Pagi-pagi sekali ponsel Devi berbunyi, segera ia raih ponselnya dan terdengan suara Nanta.
Halo Dev, maaf aku baru menghubungimu
Nggak papa, mas sibuk ya
Nggak juga sih cuman ini ngurus pengalihan kembali hotel milikku dulu yang sempat alih tangan pada sepupuku, ternyata dia berbaik hati menawarkan lagi hotel itu, karena ia melihat keuanganku berangsur pulih
Ah syukurlah mas
Kamu siap kan Dev, kita nikah lagi secara agama ya
.....
Dev, kamu masih di sana kan
Ya mas
Mau kan Dev
Iya mas
Ah aku lega, lima hari lagi aku akan menemuimu di Ubud, aku kangen sebenarnya Dev, kamu sibuk
Nggak mas
Jadi bingung ngomongnya, aku akuuu pengen segera berangkat menemuimu Dev, tapi ya ini masih menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini
Selesaikan aja dulu pekerjaan mas, biar tenang pas mas ke sini
Yah, bener, sudah dulu ya Dev, nanti aku telpon lagi
Yah mas
Devi memeluk erat ponselnya, ia bimbang menghadapi masalah ini. Di satu sisi ia tak ingin mengecewakan Ejak dan Sena, namun di sisi lain ia masih saja enggan untuk kembali bersama Ananta meski ia masih sangat mencintainya.
"Bun, Sena berangkat ya?"Sena pamit pada Devi.
"Sepagi ini mau berangkat ke cafe, bukanya kan masih lama," ujar Devi.
"Nggak papa, sambil nyiapin bahan masakan, eh bun ayah telpon nggak sih, ayah sibuk banget sampe Sena nelpon nggak diangkat," ujar Sena.
"He'eh dia ngurus kepemilikan hotelnya Sena, sepupunya menawarkan kembali pada ayahmu yang sempat diambil alih karena masalah keuangan dulu," sahut Devi.
"Ah syukurlah bun, Sena berangkat ya bun," Sena pamit, mencium punggung tangan bundanya dan berlalu menuju motornya.
****
"Abang pagi banget berangkatnya bun, trus pulangnya malem banget," ujar Ejak saat mereka sarapan bertiga.
"Iya, tadi malam juga, jam satu baru nyampe rumah, bunda yang bukain pintu," sahut Devi.
Livia diam saja tak menyahut, ia merasa jika Sena seperti menghindarinya. Livia hanya merasa ada yang aneh dengan perubahan Sena.
****
Selesai sarapan Livia pamit pada Devi karena ada janji dengan temannya.
"Iyah, hati-hati Livia sayang," ujar Devi melambaikan tangan pada Devi.
****
"Maaf, bisa bertemu mas Sena?" tanya Livia pada seorang pramusaji di cafe tempat Sena bekerja.
"Oh ya, bentar ya, eh iya, siapanya si Sena ya?" tanya orang itu.
"Saya adiknya," jawab Livia. Agak lama menunggu, akhirnya Sena muncul dan berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar.
"Ada perlu apa, adik kecil?" tanya Sena mengacak rambut Livi sambil tetap berdiri. Livia menatap Sena tanpa senyum.
"Kenapa mas seperti menghindari Livi, berangkat pagi sekali dan pulang saat larut malam, salah Livi apa ke mas, apa karena mas melihat mas Ejak mencium Livi, lalu mas jadi marah gini, mas Sena beneran suka Livi kan?" tanya Livia menatap wajah Sena yang masih saja tersenyum ke arahnya.
"Kamu tahu adik manis, mengapa kakak berangkat pagi karena di sini tenaga terbatas, pagi setelah bahan-bahan yang dipesan datang, mas bantuin menyiapkannya agar saat orderan datang kami para koki tinggal ambil aja, ini bukan cafe besar yang banyak karyawannya, aku bantuin teman kayak gini karena dia tulang punggung keluarga, dan mengenai ciumanmu dan Ejak nggak ada hubungannya sama mas dan nggak ngaruh, cintai adikku dengan tulus Livia, tak tak bisa membayangkan sakitnya dia jika kamu menyia-nyiakannya, dia orang baik, sabar, nggak kayak mas yang angin-anginan, aku mencintai kalian berdua dan berharap huhungan kalian bisa berlanjut, udah dulu ya, itu ada pengunjung datang, mas mau kerja," Sena mencium ujung kepala Livi dan melangkah menuju pantry.
