetapi dia tidak ingat semuanya. "Astaga... Apa yang sudah aku lakukan pada Jimmy? " "Oh tidak, semalam samar samar terbayang jika dia adalah perempuan. Apakah dia adalah perempuan yang menyamar sebagai lelaki. Lalu apa tujuan dia yang sebenarnya? Apakah untuk ini?" gumam Saiko penuh tanda tanya. Saiko segera keluar dari kamar, dan kebetulan ada Array yang juga baru mau masuk ke dalam kamarnya sendiri. "Bos, kenapa kamu keluar dari kamar Jimmy? " tanya Array penasaran. "Ray, apakah kamu sudah memastikan dengan benar saat menyelidiki dia? Katamu dia lelaki tetapi semalam dia adalah perempuan, " ucap Saiko setengah kesal. Array hanya menatap terheran, sebab semalam Saiko dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya. "Dia sungguh lelaki, karena aku sendiri yang melacak sendiri identitasnya. Mungkin Bos yang semalam terkena efek obat, " jawab Array yakin. "Tapi semalam… Ah sudahlah, " balas Saiko langsung masuk ke dalam kamar. "Semalam apakah aku yang salah mengenali? Samar - samar aku ingat jika dia perempuan. Tetapi tidak mungkin juga Array berbohong padaku, " batin Saiko. Saiko sangat marah dengan Masayu, susah patah membayar Jimmy dengan mahal tetapi masih nekat untuk menjebak dirinya. Tetapi Saiko lupa, apa yang sudah dia lakukan pada Jimmy. Dalam samar - samar ingatannya dia hanya mencium dan mencumbu saja. Saiko menekan pelipisnya yang berdenyut. Baru saja Saiko ingin mandi, tetapi sudah mendapat telepon dari ayah angkatnya. "Kenapa kamu tidak menemani Masayu jalan - jalan? " "Bukannya Masayu sudah kembali ke Jepang? " jawab Saiko gugup. "Pulang bagaimana? Dia saja katanya sedang jalan - jalan sendirian kok. Cepat kamu temani dia. Jangan kecewakan calon istrimu! " Saiko lemas, segera memanggil Array dengan suara yang lantang. Biasanya dia adalah pemuda tenang tetapi kali ini benar - benar emosi. Dalam satu teriakan Array sudah datang. "Ada apa, Bos? " tanya Array tegang. "Masayu tidak jadi pulang?" "Sudah aku antar ke bandara pagi ini dan sudah aku pastikan dia masuk ke pesawat, " jawab Array. "Tapi dia masih di Indonesia, berarti dia kabur, " gumam Saiko semakin kesal. Saiko merasa jika Masayu sangat menyusahkan, semua wanita baginya sangat memuakkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN