"Ejak menemui ayahmu Sena, sebenarnya kamupun di suru ke sana, tapi menurut ayahmu, kamu ditelpon bolak-balik tidak diangkat, tapi nggak papa biar Ejak duluan kebetulan dokumen yang Ejak selesai duluan," ujar Devi dan Sena terbelalak kaget.
"Oh ya, waduh paling Sena keasikan di cafe bun, emang ada apa ya bun?" tanya Sena.
"Hotel yang baru diserahkan lagi kepemilikannya itu akan diberikan pada Ejak oleh ayahmu, sedangkan yang dipegang ayahmu sekarang akan diserahkan padamu, lalu yang satunya lagi milik adik ayahmu yang saat ini entah ada di mana," ujar Devi menjelaskan.
"Oooh, tapi kok diserahkan ke kami sekarang sih bun, kami kan masih berkonsentrasi kuliah," ujar Sena.
"Entahlah Sena, kata ayahmu agar secara hukum sah jadi milik kalian," jawab Devi.
"Ejak paling dua hari di Jogja, lusa sudah di sini dia, kalau ayahmu telpon lagi, angkat ya sayang," ujar Devi dan Sena mengangguk.
Saat Devi masuk ke kamarnya ia mengekor dan ikut merebahkan diri di kasur, Devi mulai memejamkan matanya.
"Kok tidur di sini Sena?" tanya Devi.
"Biarin lah buuun Sena kangen bunda, sejak kerja di cafe jadi jarang lihat bunda," sahut Sena tertawa geli.
"Alah alasan kamu, paling biar nggak ketemu Livi di belakang sana," ujar Devi sambil tersenyum.
Terdengar tawa pelan Sena, dan memilih memejamkan matanya.
****
Pagi hari Livi kaget Sena masih di rumah meski jam menunjukkan angka delapan, karena biasanya jam setengah enam dia sudah berangkat.
"Tumben masih belum berangkat mas?" tanya Livia dan Sena tersenyum.
"Ini sudah mau berangkat, mau ikut adik sayang?" tanya Sena meraih tas ranselnya. Livia cemberut dan menggeleng.
Sena melangkah menuju kamar bundanya untuk pamit dan terlihat setelahnya menuju motornya.
****
Ejak berada di ruang kerja Ananta dan terlihat juga beberapa orang di sana. Mereka terlihat menyodorkan beberapa dokumen, Ananta membacanya dan mengangguk puas, lalu menyodorkan pada Ejak untuk ditanda tangani.
Sebelum tanda tangan Ejak sempat membaca poin-poin yang ada di sana dan tak lama iapun tanda tangan.
Setelah semua selesai pihak dari notaris segera bersalaman dengan Ananta dan Ejak lalu ke luar dari ruangan itu.
"Selesai sudah Jak, hotel itu resmi mejadi milikmu, jika kamu mau sekarang ayah bawa ke sana, akan ayah kenalkan kamu sebagai pemilik baru kepada seluruh karyawan hotel itu," ujar Ananta.
"Terserah ayah, Ejak nurut aja," sahut Ejak pelan.
****
Selama perjalanan Ejak diam saja menatap lurus ke jalan.
Ananta terkadang merasa kikuk jika berdua dengan Ejak karena Ejak lebih banyak diam, tidak seperti Sena yang selalu punya bahan pembicaraan.
"Bunda baik-baik saja Jak?" tanya Ananta.
"Iya ayah," jawaban pendek Ejak.
"Eeemmm nggak ada yang gangguin bunda?" tanya Nanta lagi.
"Ada sih, tapi sudah Ejak bilang ke bule Jerman itu biar nggak gangguin bunda lagi?" sahut Ejak dan Ananta kaget.
Setelah sampai di hotel Ananta segera menuju ruang meeting dan bertemu dengan beberapa manajer hotel, Ananta mengenalkan Ejak sebagai pemilik baru, sekaligus ia kenalkan juga bahwa Ejak adalah anaknya.
Beberapa karyawan yang merupakan kerabat Ananta terlihat terkejut, karena mereka tahu betul cerita dibalik tidak menikahnya lagi Ananta sampai saat ini.
"Anta Reja ini anak saya, yang alhamdulillah masih diijinkan Allah untuk bertemu saya lagi, sementara saudara kembarnya Anta Sena in shaa Allah akan segera datang juga ke kota ini, terima kasih bapak ibu sudah meluangkan waktu, silakan untuk bekerja kembali, maaf telah menyita waktunya," ujar Ananta dan terlihat masih duduk dengan Ejak di ruang meeting sementara yang lain sudah ke luar dari ruangan itu.
"Ayo Ejak keliling hotel ini sambil menyapa karyawan yang lain," ajak Ananta Ejak mengangguk dan mengekor Ananta ke mana saja ayahnya berjalan.
"Eeemmm ngomong-ngomong bule Jerman itu gimana Jak, mengapa kamu yakin ia tidak akan menganggu bundamu lagi?" tanya Ananta.
"Bunda sudah mengaskan bahwa dia nggak bisa nerima bule itu, karena akan menikah kembali dengan ayah secara agama dalam waktu dekat, bunda cerita dengan lengkap kok yah, bule itu kayak sedih banget kata bunda, memang gimana ya yah, bule Jerman itu baik sih sebenarnya, malah maaf ya yah, sejak awal sering nemuin bunda, Sena dan Ejak sebenarnya setuju jika dia pilihan bunda, orangnya baik, lembut, tapi begitu kami menemukan ayah lagi, ya kami lebih berharap ayah sama bunda balikan," ujar Ejak dan Ananta mengangguk sambil mengangguk-angguk.
"Banyak yang suka sama bunda kamu Jak?" tanya Ananta.
"Yaaa lumayanlah yah, kan bunda cantik, dan dia wanita mandiri yang gigih, meski banyak yang suka, bunda tetap setia sama ayah, nggak pernah dia terlihat ngeladenin laki-laki yang menyukainya, kecuali bule Jerman itu yang sangat sering ke rumah dulu," ujar Ejak lagi.
"Ejak lebih memilih bule itu atau ayah yang mendampingi bunda?" tanya Ananta menatap wajah Ejak yang terlihat kaget.
" Ejak dan bang Sena ditakdirkan jadi anak ayah dan bunda, kami tidak bisa memilih kami akan menjadi anak siapa, apapun keadaannya, bagaimanapun jalannya takdir Ejak dan abang, kami bersyukur ayah, dan kami tetap lebih memilih ayah," ujar Ejak dan mata Ananta berkaca-kaca, sekali lagi ia kagum pada Devi yang telah membuat keduanya anaknya pandai bersyukur.
"Ayah kawatir juga Jak, bundamu sebenarnya mau nggak sih balik ke ayah, kayaknya dia masih ragu," ujar Ananta.
"Ejak nggak bisa memastikan itu yah, kalau cinta sih pastinya bunda sangat mencintai ayah, kalau bunda ragu duh Ejak nggak tahu kayaknya yah karena bunda lebih sering cerita ke abang daripada Ejak," sahut Ejak menatap wajah ayahnya yang terlihat bimbang.
"Mungkin, bunda takut nenek masih nggak mau nerima bunda, mungkin loh yah," ujar Ejak lagi dan Nanta terdengar mendesah pelan.
"Ayah memahami kalau itu alasannya, bundamu trauma Jak, dan ayah tidak ada di sisinya saat ia mengalami siksaan itu," wajah Nanta terlihat sedih.
"Ayah nggak usah sedih, ajak bunda bicara pelan-pelan yah, kalau beneran bunda cinta sama ayah, Ejak yakin meski jalannya sulit bunda pasti mau," ujar Ejak dan senyum Ananta semakin lebar.
****
Sore hari Ananta mengajak Ejak ke rumah ibunya lagi, dan lagi-lagi ibu Ananta menanyakan Devi.
"Mana istrimu Nanta, apakah ia masih tidak menerima maaf ibu?" suara lemah ibunya membuat Ananta semakin sedih.
"Iya ibu, akan segera saya bawa Devi ke sini," ujar Ananta, Ejak melihat wajah ayahnya yang hampir menangis.
"Ibu tidak tahu usia ibu sampai kapan, ibu ingin minta maaf sebelum ibu dipanggil yang kuasa Nanta," sahut ibunya lagi.
"Iya ibu, pasti akan Nanta bawa menemui ibu, tidak akan lama lagi," ujar Nanta mencoba meyakinkan," sahut Nanta sambil memegang tangan ibunya.
Tiba-tiba Ananta dan Ejak dikagetkan dengan datangnya wanita yang tiba-tiba masuk ke kamar ibunya, membawa berbagai macam makanan.
"Siapa Nanta, sepertinya ada tamu?" tanya ibu Ananta.
"Saya ibu, seperti biasa, saya akan menemani ibu di sini?" ujarnya tanpa sungkan tiba-tiba duduk di samping ibu Ananta dan menciumi pipi wanita lemah itu.
"Oh kamu Miranda, ibu pikir siapa, tapi mungkin lebih baik kamu pulang saja, toh sudah ada Ananta sama cucuku, aku tidak ingin rame lagi, seperti yang kapan hari suamimu marah-marah, ibu jadi tidak enak," ujar ibu Ananta mengingatkan.
"Oh jadi kamu berbohong padaku, yang mengatakan sudah berpisah dengan suamimu, dan kamu masih mendekatiku, benar-benar beruntung dulu aku menolak dijodohkan denganmu, sudah punya suami masih saja berani mendekatiku lagi," ujar Ananta dengan suara yang ditekan senormal mungkin.
Miranda menjadi salah tingkah, namun segera ia menatap Ananta dengan sinis.
"Dia ke sini hanya menjemputku karena masalah anak, kami sudah tidak pernah bertemu, dan lagi tidak usah membuat alasan macam-macam harusnya kau bersyukur ibumu aku jaga," ujarnya lagi.
"Kami tidak memintamu menjaga ibu,seorang yu Jamirah sudah lebih dari cukup, kamu hanya duduk saja, sementara yu Jamirah melakukan semuanya untuk ibu, jadi pulanglah, kamu tidak dikehendaki di sini, jangan pernah kembali," ujar Ananta dengan napas yang mulai cepat.
"Benar-benar tak tahu terima kasih, kamu sendiri tak merawat ibumu," ujarnya marah sambil meraih tasnya dan bergegas ke luar.
Setelah wanita itu ke luar Ananta mendekati ibunya lagi.
"Suruh dia pulang ibu jika dia ke sini lagi," pinta Ananta.
"Aku sudah berkali-kali menyuruhnya pulang, dia di sini malah menggangu waktu tidur ibu, diaa, dia masih menyukaimu Nanta, bolak balik bilang akan bercerai dari suaminya dan akan menikah denganmu," ujar ibu Ananta sambil menghela napas.
"Saya akan kembali dengan Devi ibu, in shaa Allah dalam waktu dekat ia akan saya bawa ke sini, meminta restu ibu agar jalan kami semakin dimudahkan," ujar Ananta dan ibunya terlihat mengangguk lemah.
"Bawalah ke sini, aku akan meminta maafnya," ujar wanita tua itu sambil meneteskan air mata.
"Tuan, ada tamu di depan, kayaknya anak Tuan Nanta yang satunya, sama wanita nggak tahu siapa, " yu Jamirah tiba-tiba mengagetkan Ejak dan Ananta.
"Abang ayah, sama siapa ya, masa sama Livia," wajah Ejak tiba-tiba berubah.
"Iya, kita ke depan dulu yuk Jak, kami tinggal dulu ya ibu," ujar Ananta melangkah menuju pintu depan diikuti oleh Ejak...
****