Sampai di sana ia menyentuhkan keningnya ke dinding dan memegang dadanya, menghela napas berat dan kembali ke posisinya.
****
Devi sedang berada di toko rotinya saat seorang pegawainya mengetuk ruang kerjanya dan mengatakan jika ada tamu. Devi mengangguk dan melangkah ke luar.
Seketika badannya menegang saat tahu Victor yang menunggu di sana.
"Ada apa lagi, aku sudah cukup tidak punya muka pada anakku dan kamu masih saja menemuiki?" tanya Devi tanpa senyum, ia melihat wajah putus asa di depannya.
"Dev, aku mencintaimu, sangat, kamu tahu itukan, tidak adakah kesempatan bagiku?" tanya Victor dengan suara yang sengaja ia tekan serendah mungkin.
Devi menggeleng dan terlihat wajah kecewa di depannya.
"Aku tahu kamu hanya bingung karena suamimu yang tiba-tiba muncul," ujar Victor lagi dan tangannya mulai meraih jemari Devi.
"Nggak Victor, ternyata aku masih sangat mencintainya," sahut Devi pelan.
"Saat dia berada di dekatku, aku merasakan hal lain yang tidak aku rasakan saat aku berada di dekat laki-laki lain debaran yang hanya aku rasakaan saat dia berada di dekatku, eeemmm kami akan menikah lagi secara agama Victor dalam waktu dekat," ujar Devi lagi.
Devi melihat mata Victor berkaca-kaca.
"Aku akan Benar-benar kehilanganmu Dev," terlihat wajah putus asa Victor.
"Aku menyukaimu Vic, sebagai teman kamu sangat menyenangkan, berada di dekatmu aku merasa nyaman dan aman, tapi aku tidak pernah mencintaimu," ujar Devi perlahan menarik tangannya.
Victor menggeleng dan menunduk, Devi menjadi iba dan akhirnya meraih tangan Victor.
"Aku akan siap kapanpun kau butuh bantuanku, aku akan ada di sisimu sebagai teman," ujar Devi berusaha membuat Victor menerima keputusannya.
Akhirnya Devi mengantarkan Victor sampai pintu depan toko rotinya. Sebelum melangkah menjauh Victor berbalik sekali lagi dan memeluk Devi sambil berbisik.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, jika suatu saat kau butuh aku, telpon aku, aku akan segera terbang ke sisimu," ujar Victor dengan suara parau dan melepas pelukannya lalu melangkah meninggalkan Devi tanpa menoleh lagi.
Devi menatap punggung Victor yang berjalan menjauh, tiba-tiba ada sisi hatinya yang kosong menatap orang yang selama ini menemaninya di saat ia terkadang jenuh dengan rutinitas yang ia jalani.
Devi berbalik, melangkah menuju ruangannya, duduk di kursi dan bersandar sambil memejamkan matanya.
Terima kasih telah menjadi teman terbaik Victor, maafkan aku yang tak bisa membalas cintamu..
****
Malam sekitar jam setengah satu Sena baru sampai rumahnya, menuntun perlahan motornya menuju garasi yang tembus dengan taman sampimg, ia melihat Ejak dan Livia yang duduk berdua, tangan Ejak melingkar di bahu Livi dan sesekali Ejak mencium ujung kepala Livia.
Perlahan senyum Sena mengembamg, meski ia sadar dadanya tiba-tiba terasa sakit. Ia berjalan perlahan melalui pintu depan dan segera menuju kamarnya, mandi dan bergegas tidur.
****
Ejak membuka pintu kamarnya dan kaget menemukan Sena yang telah tidur nyenyak.
Ia pandangi wajah abangnya, ada gurat kelelahan di wajahnya. Ejak merasa bersalah. Ia mengambil ransel yang telah ia siapkan. Menutup kembali pintu kamarnya dan menuju kamar bundanya.
"Bunda, Ejak berangkat ya," Ejak mengusap lengan bundanya dan Devi segera duduk lalu memeluk Ejak.
"Hati-hati ya Jak," Devi memeluk Ejak dan mengantarnya sampai pagar depan.
Setelah menutup pintu pagar Devi masuk menuju ruang tamu dan menemukan Sena yang berdiri menatap bundanya dengan wajah penuh tanya.
"Ejak mau ke mana bun?"
****