Selama perjalanan pulang, Faray terus memikirkan apakah hubungannya dengan Kayna akan terus berjalan. Kata-kata Carissa memang ada benarnya, apalagi Kayna termasuk perempuan polos yang hidup di perkotaan. Kalau bukan dirinya, siapa lagi yang akan menjaga kepolosan Kayna? Akan tetapi, Faray sendiri tidak munafik jika ia juga menginginkan hal lebih dari Kayna. Ia tidak butuh perhatian lebih, karena menurutnya semua wanita itu sama saja. Namun, semua asumsi itu lama kelamaan menampar Faray dengan sendirinya, karena lelaki itu mulai menyadari bahwa dirinya memang benar-benar telah jatuh ke dalam pesona yang Kayna berikan. Gadis itu tampil apa adanya tanpa melebih-lebihkan seperti wanita yang selama ini ia temui. “Kay, gue harus apa?” lirih Faray menggeram pelan sembari memegang stir mobilnya

