Perjanjian

2633 Kata
Seperti biasanya pagi sekali Zeline sudah pergi dari rumah, dia sudah dijemput oleh drivernya, Mamanya Zeline tak habis pikir darimana anaknya ini mendapatkan banyak energi untuk terus berkerja, karena menurut pengamatannya semalam saja Zeline ini malah pergi sendiri dan pulang lagi kerumah sudah jam satu malam, terus jam empat subuh dia sudah bersiap-siap, setelah subuh, dia sudah mendapati anak gadisnya ini sibuk dengan benda kecil ditangannya sambil lalu menuliskan sesuatu yang entah apa, tak lama drivernya tiba dirumah. “Ma, Ine pergi dulu ya, Pulangnya mungkin malam Ma, kalau Mama mau apa-apa telpon Ine aja, nanti Ine minta tolong sama supir buat temenin Mama.” Dia berpamitan pada mamanya yang masih sibuk memasak ini. “Kamu gak makan dulu?” “Gak sempet Mama. Ine cus dulu ya.” Dia lalu mencium kening Ibunya dan langsung keluar dari rumah dengan cepat seperti diburu sesuatu. “Assalamualaikum.” Ucap Mamanya. “Walaikumsalam.” Jawab Zeline sambil cengengesan, “bilang Papa ya Ma.” Papa Zeline kalau pagi-pagi seperti ini jelas sedang sibuk mengaji. Saat Zeline keluar dari rumahnya, Mamanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saja, dia tak habis pikir dengan anaknya ini. Benar-benar terlihat seperti hamba dunia, padahal berkali-kali dia sudah mengatakan pada anaknya untuk jangan terlalu fokus pada urusan yang hanya bersifat sementara saja, tapi mungkin saja ini cobaan, anaknya yang satu ini sangat terobsesi dengan urusannya saja. Memang mungkin salah dirinya karena dulu dia membuat anaknya menjadi seperti ini. Mamanya Zeline teringat bayangan masa lalu anaknya, saat Zeline baru pertama kali menginjakkan kakinya disekolah menengah pertama, masalah ini akhirnya membuat trauma tersendiri untuk Zeline dan hanya dengan cara inilah dia bisa mengalihkan perhatian Zeline terhadap trauma perudungan yang dialaminya. Saat itu, dia mendapatkan laporan kalau Zeline ternyata sudah sering dirudung di sekolah, sebagai anak yang pendiam dia selalu ditertawakan dan dia juga bukan anak yang terlalu pintar, sehingga apapun yang dilakukan penindas membuatnya memiliki luka psikis yang cukup dalam. Puncaknya, dia pernah ditinggalkan di hutan saat mengikuti acara ekstrakulikuler sekolah, sampai akhirnya dia ditemukan dalam keadaan lemas dan penuh luka, untung saja dia ditolong oleh penduduk setempat yang ternyata melihat Zeline sudah penuh luka. Sejak saat itu, Mamanya memindahkan sekolah dan melakukakn pengobatan penyakit psikisnya ini, konsultasi dengan berbagai psikiater sampai suatu saat, dia bisa tenang dan mulai melupakan kejadian yang menimpa dirinya. Saat masuk Sekolah Menengah Atas, Zeline mulai bisa bergaul dengan normal kembali, walaupun luka psikis itu entah hilang atau dia sudah melupakannya, dia selalu berusaha menjadi anak yang baik, dia belajar dengan keras sampai kemudian dia mendapatkan perguruan tinggi favorit lalu lulus dengan predikat cumlaude, dia tak pernah terpikirkan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki manapun dan terjadilah sekarang, apa yang dikhawatirkan mamanya dulu terjadi. Saat ini dia terlalu sibuk dengan urusan dunia, dan dia tak ingin direndahkan orang lain. Jika dia merasa direndahkan orang lain, maka dia sebisa mungkin untuk membuktikan pada dunia kalau dia itu tidak serendah itu. “Ma, kenapa?” Tanya Papanya Zeline pada istrinya yang terlihat murung duduk di meja makan dengan menatap makanan yang sudah terhidang tapi belum ada yang menyentuhnya. “Anak itu langsung pergi lagi?” Tanya suaminya. Hanya anggukan lemah yang diberikan oleh istrinya ini, kemudian Papanya Zeline memeluk sang isteri, memberikan ketenangan, walaupun dirinya juga tak terlihat tenang saat ini. “Sudah sabar saja ya Ma, kita berdoa semoga dia bisa diberikan jodoh yang baik, ya mudah-mudahan saja si Nak Adam itu bisa tertarik sama anak kita, biar dia bisa mengajarkan anak kita hal yang baik.” Ucapnya. “Ya semoga saja Pa, walaupun kemarin Mama lihat sebenarnya tak ada sedikitpun Nak Adam itu melihat anak kita.” Mamanya Zeline saat ini terlihat pesimis. “Kalau sudah jodoh mau bagaimana juga dia akan bersama Ma. Lebih baik kita doakan saja untuk kebaikan anak kita. Mudah-mudahan dia bisa mendapatkan pemimpin hidup yang bisa membawanya ke jannah.” Dia lalu tersenyum pada istrinya. *** Sampai di kantor, Zeline mengistirahatkan sebentar otaknya yang terasa sangat overload ini, sepanjang perjalanan dia hanya diam, sebenarnya dia memang tak melakukan apapun saat ini karena dia terlalu lelah menghadapi Seth yang kemarin benar-benar mengerjainya. “Bu Zeline, ini sarapannya ya, dimakan dulu Bu, biar staminanya kuat.” Pak Pijo mengejutkan Zeline yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. “Ah … bisa aja nih Pak Pijo, berapa Pak?” Tanyanya pada Pak Pijo, karena seingatnya dia tak menyuruh siapapun untuk membelikannya sarapan. “Gak usah Bu, tadi dikasih sama Non Ika, katanya satu buat Ibu.” “Oh … Oke makasih Ya Pak.” Baru saja selangkah Pak Pijo keluar, Zeline langsung memanggilnya lagi. “Iya Bu?” “Ada Ifa gak Pak?” “Kalau tadi belum dateng Bu, Nanti kalau Saya ketemu, Saya suruh ke ruangan Ibu ya.” Ucapnya sambil tersenyum dan hanya dijawab dengan anggukan perlahan dari Zeline. *** “Nyariin gue?” Nazifah masuk keruangan Zeline dengan tergesa karena ada hal yang luar biasa ingin dia sampaikan pada atasannya ini. “Iya! Mulut yang sopan kalo dikantor!” Ucapnya pada Ifah. “Iyaaaa sorry Bu bos! Mau nanya, itu beneran si Seth Adelard Adam mau nempatin dananya di kita? Gak salah denger kan?” “Bener, form yang perlu dia lengkapi mana, nanti dia mau dateng, dan …” “Dan?” Mata Ifa terlihat sangat berbinar-binar saat ini. “Dan ini cek untuk pembukaan rekeningnya, nanti kamu ke bank itu aja, minta rtgs ke rekening dia kalo udah verifikasi semuanya di customer service, tadi si Zuhdi udah bilang juga sama Bank Nano untuk pindah dana ke tempat kita. Lo urus sisanya, karena gue bener-bener lelah ngadepin manusia satu ini.” Terlihat wajah kesal Zeline. “Whoaaaaaa bener-bener Ibu Bos the best!” Ifah mengacungkan kedua jempolnya pada wanita ini. “Satu lagi, semalam gue juga udah tanya sama tim TI kalo dia gak mau dapet bunga dari rekening ini, sekarang lo tinggal siapin form peryataan, minta di bagian operasional nanti buat surat untuk mematikan sistem pembayaran bunganya.” “Bener-bener deh! Luar biasa banget!!!” Nazifah lalu memeluk Zeline karena dia sangat bahagia saat ini. “Urus semuanya, dan form yang kurang minta sama Manajer operasional apa aja yang perlu dilengkapi lagi. Kelola akunnya