Bab 5

1205 Kata
Setelah menanda tangani surat nikah, sesi foto pun berlangsung. Fifi sahabat Sendy pun turut hadir bersama keluarganya. Awalnya gadis cantik itu kaget dengan kabar yang ia terima, tidak menyangka bahwa sahabatnya akan menikah dengan Direktur muda yang jadi buruan banyak wanita. Bahkan saat ini mereka tengah sibuk mempersiapkan ujian kelulusan, tapi Sendy justru sibuk dengan pernikahannya. Dan jangan tanya mengenai Dio, karena ketua tim basket SMA itu tidak diundang, bahkan lebih parahnya dia tidak tahu jika pacarnya menikah. “Hi, Fifi. Aku pinjam sahabat kamu dulu ya,” ucap lelaki tampan dalam balutan beskab warna putih lengkap dengan pecinya. “Silahkan, Kak Angga. Bawa aja Sendynya, kalau bisa langsung dikarungin aja. Haha...” Fifi geli sendiri melihat wajah cantik Sendy merah padam, sedangkan Angga hanya menggeleng pelan melihat kelakuan kedua orang itu. “Apaan sih, Kak?” protes Sendy saat Angga merengkuh pinggang rampingnya berjalan menuju taman belakang rumahnya. "Sayang diam dong, jangan berontak terus. Kak Angga nggak suka istri pembangkang, apalagi kalau selalu berkata kasar,” ucap Angga menghadapkan gadis yang sedang cemberut itu di hadapannya ketika telah sampai di taman. “Merinding gue..." Sendy menggosok lengannya sendiri, membuat Angga mengernyit bingung. “Kenapa? Kak Angga nggak ngerasa ada yang aneh aah sama taman rumah kamu.” “Kak Angga panggil “sayang” tuh bikin Amey tiba- tiba saja merinding,” tukasnya yang dihadiahi gelak tawa oleh Angga. “Sayang...” “Stop, Kak!” “Sayang...” “Ampun, Kak. Jangan panggil gitu lagi, gak sehat buat jantung aku. Ini rasanya udah mau meledak tau!!!” Sendy terus berjalan mundur karena Angga terus mendekat ke arahnya. “Coba sini Kak Angga pegang dadanya, mau tahu jantung kamu beneran mau meledak atau nggak?” Angga sudah siap menempatkan tangan di d**a kiri istrinya ketika gadis itu kembali mundur dan sedetik kemudian berteriak heboh. “Aaaarrrrgggghhhh...” “Dek...” teriak Angga berusaha menggenggam tangan istrinya. Namun terlambat, karena suara benda jatuh ke dalam air terdengar sangat keras. Byuuurrr... Seketika itu juga orang-orang yang sedang menikmati santapannya berhamburan keluar rumah. Mereka terkejut mendengar teriakan Sendy dan Angga, apalagi setelah melihat adegan slow motion kedua orang itu jatuh ke dalam kolam renang. Namun Bastian memberi isyarat pada orang-orang yang berada di sana untuk tidak mendekat. Ia mengatakan lebih baik melihat dan merekam apa yang akan terjadi setelahnya. Bahkan fotografer dan kameramen yang disediakan untuk mengabadikan momen sakral tadi dimintanya untuk standby, membidikkan lensa kamera pada kedua orang di dalam kolam renang. “Lo apaan sih, Bas? Kedinginan itu adek, lo,” protes Anggi ingin berjalan mendekati pengantin baru. “Sssttt... Bacot saja mulut lo, Nggi. Sudah kayak emak-emak bunting saja, lihat saja deh apa yang akan terjadi setelahnya,” gerutu Bastian menahan tangan Anggi tanpa memperdulikan raut wajah tidak suka suaminya. Akhirnya mereka semua memilih diam di tempat dan memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan di luar dugaan, Sendy justru tertawa bersamaan dengan Angga. Kedua orang itu berenang dengan menggunakan pakaian pengantin, apalagi Sendy menggunakan kebaya putih yang menerawang kulit putih mulusnya. “Makanya jangan ngebantah suami, Dek,” ucap Angga menyingkirkan sebagian rambut basah Sendy dari wajah orientalnya. “Habisnya Kak Angga sih mau bikin jantung Amey makin meledak,” protes Sendy yang mendapatkan cubitan gemas pada hidung mungilnya. Cup... Kecupan kecil mendarat di bibir mungilnya dari Angga, membuat pipinya bersemu merah dan kerja jantungnya semakin cepat. “Kenapa sih Kak Angga main ci---“ kalimatnya terputus ketika bibir lembut dan basah itu telah menyentuh bibirnya. Sendy diam tidak membalas pagutan suaminya, karena ia tidak tahu harus apa. Ia belum pernah berciuman sebelumnya dan artinya ciuman pertamanya adalah Angga. Namun