#22

1449 Kata
"Devi, Sena," suara kaget Ananta yang selanjutnya melangkah cepat dan menghambur memeluk wanita yang tak di sangka-sangka akhirnya menemuinya di rumah yang dulu memberinya kenangan manis sekaligus melemparkannya ke rasa sakit yang tersisa sampai hari ini. "Akhirnya,  terima kasih Dev,  kamu mau datang," suara parau Ananta terdengar menahan tangis. Sena dan Ejak menatap keduanya dengan tatapan sedih karena ayahnya yang matanya memerah dan Devi yang terlihat bingung. "Ayo Devi, Sena, Ejak kita masuk," ujar Ananta menggenggam tangan Devi menuju kamar yang ditempati ibunya. Sejak awal masuk ke rumah yang dulu pernah sangat megah ini banyak hal yang mengagetkan Devi, mulai dari perubahan fisik rumah yang tak terawat,  lalu saat masuk ke ruang tamu, menuju ruang keluarga banyak barang-barang yang sudah tidak pada tempatnya entah ke mana, jam besar peninggalan leluhur Ananta yang berada di pojok ruang tamu tidak ada lagi,  lalu dua guci besar yang berada di bawah foto keluarga Anantapun tidak ada. Yang tersisa hanya satu set kursi di ruang tamu dan lemari besar yang isinyapun banyak berkurang. Tidak mungkin rasanya jika barang-barang tersebut terjual mengingat keluarga Ananta adalah keluarga yang sangat kaya saat Devi masih berada di rumah itu dulu. "Ayo masuk sayang, itu ibu," ujar Ananta pelan di mulut pintu. Keterkejutan Devi semakin bertambah, saat melihat kondisi ibu mertuanya yang berbeda jauh dari dua puluh tahun lalu, tubuh tinggi besar, gemuk dengan rambut tertata rapi dan wajah menakutkan berganti menjadi wanita ringkih,  lemah dan tergolek tak berdaya di kasur, berselimut sampai ke d**a dengan mata terpejam. Hidung Devi menangkap bau minyak kayu putih saat ia mulai melangkah masuk ke kamar ibu mertuanya. Devi melangkah pelan mendekati ibu mertuanya yang terlihat tipis badannya dalam kondisi berbaring seperti itu. "Ibuuu, ibuuu..ini Devi ibuuu," suara pelan Ananta membuat wanita tua lemah itu membuka matanya mencari asal suara dan matanya bergerak-gerak menatap siapa saja yang ada di dalam kamar. "Apa Nanta ibu tidak mendengar?" ucapnya lemah. "Ini Devi, ibu, ibu kan bertanya mana Devi, ini ada di dekat ibu," ujar Ananta dan Devi duduk di dekat ibu mertuanya. "Mana Nanta,  sini,  sini Devi, peluk ibu, peluk ibu Devi," tangisan lirih mulai terdengar dari wanita tua yang suaranya pun terdengar lemah, dengan ragu Devi memeluk tanpa bersuara. "Maafkan ibu,  maafkan ibu jika dulu telah membuatmu merasakan derita, ibu marah,  marah padamu nak karena membuat Ananta berani menentangku, sejak kecil ia anak yang patuh,  namun sejak mengenalmu ia jadi berani menolak permintaanku, berani melawanku, bahkan saat kau pergipun ia semakin berani pada ibu, awal-awal kau pergipun ibu masih sangat membencimu sebagai pendatang sial di keluarga kami,  karena sejak kau hadir dalam hidup kami,  kami jadi penuh masalah, tapi,  tapi sejak penyakit ini menggerogoti ibu,  ibu jadi sadar bahwa ini semua karena hati dan pikiran ibu yang selalu berpikir buruk padamu hingga berbalik pada ibu semua keburukan itu,  Allah memberikan penyakit ini untuk menyadarkan ibu,  bahwa semua perbuatan buruk akan kembali pada kita,  maafkan ibu,  maafkan ibu yang telah memisahkanmu dengan Ananta, maafkan ibu yang telah membuat anakmu tumbuh tanpa ayah," wanita tua itu semakin lemah napasnya terlihat tersenggal dan yu Jamirah segera datang,  memasangkan alat bantu pernapasan seperti yang diajarkan perawat yang dua hari sekali datang memeriksa nyonya besarnya. "Nyonya jangan bicara banyak dulu tuan, kawatir jadi sesak gini," ujar yu Jamirah menjelaskan dengan sopan dan membungkuk-bungkukkan badannya. Setelah tenang wanita tua itu kembali menatap Devi,  seolah menunggu menantunya berbicara, Devi hanya menunduk dan perlahan suaranya mulai ke luar. "Semua penderitaan Devi juga takdir dari Allah ibu, jika saya tidak menerima takdir itu,  anak-anak tidak akan sesehat seperti sekarang ini, saya memaafkan semuanya yang telah membuat hidup saya sulit, saya tidak ingin hidup saya jadi terbebani kalau menyimpan dendam." Air mata kembali menetes dari ibu Ananta ia mengusap dadanya perlahan seolah berusaha menenangkan hatinya sendiri. "Terima kasih Devi," ujarnya pelan. "Kami mohon restu ibu,  kami akan menikah kembali secara agama," pinta Ananta menatap wajah ibunya dari dekat. "Yah, iyah ibu merestui kalian,  semoga tidak ada halangan apapun dalam menjalani hidup kedepannya," ucap ibu Ananta lirih lalu memejamkan matanya dan air matanya mengalir. **** Devi memutuskan untuk tinggal di rumah ibu mertuanya, walau bagaimanapun ia masih istri Ananta karena ia tidak pernah dicerai secara hukum, sore hari biasanya yu Jamirah yang membasuh tubuh ringkih itu dengan air hangat,  kini Devi yang melakukan itu. Dengan lembut ia mengusap ibu mertuanya dengan kain yang dibasuhkan pada air hangat,  setelah selesai ia keringkan dengan handuk yang lembut,  lalu mengusap seluruh badan dengan minyak kayu putih agar hangat,  lalu mulai memasangkan baju ibu mertuanya dan memberikan bedak tipis-tipis tanpa sadar Devi tersenyum dan menyelimuti ibu mertuanya sampai d**a, akhirnya Devi memantapkan hatinya akan bersedia menikah lagi secara agama dengan Ananta, merawat ibu mertuanya adalah kewajibannya sebagai istri dari Ananta, meski mungkin ia tidak bisa selalu berada di sisi ibu mertuanya namun setidaknya ia akan merawatnya jika ia berada di Jogja. "Ibu mau minum teh hangat sama roti?" tanya Devi,  ibu mertuanya hanya mengangguk lemah, air mata kembali membasahi pipinya,  menyesali mengapa ia terlambat menyadari bahwa menantunya adalah pilihan terbaik dalam hidup anaknya. Perlahan Devi menyuapkan roti ke mulut ibu mertuanya dan sekali-sekali teh hangat ia minumkan,  bantal sudah Devi susun agak tinggi, dengan bantuan Ananta ia posisikan ibu mertuanya agar bisa sedikit duduk. "Kamu berapa hari di sini Dev,  ibu mau kamu yang merawat ibu?" pertanyaan yang membuat Devi dan Ananta bingung menjawab. "Eeemmm begini ibu, di Ubud, Devi punya dua toko roti yang ia kelola, jadi Devi tidak bisa lama-lama di sini, juga Ejak dan Sena harus segera kembali karena tak lama lagi mereka mulai aktif berkuliah di Denpasar," ujar Ananta berusaha menjelaskan. "Eh anu ibu,  tidak apa-apa Devi di sini tiga empat hari, kalau lebih dari itu,  saya kasihan pada anak angkat saya, dia perempuan,  dia sendirian di sana," sahut Devi dengan bingung. Terlihat wajah kecewa ibu mertuanya, dan memandang Devi seolah memohon. "Katanya kalian akan berkumpul lagi lalu bagaimana