dengan benar!” perintah Zeline. “Siap! Akan dilaksanakan dengan senang hati.” Dia lalu keluar dari ruangan Zeline dengan wajah yang sumringah. *** Baru saja lewat pukul sembilan Zuhdi sudah tiba di kantor Zeline. “Eh Judi, masuk.” Ucapnya pada Zuhdi sambil melihat apakah ada Seth yang bersama dengannya. “Dia gak dateng ada urusan mendesak.” Dia tahu kalau bahasa tubuh Zeline mencari Seth. “Baguslah kalo gitu. Males gue kalo ada dia.” Ucap Zeline dan Abrar hanya tersenyum menanggapinya. “Ih, gitu banget. Entar lo kanget lagi sama dia.” Ucapnya. “Gue? Kangen sama yang model begitu? Jangan asal ngomong deh. Bentar ya, mau panggil staff gue dulu.” Zeline kemudian berdiri dari tempatnya lalu berjalan ke pintu keluar. “Mita, tolong panggil si Ifah ya.” Suara Zeline ini terdengar sayup-sayup ditelinga Abrar. Abrar memperhatikan ruangan Zeline, rapi dan terlihat kalau bosnya seorang wanita, karena bau ruangan ini sangat segar dengan wangi aromatherapy yang menyala dari humidifier di salah satu sudut ruangan. “Judi, Lo beneran udah konfirm ke Bank Nano buat pemindahan dana kan?” Kali ini dia memastikan kembali. “Iyaaa … gue udah konfirm, dia sih oke aja, walau banyak keberatannya.” “Makasih banget ya!” Tak lama, berselang Ifah memasuki ruangan Zeline. “Selamat pagi Pak Zuhdi.” Sapaan ramah dari Ifah ini membuat Abrar untuk sesaat terperangah, karena jujur saja, Ifah ini sangat cantik dan lebih dari sekedar menarik. “Ah … Pagi.” Mereka lalu berjabat tangan. Jelas, tangan itu sangat lembut, namanya juga tangan wanita. “Kalian udah kenal juga kan, kemarin-kemarin pernah ketemu kan?” Ucap Zeline. “Iya … Udah kenal juga, tapi sayangnya dia masih panggil gue formal aja.” Abrar terkekeh. “Ini hubungan profesional.”Zeline menjawab cepat sedangkan Ifah hanya tersenyum malu-malu. “Oh, Iya Bu, untungnya rekeningnya sudah terbentuk dan terverifikasi, tinggal Saya ke Bank Nano aja buat pindah dana ketempat kita.” Ifah memberikan informasi pada mereka. “Baguslah, kalau begitu cepat saja kau pergi sekarang, tolong panggil Pak Arya ya, katakan padanya bawa list yang kurang.” Zeline memerintahkan pada Ifah. “Siap laksanakan. Pak Zuhdi, ah … Maksud Saya Pak Abrar, saya permisi dulu ya.” Dia tersenyum sangat manis dan dibalas dengan senyuman yang manis pula. “Idih … entar lo naksir lagi.” Zeline berkata pada Abrar setelah Nazifah keluar dari ruangannya. “Haha! Biasa aja Lo! Ini gue bawain semua hardcopy file yang lo minta, mulai dari akta pendirian sampe perubahan terakhir, copy identitas dan semuanya. Ada yang perlu ditandatangani lagi gak nih?” Tanyanya. “Ada, tunggu bentar, Operation Manager gue bentar lagi dateng buat minta tandatangan lo! Dan itu dia masalahnya, perlu tandatangan si b*****h satu itu!” Ucap Zeline sambil menghembuskan nafasnya dengan berat. “Betewe … nih berkas bisa dibawa pulang dulu gak sih, entar kalo lengkap gue bawain lagi kemari.” Ucapnya. “Sebenrnya boleh aja, tapi masalahnya sekarang kantor lagi diperiksa Audit, lo tau sendiri lah, SOP nya berkas itu mana bisa dibawa-bawa keluar.” Ucapnya. “Selamat Pagi Bu, Pak.” Suara Pak Arya ini menghentikan percakapan mereka. “Pagi Pak.” Jawab Abrar. “Pak Arya silakan duduk dulu." Zrline mempersilakan operasinal managernya duduk. "Ehm ... jadi begini Pak Arya, ternyata