"Arga." Suara lembut dan sentuhan ujung jemari Wanda pada lengannya membuat Arga segera menoleh pada gadis itu. Manik mata yang tadinya hitam kelam dan dipenuhi oleh rasa amarah perlahan menghilang. Tak secepat kilat ia dapat meredam emosinya. Namun setidaknya ia dapat merasa lebih enteng saat Wanda berada di sisinya. Mendapat sebuah ekspresi kosong dari Arga membuat Wanda mengerutkan keningnya. Ia pun bertanya, "Kamu kenapa? Kamu nggak pa-pa kan?" Perlahan gejolak dalam dadanya mulai memudar. Arga menghela napasnya yang sedari tadi tertahan dan memejamkan matanya. "Nggak pa-pa kok," sahutnya. Berbohong. Wanda tahu itu. Arga jelas-jelas berbohong. Namun gadis itu memilih untuk diam dan berpura-pura tak mengerti. Wanda jelas saja penasaran dengan maksud dan arti dari apa yang Rama kat