kalau seperti itu,  apakah kalian akan sendiri-sendiri?" tanya ibu Ananta. "Itu akan saya pikirkan ibu,  mungkin untuk sementara saya bergantian dengan Devi saling mengunjungi, karena kami kan punya usaha yang harus kami kelola dan tidak mungkin terlalu lama meninggalkan tanggung jawab kami, ibu," ujar Ananta. **** Akhirnya Ananta dan Devi sepakat melaksanakan pernikahan mereka secara agama lagi di rumah orang tua Ananta, orang tua ringkih itu berharap ia dapat melihat sekali lagi bagaimana anaknya mengucapkan janji mengambil alih tanggung jawab dipundaknya untuk seorang yang ia cintai. Dua hari kemudian seperti yang telah direncanakan Ananta akan melaksanakan ijab kabul lagi, yang akan menikahkan mereka adalah imam mesjid di kota kelahiran Ananta, hanya sedikit saja yang hadir, keluarga Ananta yang rumahnya tidak jauh dari rumah Ananta juga diundang,  ketua RT di kampung itu juga turut hadir, bahkan Livia didatangkan juga agar ikut merasakan kebahagiaan ayah dan bunda angkatnya. Pagi itu sekitar jam 9 pagi acara dilaksanakan dengan hikmat, setelah acara berlangsung nampak ibu Ananta yang tiba-tiba menangis tiada henti,  meminta maaf berkali-kali pada menantunya dan memeluknya dengan erat. Sena dan Ejak terlihat bahagia setelah acara itu usai namun sedih melihat neneknya yang menangis agak lama. Devi menenangkan sambil memeluk ibu mertuanya lalu menatap wajah yang tirus karena sakit. "Terima kasih kau masih mau memaafkan ibu, ibu lega sekarang,  sendainya saat ini nyawa ibu dicabut ibu akan ikhlas Dev,  karena keinginan ibu meminta maaf padamu sudah terkabul," suara lirih ibu mertuanya membuat Devi terenyuh. "Ibuuu,  Devi memaafkan ibu sejak lama, ibu jangan berpikir yang tidak-tidak ibu harus sehat, harus tenang, karena penyakit ibu sangat bergantung pada apa yang ibu pikir,  bagaimana ibu mau sembuh jika ibu terus berpikir hal yang berat,  tensi ibu tidak kunjung normal," ujar Devi mengusap rambut perak ibu mertuanya. Wanita tua itu hanya mengangguk dan kembali air matanya berlelehan. **** Sekitar jam dua belas siang,  para tamu sudah tidak nampak lagi. Keadaann rumah kembali seperti sedia kala, terlihat Sena dan Ejak yang membersihkan rumah,  sementara petugas katering sudah pulang sejak tadi. Livia juga membantu mengembalikan kursi dan beberapa pajangan yang tidak banyak kembali pada tempatnya. Setelah selesai mereka terlihat puas meski keringat berlelehan. **** Sekitar sore hari, Sena,  Ejak dan Livia tiba-tiba menemui Devi dan Ananta yang menemani neneknya di kamar. "Ayah,  bunda,  biar kami yang akan menjaga nenek malam ini, ayah dan bunda sudah kami siapkan kamar yang sudah kami hias, meski mungkin tidak sesuai keinginan ayah dan bunda,  di suite room,  hotelnya Ejak, ya Jak, dan jangan sampai ayah dan bunda menolak, karena kami capek bener nyiapkannya," ujar Sena cengar-cengir,  sementara wajah Ananta dan Devi memerah menahan malu. Saat Devi akan membuka mulut Sena bersuara lagi. "Eeeiiittt tidak ada protes bundaaa, mari silakan ke luar,  mobil sudah menjemput,  dan silakan pamit pada nenek," ujar Sena membungkuk menyilakan keduanya. "Mas, gimana ini?" Devi memandang suaminya dengan bingung, sementara Ananta tersenyum semakin lebar. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN