"Nanti pulang jam berapa?" Wanda mengeringkan tangannya dan melepas ikatan celemek yang terpasang di pinggangnya. Tugasnya untuk mencuci piring sudah selesai. Kemudian ia menghampiri ibu yang sedang asyik membaca majalah di meja makan. "Belum tau, Bu. Emangnya kenapa?" sahut Wanda seraya mencomot sepotong apel yang ada di atas meja. Ibu berhenti membaca salah satu artikel pada majalah tersebut. Ia menatap anak gadisnya yang sudah berumur kepala dua dengan wajah datar. "Kamu hampir tiap hari ke rumah Arga terus. Hampir tiap hari juga nginap di sana. Terus kalau pulang ke rumah juga selalu larut malam. Jangan begitu... Bahaya." Wanda menggigit bibirnya. Mengerti. Ia menggeser salah satu kursi dan duduk dihadapan ibunya. "Cuma sementara aja, Bu. Nggak selamanya. Sampai Arga sembuh aja.

