Julian membawa Jasmine keluar ke halaman depan rumah dengan hati-hati. Bayi kecil itu berada dalam dekapan hangat suaminya, wajah mungilnya menghadap ke sinar matahari pagi yang menembus sela-sela pepohonan, memberi kehangatan lembut. Julian menaruh Jasmine di kursi jemur bayi yang sudah dirancang khusus untuk kenyamanan dan keamanan, memastikan posisi bayi aman. Namun, matanya segera menangkap sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya tegang. Di luar pagar rumah, dari jarak yang cukup jauh, seorang sniper sedang menatap, senjata sudah diangkat, dan pistolnya diarahkan tepat ke arah kepala Jasmine. Julian menahan napas sejenak, jantungnya berdebar kencang, dan tangannya mengepal. “Kau berani sekali,” geram Julian dalam hati, suaranya bergema lembut tapi penuh amarah yang mendidih. Dengan ce

