Devi tertegun mengamati kamar yang ia masuki dan menggeleng pelan. Dan tersadar saat Ananta memeluknya dari belakang dan Devi berusaha melepaskan tangan Ananta.
"Mas kita bukan anak muda lagi, rasanya aneh kayak gini, kamar di hias penuh bunga, ada lilin aroma terapi, cahaya yang redup-redup duh sudah nggak jaman deh mas," ujar Devi jengah dan Ananta semakin mengeratkan pelukannya, menciumi pipi dan turun ke leher Devi, badan Devi serasa meremang, ia berbalik menatap suaminya, menatap dengan wajah takut-takut.
"Harus sekarang?" tanya Devi dan Ananta mengangguk lalu meraih kotak berwarna gold ia serahkan pada Devi.
"Ada yang lupa, ini dari Sena, untukmu, aku diberi parfum tadi, suru pakai pas aku mau berangkat ke sini, bukalah," ujar Ananta. Menemani istrinya duduk di pinggir kasur dan Devi memekik kaget lalu menggeleng dengan keras.
"Senaaa, Sena, awas kamu nanti ya, nggak mas, nggak, aku nggak mau make, lihat aja geli," ujar Devi mengedikkan bahunya. Dan Ananta tertawa saat melihat lingeri warna hitam juga ada parfum di sana, ada secarik kertas ia baca lalu ekspresi wajah Devi terlihat gemas.
"Apa kata Sena, Dev?" tanya Ananta yang mulai membuka kaosnya, terlihat badan kekar Ananta di usianya yang sudah tidak muda lagi badannya tetap terjaga dengan baik, Devi memalingkan wajahnya dan memunggungi Ananta.
"Bacalah sendiri, anak nakal, aku jewer nanti,"Devi jadi serba salah dan dia tak tahu harus bagaimana hanya bangkit dan membuka travel bag mungil, mengambil baju kebesarannya, celana pendek dan kaos tanpa lengan.
Ananta tersenyum lebar membaca tulisan tangan Sena.
Bundaaa, kado Sena harus dipakai ya, Sena mohon, ini harganya nggak murah, bener, senengin ayah ya bun, trus parfumnya semprotin di tempat-tempat yang sekiranya ntar dicium ayah, please buuun ya yaaa..
Ananta masih bertelanjang d**a saat Devi ke luar dari kamar mandi, hanya menggunakan baju kebesarannya itu.
"Mas pakai baju dong, ntar masuk angin," ujar Devi bingung dan Ananta malah merebahkan diri di kasur besar itu.
"Nggak usah toh nanti nggak dipakai juga," ujar Ananta pelan dan Devi terkejut, perlahan ia duduk di kasur dekat Ananta yang berbaring, tersenyum menatap suaminya yang banyak berubah.
"Banyak hal berubah pada mas, mas dulu pemalu, lebih banyak diam, dan nggak pernah ngomong aneh-aneh, malam pertama kita dulu, malah aku yang duluan nyerang mas, eh sekarang mas lebih berani memulai, nggak pake baju gitu di depanku, dulu hmm bisa merah kuning hijau tuh wajah kalau aku yang buka baju di depan mas, jauh dari aku dua puluh tahun, sudah berapa wanita yang mas ajak...," belum selesai Devi berbicara, Ananta meraih Devi dan menempatkan badan istrinya di atasnya.
"Kamu cemburu Dev, memang aku akui, iya, tapi aku selalu memilih bermain aman, dan tidak terlalu sering, aku jadi bosan juga karena yang aku sebut saat seperti itu hanya namamu, ada satu orang yang sepertinya benar-benar menyukaiku, dia tak peduli meski aku menyebut namamu, tapi aku tidak menyukainya karena ia jadi terlalu mengaturku, lalu setelah aku jujur gini, apa kamu jadi jijik, tidak mau menyentuhku," wajah Ananta terlihat cemas, Devi menatap Ananta dan perlahan merebahkan kepalanya di d**a Ananta, membiarkan badannya berada di atas suaminya.
"Nggak, aku nggak cemburu, aku maklum kok mas, mas laki-laki, perlu pelepasan untuk itu, aku hanya kaget saja," ujar Devi dan merasakan lagi badannya yang meremang saat tangan Ananta tiba-tiba menarik kaos tanpa lengannya melewati kepalanya dan mengangkat badan Devi hingga wajahnya sejajar dengan Ananta.
Ananta tersenyum, mengulum bibir Devi perlahan dan Devi hanya mendesis pelan saat tangan Ananta meremas dadanya dan memainkan ujungnya lalu menarik dengan kasar.
"Mas, ssshhhh" suara Devi tertahan, ia benar-benar menemukan Ananta yang lain disaat seperti itu.
"Sakit?"tanya Ananta dan Devi mengangguk, membiarkan Ananta membalik badannya hingga ia berada di bawah, lalu merasakan celana pendeknya yang ditarik Ananta turun melewati kakinya, Ananta tersenyum lebar dan membuka celananya.
Lalu perlahan mendekati Devi, membuka lebar paha istrinya.
"Bukan cuma aku yang berubah, kamu juga, baru kali ini, aku melihat mu tidak menggunakan apapun di balik celana pendek dan kaosmu," lalu kepala Ananta menghilang di pangkal paha Devi, membuat Devi menutup mulutnya berusaha tidak menjerit saat Ananta entah melakukan apa Devi hanya merasakan badannya bergetar karena gigitan kecil Ananta yang semakin lama semakin membuatnya pening.
****
"Kau," Devi memukul perlahan d**a Ananta dan terdengar Ananta yang terkekeh mengelus rambut pendek istrinya yang basah karena keringat.
"Ah semakin tua kamu semakin jadi, aku nggak bisa kayak gini terus mas, lihat jam tuh, berapa jam, belum perihnya, jangan ganggu aku dulu, aku mau ke kamar mandi," Devi meraih selimut dan menatap suaminya yang masih saja tertawa, dan segera menarik selimut Devi lalu menggendong istrinya ke kamar mandi.
****
Samar-samar terdengar adzan subuh, Devi menggerakkan badannya yang terasa sakit semua, ia hanya tidak mengira stamina suaminya masih sangat bagus dan Devi tidak bisa mengimbangi itu, Devi melangkah pelan ke kamar mandi, menahan perih.
Ia hidupkan shower dan mandi di bawah guyuran shower agar badan lelahnya menjadi lebih segar.
****
Setelah sholat subuh ia bangunkan suaminya yang masih terlelap, ia sentuh perlahan, tetap tak bereaksi, malah milik suaminya yang menegang sempurna.
"Ih mas Nanta, bangun maaas, bangun," bisik Devi di telinga suaminya.
"Hmmm aku sudah bangun," ujar Nanta namun matanya masih terlelap, ia raih tangan Devi dan diletakkan pada miliknya, seketika Devi tarik tangannya dengan wajah memerah.
"Ih itu sih bangun yang lain, mas eehh aduuuh nggak nggak maaas," Devi berusaha mendorong badan Ananta yang langsung membalik badannya, berada di bawa suaminya lagi.
"Ya Allah mas, lagi, aku masih lemas gini," Ananta tak peduli rengekan Devi dan melanjutkan lagi sampai akhirnya ia melihat istrinya yang benar-benar memejamkan mata kelelahan.
"Maafkan aku, Dev, maafkan aku," ujar Ananta di telinga istrinya yang masih memejamkan mata mengatur napasnya, menarik selimut ke dadanya.
"Aku mandikan ya? " ujar Nanta dan Devi menggeleng, rambut basahnya membuat ia capek harus mandi lagi.
"Beneran mandi Dev, nggak akan ganggu lagi kayak semalam," ujar Nanta memelas.
"Nggak, mas bohong, semalam juga gitu, nggak tahunya aku dibikin tambah capek, mas ini makan apa sih dua puluh tahun jauh dari aku kok jadi nggak ada capeknya gini, dulu nggak gitu-gitu amat," ujar Devi mulai membuka matanya.
"Dulu kan aku nggak tahu harus gimana Dev," sahut Nanta masih memeluk badan Devi dan sesekali hidungnya kembali mencuimi d**a Devi.
"Sana mandi duluan gih, aku masih lemas banget mas," ujar Devi masih tergolek di kasur.
Ananta melangkah ke kamar mandi dan Devi hanya menggeleng saat suaminya dengan santai melangkah ke kamar mandi tanpa menggunakan apapun.
****
"Mas aku lapaaar banget," rengek Devi.
"Iyah aku sudah pesan, bentar lagi datang," sahut Ananta, keduanya kembali berada di kasur setelah mandi bergantian.
Tiba-tiba ada notifikasi masuk ke ponsel Ananta, dan Ananta tertawa saat ia tahu yang berkirim pesan adalah Sena.
"Kenapa mas?"tanya Devi.
"Bacalah, anak kita yang satu ini memang beda, nggak tahu deh nurun siapa," jawab Ananta sambil memberikan ponselnya pada Devi dan Devi terbelalak.
Selamat pagi ayah, wah pasti pagi yang sangat segar ya yah, semoga nggak bikin malu aja, sudah kan menunjukkan kekuatan ayah sama bunda, jangan bikin malu kaum laki-laki yah, di usia ayah yang sekarang mestinya ayah masih hot-hotnya, semangat ayaaaah..
Wajah Devi memerah membaca pesan Sena.
"Ih apa-apaan Sena itu, dia loh usianya masih berapa, sudah ngomong kayak gitu, awas ya Sena," ujar Devi menatap wajah Ananta yang masih saja tersenyum lebar.
"Dev, jaman sudah kayak gini, Sena loh bentar lagi semester lima, laki-laki lagi, dia bisa tahu dari mana saja,yang penting kita ngarahkan dia dan adiknya jangan sampai mengarah ke pergaulan bebas udah gitu aja, semakin kita melarang-larang dan kita marahi, mereka akan mencari tahu dibelakang kita, justru itu yang berbahaya," Ananta bagun saat terdengar ketukan di pintu.
"Ayoh sayang, aku yakin itu makanan yang aku pesan, kita sarapan ya," ajak Ananta pada Devi.
****
Siang hari Ananta dikejutkan dengan telpon Sena yang panik karena tensi neneknya yang tiba-tiba anjlok ke titik yang sangat rendah, hal yang sangat tidak biasa.
"Kita berkemas Dev, ibu sepertinya harus dibawa ke rumah sakit," ujar Ananta panik.
"Mas, kenapa, ada apa?" tanya Devi.
"Nggak papa tapi ibu, Dev, ibu," ujar Ananta terbata-bata.
****