Pesta pernikahan Sendy dan Angga dilangsungkan di sebuah hotel berbintang. Para tamu cukup terkejut ketika melihat Sendy yang masih sangat muda duduk bersanding dengan Angga di pelaminan. Apalagi gadis itu terus mengerucutkan bibirnya, membuat sebagian tamu gemas melihatnya. Bahkan Angga sudah berulang kali menegur istrinya itu, terkadang ia nekat mengecup bibir Sendy sekilas untuk membuatnya menghentikan aksi merajuknya.
Salahnya tadi siang Angga lupa dengan kebiasaannya, kalau selalu berpakaian di luar kamar mandi. Jadi ia hanya keluar dengan handuk melilit sebatas pinggang, lupa kalau ada Sendy yang tidak biasa melihatnya bertelanjang d**a. Gadis itu langsung saja berteriak heboh dan semakin heboh ketika handuk yang ia lilitkan di pinggang jatuh ke lantai. Walau ia telah menggunakan boxer, tetap saja sebagian tubuhnya terlihat oleh Sendy.
“Lain kali jangan seperti itu, Kak,” protes Sendy sebisa mungkin tidak memukul lengan suaminya.
“Ya, lain kali Kakak akan perlihatkan semuanya,” kekeh Angga membuat Sendy menatapnya horror.
Semua orang di pesta menatap pasangan pengantin yang menurut mereka sangat romantis. Syukurlah tidak ada desas desus yang beredar tentang pernikahan keduanya, karena sebagian besar tahu alasan di balik pernikahan ini. Rencananya lusa kedua orang tua Sendy akan berangkat ke Amerika untuk berobat, ditemani Bastian yang sedang menyelesaikan pendidikannya di sana. Sedangkan Radian dan istrinya juga akan kembali ke Melbourne, karena pasangan suami istri itu memang menetap di sana sejak menikah.
“Wah... Adik cantiknya Koko akhirnya nikah juga. Tapi kenapa sama Angga sih?” ucap seorang lelaki berwajah oriental yang tengah menggendong bayi, disisinya ada wanita berjilbab yang terlihat anggun.
“Hwa... Ko Donny, Amey dijodohin sama Kak Angga. Padahal masih sekolah,” ucapnya sembari memeluk Donny, kakak sepupunya.
“Ko Donny ini kalau bicara selalu asal,” Angga mendengus sebal memdengar ucapan sepupu istrinya.
“Haha... Kalian ini, ternyata bukan salah jodoh kalau pada akhirnya kalian berjodoh,” kekeh Donny.
“Selamat ya, Dek. Kalian terlihat serasi dan pantas bersama,” ucap wanita cantik di sisi Donny.
“Makasih ya, Kak Abil,” ucap Sendy membalas pelukan Nabila, istri sepupunya.
“Aduh babynya lucu banget sih, Amey pengen gendong. Tapi takut...” ia meringis pada bayi dalam gendongan Donny.
“Ya sudah nanti malam kan kalian bisa buat sendiri,” kekeh Donny yang mendapat tatapan tajam dari Nabila. Sedangkan pasangan pengantin baru itu terlihat kikuk.
“Mas...” Nabila memperingatkan suaminya sembari menarik Donny turun dari pelaminan.
“Ya sudah, Mey. Ko Donny turun dulu ya, oh iya Ngga. Nanti malam pelan-pelan saja dan pintar-pintar, Sendy ujiannya masih berapa bulan lagi kan,” kekehnya mengabaikan raut wajah Sendy yang pucat sedangkan Angga tertunduk malu.
Angga dan Sendy bisa bernafas lega setelah Donny turun dari pelaminan mereka. Tidak tahu apa jadinya jika lelaki itu masih berada di sana, pastinya wajah Sendy akan menjadi semerah tomat. Gadis itu memang masih polos, tapi untuk sekedar mengerti maksud perkataan Donny ia bisa. Kakak sepupunya itu membahas tentang hati-hati agar ia tidak segera hamil, sedangkan ujian kelulusan masih lama.