Direkturnya ini gak bisa dateng buat tandatangan, gimana kalau yang kurang-kurang itu kita titipin sama Pak Zuhdi aja, biar beliau bawa ke kantornya nanti kalau sudah lengkap beliau bawa lagi kemari.” Ucapnya. Nampak laki-laki itu sedang berpikir, “Sebenarnya selama ini yang berjalan sih bisa Bu, kita juga kan sering seperti itu dengan tim dana, tapi masalahnha sekarang kita sedang diperiksa sama audit, kalau audit internal sih masih enak Bu, tapi sekarang mereka ini bukan dari audit internal kita, tapi dari eksternal.” “Kira-kira hari ini bisa selesai gak?” Zeline bertanya pada Abrar. “Bisa sih, karena gak ada jadwal pergi keluar kota.” Jawab Abrar sekenanya. “Kalau begitu, gak masalah kali Pak, karena kan Audit juga sudah minta berkas yang dia periksa, ini kan juga baru dibuka hari ini, kemungkinan kecil dia periksa, kan?” “Ya, saya tergantung keputusan Ibu saja. “Oke, kalau begitu ini berkasnya ya?” tanyanya Zeline. “Iya Bu, ini semuanya sudah Saya tandai, tinggal di tandantangan aja dan di cap perusahaan.”Dia menjelaskan pada Abrar. “Baik kalau begitu Saya permisi dulu bu.” Setelah menjelaskan semuanya Pak Arya keluar. “Okelah, entar gue usahain hari ini kelar.” Ucapnya. “Kalo selesai lo hubungi gue aja, nanti gue paling nyuruh Ifah buat temuin Lo. Itu yang lo mau kan?” godanya pada Abrar. “Ada-ada aja lo! Enggak lah, gue santai aja.” Jawabnya. Baru saja Abrar ingin beranjak dari duduknya, dia sudah mendapatkan telpon dari Seth. “Iya kenapa lagi?” Abarar berkata dengan sangat malas saat ini. “Okay gue tunggu, tapi jangan lama, mungkin aja dia ada urusan lain.” Lagi-lagi Abrar berkata membuat Zeline penasaran. Tak biasanya dia se-kepo ini sama urusan orang lain. Sambungan telpon dimatikan. “Lo gak ada keluar dulu kan sekarang?” Tanya Abrar pada Zeline yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan penuh pertanyaan. “Gue, ada rapat sekitar sepuluh menitan lagi. Emangnya kenapa?” “Ini si Seth mau dateng kemari katanya tunggu sepuluh menit lagi dia bakalan sampai.” “Oh … tapi aku beneran ada rapat sama tim pemasaran. Nanti Lo bisa tunggu aja di ruang gue, entar gue bilang sama sekretaris gue buat panggil Operasional Manager gue buat jelasin semuanya, gimana?” Dia berkata dengan senyuman. “Tapi masalahnya dia beneran mau ketemu sama Lo. Mungkin lo bisa pending rapatnya bentar kali ya?” Abrar seperti memohon. “Eh? Yang bener aja Lo Di! Apa dia itu bener …” Kali ini Zeline benar-benar kehabisan kata-kata berhadapan dengan Seth. “Please, katanya ini penting banget.” Abrar membujuknya. “Terus kenapa dia gak telpon gue langsung?” “Dia lupa nyimpen nama lo apa di kontaknya dia.” Jawab Abrar terdengar asal. “Benar-benar mencari-cari alasan yang tak masuk akal.” “Bersedia?” “Okay … demi nasabah besar, apa sih yang gak bisa gue lakuin.” dia berkata sambil tersenyum kesal. “Lo emang beneran best friend!” Abrar tersenyum. Belum juga sampai sepuluh menit ternyata Seth sudah tiba di ruangan Zeline. “Sorry gue telat, mana yang mesti gue tandatangani?” Tanyanya lagnsung setelah memasuki ruangan ini. Abrar dengan cepat memberikan berkas itu pada Seth, dia tak memeriksa isinya lagi, seperti yang biasa dia lakukan, dia hanya tandatangan saja dengan cepat sampai semuanya komplit. Setelah selesai, dia melihat ke arah Abrar, kode keras untuk meninggalkan mereka berdua. Abrar yang mengerti dengan keadaan ini membuatnya pamit pada Zeline. “Gue duluan.” Ucapnya pada Zeline dan Zeline yang daritadi tak mengeluarkan sepatah katapun akhirnya hanya menjawab dengan anggukan. Saat ini Zeline sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Seth sampai dia harus mengundurkan rapatnya. “Kau kenal dengan pria ini?” Tanya Seth tiba-tiba sambil menunjukkan ponselnya pada Zeline. Zeline yang ditunjukkan gambar itu jelas merasa kaget, apa hubungannya semuanya ini dengan gambar laki-laki yang itu salah satu nasabah besarnya juga, dia adalah Zaki! “Oh, Pak Zaki.” Jawabnya dengan santai. “Kau tahu dia sudah berkeluarga?” Tanya Seth lagi pada Zeline membuat Zeline mengerenyitkan dahinya. “Maaf Pak Seth, Saya tak bisa memberikan informasi detail tentang hal ini karena ini sudah masuk daerah personal nasabah Saya, kenapa Anda tak mencoba menanyakannya sendiri jika Anda cukup penasaran?” Zeline masih berusaha menekan rasa kesalnya, dia menjawab dengan se-elegan mungkin. “Kau gak perlu terlalu formal, aku tanya kamu tahu dia sudah berkeluarga atau belum?” Sebenarnya Zeline enggan untuk menjeaskan hal ini, karena beberapa kali saat Ifah mengajaknya untuk bertemu dengan laki-laki ini dia sangat kesal, karena Zaki ini sering sekali berkata yang tidak sopan dan juga dia suka menggoda dan juga tangannya yang genit itu berkali-kali mencoba untuk menyentuh b****g dan juga wajah Zeline. Dia sebenarnya jijik, tapi demi sesuatu itu, dia bisa sedemikian hingga menghindari tangan nakal itu, walaupun jelas saja dia berusaha sekali untuk tidak bertemu dengan laki-laki itu, dan Ifah, jangan tanya tentang hal yang lebih, Zeline tak ingin membahas hubungan Ifah dan juga dengan nasabahnya itu. Kalau menurut pengamatan Zeline Ifah yang memiliki kehidupan yang bebas ini biasa melakukan hal seperti ini. “Belum. Dia belum bekeluarga, dia orang yang sangat mapan karena usahanya saat ini sedang melesat sekali dan setahuku ekspedisimu juga bekerja sama dengannya kan?” “Kau hanya tahu hal itu saja?” Sebenarnya Seth tak yakin dengan hal ini, karena seorang Zeline bagi Seth tak mungkin tidak tahu dengan hal ini. “Iya.” Jawab Zeline tegas. “Baik kalau begitu, serahkan perjanjian kita, Aku akan tandatangan.” Ucapnya pada Zeline. “Ah … itu tertinggal dirumah.” Jawab Zeline. “Kalau begitu kita print lagi saja.” Seth berkata tak mau kalah. Zeline benar-benar sudah terlihat sangat kesal sekali saat ini, tapi lagi-lagi dia berusaha untuk menahannya. “Baik. Tunggu sebentar.” Dia lalu mengambil kertas diatas mejanya, lalu menyerahkan pada Seth. “Kau bilang tertinggal.” Seth berkata sambil menyeringai miring. “Aku lupa ternyata sudah dibawa.” Zeline berkata dengan malas. Dengan cepat Seth mengambil kertas itu dan menandatanganinya, “Ini kau juga tandatangan biar aku bisa mengambil rangkap satu ini untuk kusimpan.” Zeline tanpa membuang waktu menandatangani juga kertas itu dan sekarang mereka masing-masing memegang perjanjian itu. “Baik kalau begitu aku pulang dulu, dan kau harus ingat dengan perjanjian ini.” Ucapnya sambil menunjukkan ke udara perjanjian yang mereka buat itu. Zeline hanya mengangguk dengan malas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN