"Mas, sudah, yang sabar, ibu nggak papa, aku dulu sudah terbiasa merawat mama Sisil, sama seperti ibu, hipertensi juga, cuman yang ibu kan jadinya stroke sedang mama Sisil jantung koroner juga, dia perokok sih agak berat juga ngerokoknya, tadi aku tanya ke dokter nggak papa, kondisi ibu berangsur pulih, asal jangan semakin turun aja tensinya, cuman yang jadi pertanyaan kok bisa anjlok di kasih dahar apa ya sama anak-anak, ibu, selama kita tinggal?" tanya Devi yang masih mengusap lengan Ananta karena masih saja berkaca-kaca matanya.
"Aku takut Dev, aku merasa banyak berdosa pada ibu, setelah kita terpisah, aku sama sekali tidak pernah berniat menjenguknya, sakit hatiku karena beliau telah memisahkan kita, hal itu juga yang membuat aku membencinya setengah mati bahkan berniat tak akan pernah bertemu beliau lagi, namun dengan bertemunya kita lagi yang akhirnya membuat aku kembali menjenguk ibu, meski awalnya terpaksa, dan saat melihat beliau terbaring tak berdaya barulah aku sadar betapa berdosanya aku, mengabaikan beliau puluhan tahun, karena bagaimanapun ibu kita, beliau tetap orang yang harus kita hormati, makasih Dev sudah membuat aku akhirnya mau melangkah ke sisi ibu," Ananta menggenggam tangan Devi dan melihat Sena yang membawa minuman lalu memberikannya pada ayah dan bundanya.
"Mana adik-adikmu Sena?" tanya Devi.
"Masih di kantin sana bun," ujar Sena dan tak lama tampak Livia dan Ejak berjalan beriringan.
Mereka duduk berlima di kursi yang tersedia di sepanjang lorong rumah sakit.
"Gini sayang dengarkan bunda, Sena, Ejak dan Livia, besok balik duluan ke Ubud ya, biar bunda di sini dulu nemanin ayah ngerawat nenek, Sena bunda minta tolong lihat toko kita yang hampir selesai itu, sudah kayaknya semuanya tinggal memasukkan furnitur aja, meja display kue dan piranti lainnya, bunda sudah pesan dan sudah dilunasi pula, tinggal nunggu di kirim, nanti bunda kasi nomor hpnya trus Ejak sama Livia, ke toko rotiya, seperti biasa," ketiganya mengangguk dan Ananta melihat istrinya dengan kagum, wanita mandiri yang terbiasa mengurus segala sesuatunya seorang diri.
****
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Sena, Ejak dan Livia, berangkat ke bandara.
Ananta mengantarkan ke andara, sementara Devi menunggui ibu mertuanya yang sudah dipindah ke ruang perawatan yang awalnya ada di ruang icu.
Lima hari kemudian ibu Ananta sudah kembali ke rumah. Devi segera menata barang bawaan dari rumah sakit ke tempat semula setelah sebelumnya membaringkan ibu mertuanya.
Saat ke dapur Devi melihat yu Jamirah yang menatapnya dengan tatapan takut.
"Sini yu, temani saya minum teh hangat, kok pengen minum teh hangat saya yu, sore-sore kayak gini, bentar lagi saya mau buatkan untuk ibu juga," ujar Devi melambaikan tangannya lagi pada yu Jamirah dan menepuk kursi di sisinya.
Yu Jamirah duduk sambil menunduk tak lama kemudian benar-benar membuat Devi kaget karena tiba-tiba yu Jamirah menangis, menutup wajahnya.
"Yu, yu Jamirah kenapa?" tanya Devi mengguncang bahu yu Jamirah.
"Ampuni saya nyah, saya yang salah sampai nyonya besar gerah lagi, saya menuruti beliau agar tiap sore memberinya jamu kunir putih dan tidak meminum obat dari dokter, sudah sebulan ini begitu nyah," ujar yu Jamirah dengan wajah menyesal.
Devi menghela napas, mengusap bahu yu Jamirah.
"Nggak papa toh bukan kesalahan yu Jamirah 100%, kan ibu yang nyuruh, saya yakin ibu juga ingin sehat tapi caranya yang kurang benar, penyakit ibu sudah kronis, jadi perlu penanganan dan pengawasan khusus, lain kali kalau ibu mau apa-apa bilang ke mas Nanta ya yu, karena kondisi seperti ibu apalagi usia beliau sudah sepuh kita tidak bisa sembarang memberi apapun," ujar Devi kemudian.
"Iya nyah, maaf, saya tidak akan mengulagi lagi," ujar yu Jamirah.
"Iya iya, saya percaya, yu Jamirah menuruti ibu karena ingin ibu lebih baik, nggak papa, nggak usah dibahas lagi," ujar Devi dan yu Jamirah mengusap air matanya, beranjak ke tempat cuci piring dan mulai mencuci beberapa piring.
"Oh iya tadi pagi ada laki-laki ke sini nyari tuan Nanta, ya saya bilang kalau tuan Nanta sama istrinya nemenin nyonya besar di rumah sakit, dan bodohnya saya kok ya lupa ndak tanya, katanya mau kembali lagi," ujar yu Jamirah.
"Awalnya saya curiga nyah lah, dia lamaaa berdiri di depan pagar, ke sana, ke mari, lalu berdiri lamaaa lagi, trus ya saya ke luar nyah, tanya ada perlu sama siapa, dia nyebut tuan Nanta ya saya bilang kalau masih di rumah sakit nungguin nyonya besar, dia bilang akan kembali lagi," ujar yu Jamirah sambil meletakkan piring bersih ke rak piring.
"Pasti teman mas Nanta yu," sahut Devi yang menghabiskan tehnya dan beranjak ke dapur ingin membuatkan teh hangat untuk ibu mertuanya.
****
"Siapa ya Dev?" tanya Nanta seolah bertanya pada dirinya sendiri, karena meski bertanya pada istrinya, tidak mungkin Devi bisa menjawabnya.
"Pasti teman mas Nanta," sahut Devi.
"Nggak mungkin, teman-temanku tahu di mana rumahku, nggak mungkin nyari ke sini, paling nggak mereka pasti nelpon dulu, dan jika benar temanku, pasti datang ke rumahku nggak ke sini Dev," ujar Ananta penasaran.
****
Malam hari Ananta masih menunggui ibunya, sampai tertidur dan yu Jamirah muncul di belakang Ananta.
"Tuan sana istirahat, biar saya yang tidur di kasur kecil, nungguin nyonya besar," ujar yu Jamirah dan Ananta bangkit mengangguk pelan.
****
Ananta menahan napas saat ia menemukan istrinya sudah tertidur, dengan posisi tengkurap dan celana pendeknya yang sepangkal paha.
"Mau menggodaku atau bagaimana ini? " ucap Nanta berbicara sendiri dan mulai menciumi betis istrinya, ke paha dan menurunkan pelan celana pendek istrinya lalu mengigit pelan b****g istrinya hingga Devi menjerit tertahan.
"Mas, ngantuk jangan sekarang, nggak mood nih," rengek Devi.
"Kenapa juga pakai celana pendek segitu, kok nggak pake daster panjang atau gimana," ujar Ananta sambil mula membuka kaosnya sendiri dan menindih badan mungil Devi yang masih tengkurap.
"Kayak nggak tahu aku aja, mana pernah aku punya daster?" Devi masih berusaha melepaskan diri dari belitan tangan suaminya.
Devi berusaha memberontak lagi, tapi badan besar Ananta membuat Devi tak berkutik.
Akhirnya Devi pasrah saat perlahan ciuman Nanta sudah menjalar dari telinga, ke leher dan punggungnya.
"Eehhgg mas, duh ssshhh...aku," suara Devi menghilang diantara deru napasnya.
"Kenapa, mau sekarang?" tanya Ananta perlahan memasuki Devi dari belakang dan mulai bergerak liar.
Devi menutup mulutnya sendiri ia khawatir suaranya terdengar ke kamar sebelah tempat ibu mertua dan yu Jamirah tidur.
****
Dua jam. kemudian Devi benar-benar tak bergerak, ia benar-benar lelah setelah lima hari merawat ibu mertuanya di rumah sakit dan sekarang ia baru saja dibuat lelah oleh suaminya.
"Sayang, aduh koh lemes gini sih, kamu nggak pingsan kan?" Ananta terlihat kawatir.
Devi masih memejamkan matanya ia biarkan suaminya cemas, ia ingin memberi pelajaran pada Ananta.
"Duh, gimana ini," Ananta memegang dahi Devi, dia kaget karena agak panas. Lalu segera ia betulkan posisi tidur Devi, dan sekujur tubuh Devi ia pegang, hanya suhu hangat biasa.
"Kecapean apa gimana kamu sayang?" Ananta mengutuki dirinya sendiri yang terlalu memaksa pada istrinya, ia segera memakai celana pendek dan ke luar bertelanjang d**a menuju dapur, ingin membuatkan madu hangat untuk istrinya agar paling tidak sedikit segar dan bertenaga.
Saat Ananta ke luar Devi membuka matanya dan menahan senyum, tidur bergelung dengan selimut dan memeluk guling.
"Sekali-sekali perlu dibuat bingung, heran kok semakin tua semakin menakutkan mas Nanta," Devi memejamkan matanya dan segera tertidur pulas.
Saat Ananta kembali ke kamar ia melihat istrinya yang tertidur sangat pulas dan memeluk guling. Ia tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
****
Ssaat adzan subuh terdengar, mata Devi mulai terbuka perlahan dan melihat suaminya yang hendak ke mesjid yang ada di dekat rumahnya.
"Sayang, bangun, sudah mendingan kan, aku ke mesjid dulu ya, sudah adzan tuh," ujar Ananta menatap wajah istrinya yang masih terlihat lelah.
"Iya sana berangkat, aku mau mandi dulu mas," ujar Devi mulai bangun dan menahan selimut di dadanya.
Saat di pintu Ananta masih sempat menoleh lagi pada Devi.
"Aku janji, nggak akan gangguin kamu seharian," Ananta melihat istrinya yang berdecak dan mencebikkan bibirnya. Terdengar tawa Nanta lalu menghilang di balik pintu.
Perlahan Devi bangun melangkahkan kakinya ke kamar mandi, terasa lemas dan tak bertenaga. Sesampai di kamar mandi ia kaget melihat pola abstrak di beberapa tempat di sekujur tubuhnya. Devi hanya geleng-geleng kepala dan bergumam sendiri dengan kesal.
****
Jam enam saat Ananta datang ia melihat isrinya sedang menyuapi ibunya yang telah terlihat segar seperti habis mandi, dan tersenyum melihat Ananta di mulut pintu.
"Ibu bahagia melihat kalian bersama lagi, maafkan ibu Ananta, Devi, ibuuu sejak kemarin tiba-tiba ingat Wulan, ingin sekali ibu melihat wajahnya sebelum ibu meninggal," suara serak ibunya membuat Ananta segera meraih air mendekatkan ke bibir ibunya.
"Ibu jangan banyak berpikir, saya sudah mulai mencoba mencari keberadaan Wulan, karena kabar terakhir dari seseorang yang saya percayai ia berada di Batam, tapi setelah di lacak, ia pindah tempat lagi, dan sepertinya memang sulit ditemukan ibu karena suami Wulan menjalani bisnis illegal, kaya sih iya memang tapi ya itu dia diburu-buru aparat, meski kadang ia juga kerja sama dengan aparat tapi masih ada yang memburu dia juga," ujar Ananta lirih dan hal itu cukup membuat ibunya berlinang air mata.
"Mas ck kok cerita sih," bisik Devi perlahan.
"Ibuu, ini tinggal dua sendok lagi, dahar lagi ya ibu," Devi melihat ibu mertuanya menggeleng. Dan Devi menghela napas menatap suaminya sambil cemberut.
****
"Mas gimana sih, kok cerita itu ke ibu, ibu kan jadi mikir," ujar Devi saat keduanya berada di teras, Ananta terlihat bersiap akan berangkat ke hotelnya dan Devi baru saja selesai menyapu dan menyiangi bunga-bungaan di halaman dari rumput liar.
"Biar ibu tahu sayang, biar beliau tidak kaget saat ada hal mengagetkan suatu saat kelak, firasatku jadi nggak enak, suami Wulan itu banyak istrinya asal kamu tahu, namun entah mengapa hanya Wulan yang selalu ia bawa ke sana ke mari, aku sulit menembus pertahanan orang itu, tidak ada akses mudah bertemu Wulan," Ananta mendesah perlahan.
Dan keduanya kaget saat tiba-tiba dari balik pagar terdengar suara berat,
"Assalamualaikum, permisi...loh Nantaaa.. Deviiii ya Allah kalian..
****