Nastya tidak menyangka jika untuk kedua kalinya akan kecolongan seperti ini, karena tidak ingin rugi banyak diapun segera mencubit pinggang Saiko sekeras mungkin.
"Uh… Maaf, karena kamu harus melihat hal ini. Akan tetapi aku hanya ingin kamu tahu jika kita tidak mungkin melanjutkan hubungan kita menuju pernikahan," kata Saiko meringis menahan sakit.
"Tidak apa-apa, Saiko. Walaupun aku sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Jika disuruh memilih mungkin aku akan meminta untuk terlahir sebagai lelaki agar bisa mendapat cintamu. Kalau begitu sekarang aku turun dulu, karena aku masih lelah mungkin aku menginap di sini malam ini," ucap Masayu sambil bangkit dan membawa jaketnya.
"Iya, kamu tidak perlu buru-buru kembali. Kamu bisa menikmati indahnya kota ini biar besok diantar oleh Array," jawab Saiko tersenyum senang.
"Iya," balas Masayu tersenyum tegar.
Nastya hanya mematung saja, kadang dia merasa kalau Saiko begitu bodoh. Disuguhi gadis yang begitu cantik tapi tidak mau.
"Apa Saiko ini tidak normal?" batin Nastya.
Saiko menelpon Array, agar datang dan membantu Masayu membawa koper.
Setelah keduanya pergi Saiko bernapas lega, akhirnya rencananya bisa berhasil.
"Sudah berakhir, jadi mana uangnya?" tanya Nastya tidak sabar.
"Baiklah," jawab Saiko kembali ke wajah cueknya.
Saiko memberikan cek sebesar 5 milyar sesuai perjanjian, baginya uang itu tidak masalah asalkan bisa terlepas dari jeratan perjodohan dengan Masayu.
"Apa tidak ada uang tambahan? Tadi Tuan Saiko sudah mencium saya," tawar Nastya memberanikan diri.
"Minta berapa?" tanya Saiko terkejut.
"Seratus juta," jawab Nastya.
"Seratus juta untuk satu ciuman?" tanya Saiko semakin terkejut.
Nastya tersenyum salah tingkah, dia mengutuk dirinya sendiri karena menjual diri hanya demi uang. Namun, karena Nastya tengah memakai identitas lain makanya dia sangat tidak peduli.
"Baik, bagaimana kalau kamu tambah sendiri angka yang kamu inginkan pada cek ini. Tapi kamu menyerahkan dirimu padaku?" tanya Saiko serius.
"Astaga, kenapa aku bisa keceplosan begini? Apakah aku benar - benar sudah tidak normal? " batin Saiko heran pada dirinya sendiri.
"Apa?" pekik Nastya terkejut
Nastya tak mengira jika ternyata Saiko beneran menyukai sesama jenis.
Saiko hanya menyeringai saja, sebab tadi respon Nastya begitu imut seperti seorang gadis.
"Aku hanya becanda, andaikan aku memang menyukai lawan jenis pastinya seleraku tidak sepertimu, " sela Saiko langsung berpaling.
Nastya bernapas lega, tidak menjadi selera Saiko juga merupakan sebuah keberuntungan. Diapun memilih untuk berpamitan kembali ke kamar karena memang sudah tidak ada kerjaan lagi.
Namun, Sesampainya di dalam kamarnya sendiri Nastya mendapat pesan lewat ponsel dari Saiko. Intinya selagi Masayu masih belum kembali ke Jepang maka mereka akan tetap bersandiwara menjadi kekasih gay.
"Bodo amat, intinya aku sudah mendapat uang ini. Setelah aku berhasil mendapat apa yang aku mau aku harus segera kabur, aku merasa jika Saiko orang yang membahayakan. Bisa-bisa dia memakan aku, nyatanya aku yang berpenampilan lelaki dia tetap saja menciumku. Biarpun itu akting tapi dia tadi tampak begitu serius dan tidak mau melepaskanku," batin Nastya takut.
Nastya masih bergidik merinding membayangkan ciuman Saiko yang begitu b*******h, dia bahkan masih bisa merasakan getaran aneh pada bibirnya.
"Sialan, ciuman pertama aku direbut oleh musuhku sendiri."
Nastya memutuskan untuk kabur di malam hari dan kembali kemari esok harinya sebelum Saiko terbangun, karena Nastya tidak bisa tidur jika tidak memeluk boneka kelinci kesayangannya hadiah ulang tahun semasa dua umur 3 tahun. Nastya segera menghubungi Aliando agar nanti malam datang menjemputnya.
"Hari ini aku terbebas menjadi pelayan, makanya aku bisa bersantai dan mendesain hotel serta merubah sistem kerjanya" gumam Nastya bersemangat.
Sore harinya Nastya merapikan barang miliknya, dia memastikan apa yang penting dijadikan satu ransel tujuannya ingin mempersiapkan semuanya agar sewaktu - waktu kedoknya terbongkar bisa pergi tanpa kendala. Namun, begitu malam tiba sesuatu terjadi. Pintunya digedor-gedor beberapa kali.