lambat laun ia memejamkan mata dan melingkarkan tangan di leher lelaki yang sudah merengkuh pinggang rampingnya. Ia benar- benar menikmati ciuman pertama yang begitu terasa manis. Di tengah dinginnya air kolam renang, tubuh sepasang anak manusia yang masih saling memagut bibir ini terasa memanas. Angga melepaskan pagutannya ketika merasa pasokan oksigen tipis, ia melihat wajah cantik Sendy yang merona dan terengah. Ia tersenyum bahagia bisa mendapatkan ciuman pertama gadis kecilnya, dan ini adalah ciuman pertamanya juga. Karena selama ini tidak pernah berciuman dengan perempuan manapun yang jadi kekasihnya. “Manis...” ucapnya pelan masih di depan wajah merona Sendy. “Jangan dilihatin! Amey malu, Kak!” protes Sendy yang baru ingin melayangkan pukulan ke punggung suaminya ketika Angga kembali menghujami bibir dan wajahnya dengan kecupan. “Haha...” “Malu, Kak! Jangan diciumin begitu, Kak.” “Ya sudah, yuk kita naik. Ganti baju ya nanti sakit kalau basah-basahan begini,” ajak Angga yang sudah berenang sembari membawa tubuh istrinya ke pinggir kolam. Ia mengangkat tubuh mungil Sendy dan mendudukkannya di pinggiran kolam renang. “Kak...” panggil Sendy sembari menatap ke manik mata Angga yang tengah mengungkung tubuhnya, walau lelaki itu masih berada di dalam kolam renang. “Hmmm...” “Tadi itu ciuman pertama aku, jadi maaf kalau Sendy nggak bisa buat Kak Angga senang,” jujurnya karena ia takut ciuman kakunya membuat Angga tidak suka. “Sama, tadi juga jadi ciuman pertama Kak Angga,” ucapnya sembari tersenyum dan mengecup lembut punggung tangan Sendy. “Huh???” Sendy tidak percaya dengan apa yang ia dengar, namun hatinya terasa hangat saat mendengar kejujuran suaminya. Suaminya? Sepertinya ia mulai terbiasa menyebut lelaki di depannya sebagai suaminya. Sampai suara tepuk tangan dan teriakan heboh membuyarkan acara pandang-pandangan suami istri itu. “Ciyyeeehhhh... Lagi dong ciumannya, romantis bener mau ciuman doang sampe pake acara nyebur ke kolam renang dulu. Modus bener lo, Ngga!!!” teriak Bastian berjalan menghampiri adik dan sahabatnnya. “Bacot, lo!!!” protes Angga yang telah naik dari kolam renang dengan Sendy dalam pelukannya. “Diam deh, Ko! Kak Angga, dingin nih,” sungut Sendy pada sang kakak dan kembali memandang wajah tampan suaminya yang sama basahnya dengan dia. “Aduh, Sayang. Kenapa main basah-basahan sih? Sayang banget kan kebaya dan makeupnya. Sini pake handuk, udah Mami bawain. Kamu juga, Ngga,” Lyna menghampiri putri dan menantu barunya dengan membawa handuk bersih. Akhirnya kedua orang itu memasuki rumah dengan pakaian basah. Namun sebelumnya mereka harus pasrah menjadi obyek kamera fotografer dan keusilan Bastian. Setelahnya tubuh basah mereka benar- benar menghilang dari balik pintu kamar tidur Sendy. Blam... “Aah padahal kan gue mau liat mereka ngapain aja di dalam,” keluh Bastian dengan wajah lesu yang dibuat-buat. “Sudah deh, Bas. Kamu ini senang banget godain Amey. Ingat ya, adik kita itu sudah jadi istri orang,” Radian menepuk bahu adik laki-lakinya yang berjalan menuruni tangga setelah mendapati pintu kamar tidur adiknya tertutup. “Tapi lucu, Ko. Apalagi kalau sampai dia nangis, haha...” “Jangan digodain!” Radian memperingatkan Bastian dengan penuh penekanan. “Aaarrrggghhh...” Semua orang yang berada di dekat tangga seketika itu juga menoleh keatas, lebih tepatnya kearah kamar tidur Sendy. Sebagian terlihat heran mendengar teriakan Sendy, tapi tidak dengan Bastian yang sudah tertawa jahat. “Kamu ini, malah ketawa lagi. Itu adek kita lagi kesusahan,” Radian mendengus sebal melihat tinggah Bastian. “Dia pasti sudah lihat belalai gajahnya Angga. Haha...” Radian langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan Bastian. Ia kembali menuruni tangga, karena sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Bastian. Jadi ia memilih untuk pergi menyusul istri dan anaknya yang sedang dimonopoli oleh Maminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN