Farah menatap Julian dengan mata penuh kekhawatiran. Selama bertahun-tahun ia mengenal Julian, ia tahu kapan putranya itu sedang gelisah atau khawatir, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Pandangan Julian lurus ke arah luar jendela, tatapannya datar dan dingin, seperti orang yang tengah menyusun rencana besar di kepalanya. Farah mendekat, meletakkan tangan lembut di bahu Julian. “Ada apa, Julian?” tanyanya, suaranya lembut tapi tegas. Julian menoleh sebentar, matanya tetap serius. “Musuhku mengintai Ryujin dan Jasmine,” ucapnya tenang, tetapi nada suaranya mengandung ketegangan yang tersembunyi. Ia menelan napas panjang, lalu kembali menatap ke luar jendela. “Aku tidak bisa membiarkan mereka menyakiti keluarga kita.” Farah menghela napas panjang, terdengar kasar karena kekhawatiran