Nastya penasaran dan membuka pintunya, rupanya Saiko datang dan tiba-tiba menubruk tubuhnya.
"Eh, ada apa Tuan?" tanya Nastya kaget.
"Jimmy, bantu aku," pinta Saiko dengan wajah memerah.
"Bantu apa?" tanya Nastya dengan polosnya.
"Panggil dokter pribadiku, " balas Saiko.
"Aku belum tahu nomornya, biar aku hubungi Array dulu, " sela Nastya kebingungan.
Saiko semakin tidak bisa mengendalikan diri, lelaki itu langsung membanting pintu sampai tertutup rapat. Diapun mendorong tubuh Nastya hingga terjerembab di tempat tidur.
"Apa - apaan ini?" pekik Nastya panik.
"Bantu aku," bisik Saiko yang tubuhnya sudah sangat panas.
Belum sempat Nastya bangun Saiko sudah mendidih tubuhnya, sungguh berat. Nastya sampai tidak bisa berkutik.
"Dasar gila, aku ini lelaki," umpat Nastya.
Saiko tidak peduli, pemuda itu sudah dirasuki obat oleh Masayu. Beberapa menit yang lalu Masayu datang ke kamar Saiko dengan alasan berpamitan.
Namun, dibalik minuman yang dibawa Masayu rupanya gadis itu sudah merencanakan sesuatu dari awal. Saat obat sudah bereaksi, Masayu berusaha menggodanya. Saat itu Saiko masih setengah sadar, pemuda itu langsung memanggil Array dan meminta anak buahnya tersebut untuk membawa Masayu pergi saat itu juga.
Saiko kemudian mandi air dingin, akan tetapi efek obat yang begitu kuat semakin menggila. Saiko tak punya pilihan lain meminta Jimmy untuk menolongnya dan membawa ke rumah sakit, tapi melihat wajah Jimmy yang begitu imut justru membuatnya semakin terangsang dan tidak terkendali.
Nastya terus meronta, dia tidak rela jika kegadisannya akan terenggut begitu saja. Apalagi pada seseorang yang sudah menyebabkan keluarganya bangkrut.
Akan tetapi Saiko memiliki tenaga yang lebih kuat, karena mereka saling beradu maka rambut palsu Nastya terlepas.
Saiko terkejut jika Jimmy adalah perempuan.
"Kamu… " pekik Saiko terkejut.
"Iya, aku perempuan! Apa kamu masih punya minat denganku?" tantang Nastya yang mengira Saiko seorang gay.
"Aku justru bersyukur jika kamu perempuan," jawab Saiko senang.
Saiko mulai beraksi, secara paksa merobek pakaian Nastya dan melampiaskan nafsunya akibat dorongan obat.
Nastya menangis sejadinya, pengalaman pertamanya begitu sakit dan pedih. Akan tetapi hatinya jauh lebih sakit lagi karena sebagai putri kebanggaan kini telah ternoda.
Amarah, dendam dan juga kebencian bercampur aduk.
Setelah puas, Saiko tertidur nyenyak. Sedangkan Nastya memaksakan diri untuk mencoba memakai pakaian lagi sambil menahan rasa sakit.
Tetapi pakaiannya sudah sobek, diapun meraih pakaian lain yang masih baru.
"Ini adalah harga dari apa yang aku lakukan. Saiko, kamu harus mendapat pembalasan atas semua tindakan yang membuat aku malu pada diri sendiri, " gumam Nastya.
Tiba - tiba ponselnya berbunyi, Aliando sudah memberikan kode kalau dirinya di bawah menunggunya.
Nastya pun beranjak pergi dan berjalan secara tertatih - tatih. Tak lupa dibawa tasnya yang berisi barang - barang penting.
Untung saja tidak ada Array, jika tidak maka takkan semudah itu Nastya bisa kabur.
Meskipun Nastya merasa jika Saiko aneh dan bukan seperti biasanya, dia menduga kalau Saiko dibius oleh orang yang pastinya adalah Masayu. Akan tetapi kenapa justru dia yang menjadi korbannya? Nastya sangat tidak rela.
"Saiko, aku akan menghancurkanmu," gumam Nastya penuh dendam.
Nastya melewati ruang rahasia, dan dia langsung saja sudah sampai di tempat parkiran. Di sana sudah ada sahabatnya yang setia menunggu.
Aliando yang melihat Nastya dengan rambut berantakan dan wajah memerah langsung panik.
"Kamu kenapa?" tanya Aliando setelah Nastya masuk mobil.
Nastya terdiam, dia teramat malu untuk menceritakan kejadian tadi, meskipun dia sudah berhasil memperoleh rahasia keberhasilan Antariksa dan juga uang yang banyak akan tetapi sesungguhnya dia yang kalah.
"Aliando, malam ini aku ingin menginap di hotel saja. Besok pagi aku baru pulang ke rumah," pinta Nastya lemah.
"Iya," jawab Aliando merasa kebingungan dengan sikap Nastya yang aneh.