Suasana hening yang tercipta di kamar hotel terasa semakin dingin dan sepi. Tidak ada suara yang tercipta selain deru pendingin ruangan. Gadis berwajah oriental itu masih menatap tidak percaya lelaki tampan di depannya. Sayangnya lelaki itu kini telah berstatus sebagai suaminya. Angga bertanya bagaimana jika ia meminta haknya sebagai seorang suami? Sendy bingung harus menjawab apa, karena jujur saya iya belum atau tidak pernah siap untuk melakukannya. Walau mereka kini telah berstatus sebagai suami istri, dan artinya sah-sah saja jika melakukannya.
“Kak Angga bilang apa barusan?” tanya Sendy mengerjapkan matanya berulang kali.
“Kamu ini,” Angga mendengus sebal mendengar pertanyaan Sendy, “gimana kalau saya minta hak sebagai suami kamu?” tanyanya.
“Demi apa? Telinga aku belum budek kan??? Mendadak Sendy gak denger apa-apa, aduh... Gimana dong ini?” Sendy memasukkan jari kedalam kedua telinganya, seakan-akan ia tidak bisa mendengar ucapan Angga.
Lelaki itu memutar bola matanya jengah sembari bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Membuat Sendy menatapnya bingung, karena lelaki itu tidak bicara apapun dan berlalu meninggalkannya. “Kak Angga mau ke mana?”
“Mau pipis, kenapa? Kamu mau pegangin?” goda Angga ketika sudah berada di depan pintu kamar mandi.
“Aaarrrggghhh... Kak Angga m***m!!!” teriak Sendy sembari membanting tubuhnya ke tempat tidur dan menenggelamkan tubunya ke dalam selimut.
“Pembohong! Katanya tadi gak denger suaminya ngomong apa, kamu tuh banyak alasan,” sungut Angga sembari menutup pintu kamar mandi.
Samar-samar Sendy masih bisa mendengar sungutan Angga, dalam selimut ia menghela nafas panjang. Perlahan ia mulai mengeluarkan sedikit kepalanya, mengintip ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sendy bangkit dari tempat tidur dan duduk menghadap ke depan, layar TV yang hitam karena tidak menyala. Tatapannya kosong karena pertanyaan tadi masih terngiang-ngiang di benaknya.
“Selamat... Selamat...” Sendy mengelus dadanya naik turun sebelum kembali membenamkan tubuhnya dalam selimut.
Clek...
Terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka, Angga keluar dalam keadaan tubuh dan pikiran yang lebih segar. Awalnya ia hanya ingin tidur, tapi saat memikirkan ciumannya dengan Sendy tadi siang semuanya berubah. Tiba-tiba saja ada yang bangkit dari dirinya, gelayar aneh yang ia tahu apa. Jadi ia nekat memberanikan diri bertanya pada Sendy, dan ternyata dugaannya benar. Istri kecilnya itu belum siap untuk menjalankan tugas sebagai istri yang sesungguhnya.
“Masih saja tidurnya seperti orang mati,” kekeh Angga melihat Sendy tidur dengan tubuh terlentang dan kedua tangan dilipat diatas perut.
Angga berjalan menuju koper yang tadi dibawakan oleh kembarannya. Setelah berpakaian ia memutuskan untuk merespon beberapa email dan chat dari teman- teman dekatnya yang mengucapkan selamat atas pernikahannya dan Sendy. Tak lama Angga merasa tak bisa lagi menahan kantuk dan lelahnya, ia berjalan ke tempat tidur. Dibaringkannya tubuh proposinal itu di sisi tubuh mungil Sendy yang sungguh menggemaskan ketika tidur.
“Seandainya kamu setenang ini kalau sedang bersamaku,” gumam Angga sembari memandangi wajah cantik istrinya.
“Good night, Sayang.”
Dikecupnya singkat bibir dan lama pada kening gadis cantik itu. Sendy tidak terganggu sama sekali dengan ciuman yang ia berikan. Sungguh gadis itu belum berubah, termasuk cara tidurnya yang seperti ini. Setelahnya Angga memeluk tubuh mungil Sendy dan membawanya kedalam pelukan. Ia tertidur dalam suasana hening diiringi deru nafas teratur sang istri.
Matahari pagi menyingsing gelapnya malam, cahaya jingga yang cantik menjadi latar nyanyian merdu burung-burung yang beterbangan. Seberkas cahaya mengintip dari celah tirai yang tidak tertutup rapat, menerpa wajah tampan lelaki yang tengah memeluk seorang gadis mungil. Angga mengerjapkan matanya berulang kali sebelum benar-benar membuka mata. Untuk sesaat ia hanya diam menatap sosok yang tenggelam di d**a bidangnya. Rupanya pergerakannya mengganggu tidur Sendy yang sangat pulas.
“Hmmm...” gumam gadis itu dalam pelukan suaminya.
“Bangun, Sayang. Sudah pagi, nanti kamu telat sekolahnya,” ucap Angga diatas puncak kepala Sendy.
“Sayang? Perasaan semalam gue tidur sama Kak Angga deh, bukan Dio,” gumam Sendy dengan mata terpejam yang sukses membuat Angga kesal dan melepaskan pelukannya.
“Bagus! Masih pagi, baru hari kedua jadi istriku udah berani nyebut nama cowok lain. Sen... Sen...”
Sendy terjengkit kaget, tiba-tiba saja ia terduduk di tempat tidur setelah mendengar protesan seseorang. Ia nampak berpikir sesaat sebelum membuka mata, mencoba untuk mengingat suara siapa yang didengarnya tadi. Tak berapa lama ia menepuk keningnya kencang, sampai membuat Angga yang sudah berjalan menuju kamar mandi meringis ngeri. Gadis itu sungguh bar-bar dan berani menyakiti diri sendiri.
“Kamu apaan sih? Merah kan keningnya,” Angga mendekati Sendy dan kembali duduk di atas tempat tidur, tangannya membelai lembut kening istrinya yang memerah.
“Sendy lupa kalau udah jadi istrinya Kak Angga,” cengirnya yang membuat Angga mencubit hidungnya karena gemas.
“Makanya, inget kalau sudah punya suami,” gerutu Angga karena masih kesal mendengar nama kekasih istrinya.
“Katanya gak masalah kalau kita masih ngejalin hubungan dengan pacar masing-masing. Terus kenapa Kakak protes?” Sendy menatap Angga dengan tatapan menyelidik.
“Gak boleh. Titik. Tidak terima bantahan!”
“Terus kalau Sendy gak boleh, Kak Angga boleh gitu tetep punya pacar???” tanya Sendy penuh selidik.
“Gak boleh juga, nanti Kak Angga mau putusin dia. Sudah aah... Kamu buruan mandi terus sarapan, habis itu kita kerumah kamu buat ganti baju sekolah,” Angga mengangkat tubuh mungil istrinya menuju kamar mandi.
“Curi-curi kesempatan,” gerutu Sendy.
“Kamu suka juga. Yaudah ini mau mandi sendiri atau dimandiin?” goda Angga menaik turunkan alis.
Wajah putih Sendy tiba-tiba saja merona saat digoda oleh Angga, ia masih ingat bagaimana ciuman mereka kemarin. Setelahnya tadi malam lelaki itu menanyakan haknya, dan pagi ini menggodanya untuk mandi bersama. Sungguh Sendy tidak kuat dengan semua ini, jantungnya berdegup kencang nyaris meledak. Ia memegangi d**a kirinya sembari menatap manik mata dan wajah tampan suaminya meski baru bangun tidur. Tidak ada seorang pun yang bisa memungkiri pesona seorang Angga Putra Hadinata. Termasuk gadis bar-bar dan pembangkang seperti Sendy Buana Suryatama.
“Ya udah. Aku tunggu di luar ya, Sayang,” ucap Angga mengecup pelan pipi Sendy yang semakin merona setelahnya.
“Kak Angga...!!!”
Blam...
Pintu kamar mandi tertutup setelah Sendy berteriak dengan memegangi kedua pipinya yang merona. Sungguh ia malu setelah melihat pantulan dirinya di cermin, rambutnya berantakan khas bangun tidur dan wajahnya merona merah karena perbuatan Angga. Tidak ada yang lebih memalukan selain melihat wajah sendiri yang merona merah karena seorang lelaki. Apalagi lelaki itu tampan dan idaman hampir semua wanita, dan yang lebih penting lelaki itu adalah suaminya sendiri.