Pesta semakin ramai dan kaki Sendy rasanya sudah hampir patah karena lama berdiri. Apalagi saat ini ia tengah mengenakan sepatu berhak yang membuatnya merasa tidak nyaman. Angga menyadari hal itu, ia mendekatkan wajah ke telinga istri kecilnya. Membisikkan sesuatu yang berhasil membuat pipi putihnya bersemu merah.
“Tahan sebentar lagi ya, Dek. Nanti di kamar Kak Angga pijetin kakinya,” bisik Angga.
“Ciyeeehhh... Romantis bener, sudah nggak sabar ya bro mau nyentuh Adek gue?” kekeh Bastian yang muncul di hadapan mereka berdua, membuat Sendy mendengus sebal.
Kakak kedua Sendy itu terkenal usil, walau ia yang paling cerdas di antara ketiga anak Chandra Suryatama. Bahkan Bastian tidak takut untuk mempermalukan dirinya sendiri untuk menjahili orang lain. Karena ia tahu dibalik rasa malu itu ada sebuah kebahagiaan di dalamnya, tidak perlu untuk menjaga image hanya untuk disukai orang lain. Itulah yang sering ia katakan pada keluarganya usai menjahili orang lain.
Pesta resepsi pernikahan Sendy dan Angga telah selesai, semua keluarga pun telah kembali ke kamar tidur mereka masing-masing. Karena malam ini mereka semua bermalam di hotel tempat pesta berlangsung, termasuk pengantin baru yang kini merasa canggung ditinggalkan hanya berdua di kamar hotel dengan nuansa romantic ini. Harum semerbak dari kelopak mawar merah yang bertabur diatas tempat tidur semakin menambah kesan romantic bagi keduanya. Tidak hanya Sendy yang merasa canggung dengan keadaan ini, Angga pun merasakan hal yang sama. Berbeda dengan tadi siang saat mereka hanya berdua di dalam kamar tidur Sendy, karena ia tahu banyak orang lain juga di kediaman Chandra Suryatama. Tapi ini, mereka hanya berdua di kamar hotel yang romantis.
“Bisa nggak bukanya?” tanya Angga pada Sendy yang kesulitan membuka zipper gaun pengantinnya.
“Susah, Kak,” rengek Sendy berjalan mendekat kearah Angga yang tengah duduk di tepi ranjang berukuran king size itu.
“Yakin mau Kak Angga bukain?” tanya Angga berusaha menggoda Sendy yang wajahnya tiba-tiba saja merona. Apalagi masih jelas dalam benaknya bagaimana ciuman pertamanya terjadi tadi siang, begitu lembut dan manis.
“Cepetan, Kak. Sendy udah gerah banget nih pengen mandi,” ucapnya sedikit tergagap karena gugup.
“Yaudah deh Kak Angga bantuin, tapi badannya nggak usah gemetaran gitu juga kali,” kekehnya sedikit tertahan karena melihat tubuh Sendy gemetar, mungkin gadis itu takut jika Angga aku melaukan hal yang iya iya padanya.
“Cepetan, Kak!!!” teriak Sendy frustasi karena Angga belum juga membantunya untuk membuka zipper gaun cantik berwarna navy yang ia kenakan.
“Sabar, Sayang. Udah nggak sabar aja pengen disentuh sama suami kamu yang tampan ini,” goda Angga yang semakin membuat Sendy kesal dan pipinya memerah malu.
Entah mengapa jantung Sendy terasa seperti jumpalitan tiap kali Angga memanggilnya “Sayang”, ada perasaan tidak menentu dalam dirinya. Sejak kejadian di butik tempat mereka memesan gaun pengantin waktu itu, semuanya terasa berbeda bagi Sendy. Ia melihat Angga datang dengan nafas tidak beraturan, rambut sedikit acak-acakan dan kancing teratas kemejanya telah dibuka. Sungguh Sendy terlukau dengan penampilan Angga yang seperti itu, menurutnya keren seperti bad boy idola gadis-gadis seusianya. Bahkan ia bisa melihat lengan berotot Angga yang tercetak jelas di balik kemeja yang lelaki itu kenakan. Sejak hari itu pikiran Sendy tentang lelaki yang kini jadi suaminya itu tidak pernah sama lagi.
Sebenarnya tidak hanya Sendy yang merasakan jantungnya berdetak kencang tak menentu, tapi Angga juga merasakan. Melihat Sendy mengenakan gaun dan kebaya yang akan dikenakaan saat hari pernikahan mereka membuat Angga harus menarik banyak kata- katanya untuk gadis itu. Ia bisa melihat betapa anggunnya Sendy ketika sudah menjelma sebagai pengantin.
“Dek…” panggil Angga pada Sendy yang telah berhasil ia bantu untuk melepas gaun dan hendak berjalan menuju kamar mandi.
“Yaa…” jawab Sendy sembari menghentikan langkahnya yang telah berada di depan kamar mandi dan berbalik menghadap suaminya.
“Ya sudah kamu mandi dulu aja, nanti ada yang Kak Angga mau bicarain. Mandinya pakai air hangat ya, biar hilang pegel-pegelnya,” ucap Angga tersenyum lembut pada Sendy yang tengah menatapnya bingung namun tidak menyela ucapannya.
“Siap, Boss!” Sendy meletakkan tangan kanannya di depan kening, seakan ia tengah memberi hormat pada Angga yang terkekeh geli melihat kelakuannya.
Lelah menunggu Sendy yang tak kunjung keluar dari kamar mandi membuat Angga merasa mengantuk, apalagi kakinya juga sama pegal seperti apa yang dirasakan sang istri. Tapi rasanya jauh lebih menyakitkan Sendy mungki, karena gadis itu tidak biasa mengenakan high heels dan harus menggunakannya selama lebih dari 3 jam. Perlahan Angga memejamkan matanya dengan posisi tubuh bersandar pada kepala ranjang, namun suara derit pintu terbuka membangunkannya. Gadis cantik berwajah oriental dengan rambut setengah basah tengah berjalan keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk sebatas d**a dan setengah paha. Membuat wajah Angga memerah seketika, dan ia harus berpura-pura tidur agar Sendy tidak berteriak heboh seperti tadi siang.
“Kak,” panggil Sendy setelah selesai berpakaian, karena ia ingat jika tadi Angga ingin mengatakan sesuatu padanya.
Angga mendengar panggilan Sendy, ia berusaha berpura-pura mengerjapkan mata dan bergumam pelan. Seolah-olah ia memang tengah tertidur dan berusaha untuk bangun setelah mendengar panggilan dari istri mungilnya yang sangat harum ini. Membuatnya ingin merengkuh tubuh mungil Sendy dalam pelukannya dan menenggelamkan kepala di curuk lehernya.
“Kak, tadi katanya mau bicara. Bicara apa?” tanya Sendy mendudukkan dirinya disamping tubuh Angga yang telah menghadapnya.
Angga mengambil ujung rambut Sendy yang sedikit basah, menciumnya untuk menikmati harum rambut gadis yang kini telah berstatus sebagai istrinya. Sesuatu yang ia tidak pernah bayangkan sebelumnya untuk menikah di usia 24 tahun dengan gadis SMA sejenis Sendy Buana Surytama. “Kalau Kak Angga minta hak sebagai suami kamu, apa Sendy akan kasih?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Angga, membuat Sendy terpaku di tempatnya dengan mulut terbuka. Gadis itu sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi, terlebih lagi ia tidak berani untuk bertanya. Karena sepertinya kali ini Angga serius ingin meminta haknya sebagai suami di malam pertama mereka, melihat betapa seriusnya wajah lelaki itu. Sungguh Sendy tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan suaminya ini, ia bingung dan takut.