#25

1174 Kata
"Maaas mas Panjiii," Devi melempar apa yang dipegangnya dan berlari membuka pagar, mereka berpelukan sambil menangis. "Deviii, Dev,  apa kabarmu adikku,  ya Allah terima kasih," air mata Panji bercucuran. Dari tempatnya berdiri mata Ananta berkaca-kaca. Panji melepas pelukannya pada Devi dan bergegas memeluk Ananta dan kembali menangis. "Aku kaget melihat kalian bisa bersama lagi, entah bagaimana jalannya aku sangat bersyukur pada Allah, Nantaaa, Nanta, ceritakan dengan lengkap, aku ingin tahu bagaimana kisah kalian," Panji melepas pelukannya pada Ananta. "Mari, masuk dulu mas,  kita temui ibu," ajak Ananta. Bertiga mereka menuju kamar utama dan terlihat Panji yang kaget dan menatap tak percaya. "Bu lik, ya Allah, sakit apa bu lik, Nanta?" tanya Panji kaget dan ibu Ananta menatap lama laki-laki di depannya. "Siapa dia Nanta?" tanya ibu Ananta perlahan. "Mas Panji ibu," sahut Ananta dan mata wanita tua itu bergerak-gerak lalu berkaca-kaca tak lama mengalir dengan deras air mata di pipinya yang tirus. "Nji,  kamu nak,  maafkan bu lik mu ini, maafkan Nji," terbata-bata suara ibu Ananta. "Inggih, bu lik,  pasti Panji maafkan," sahut Panji sambil mengusap tangan keriput itu. Ibu Nanta menggapai tangan Panji dan Panji memeluk bibinya yang tak henti menangis. Lalu agak lama dilepaskan oleh Panji. "Bu lik istirahat ya jangan banyak mikir," wanita tua itu hanya mengangguk dengan lemah. Saat ketiganya berada di ruang tamu lagi Panji terlihat kawatir. "Bu lik kok kelihatan lemas tak bertenaga gitu ya apa biasa seperti itu?" tanya Panji. "Sejak kemarin gitu mas,  malah makan agak suliiiit, sering mandangi aku, lalu mengusap tanganku sambil bilang maaf bolak-balik," ujar Devi sedih. "Tapi waktu kita mendatangkan dokter kemarin kan baik-baik saja katanya,  tensinya juga normal," sahut Nanta. "Iya sih mas,  beliau juga selalu tanya Sena dan Ejak, aku bilang masih ngurus toko di Ubud, hmmm yang penting kita sudah melakukan segalanya untuk ibu," ujar Devi. **** "Dev,  aku ajak mas Panji ke hotel ya, paling nanti sore aku baru pulang," ujar Ananta. Devi mengangguk,  sekali lagi Panji menoleh pada Devi, masih tak percaya bisa bertemu lagi. Sepanjang perjalanan ke hotel Ananta bercerita kisah awal bertemunya kembali ia dengan Devi,  lewat anak kembar mereka Sena dan Ejak. Panji yang mendengarkan sementara matanya berkaca-kaca. "Syukurlah Nanta akhirnya kalian bisa bersama lagi meski jalannya sangat menyakitkan," ujar Panji. "Aku tinggal di Padang Nanta dan menikah dengan Aisyah, wanita asal Padang, aku dikaruniai tiga orang anak yang ketiganya perempuan," ujar Panji membuka kisah,  bahwa ia membuka toko kecil-kecilan dari uang yang ia punya, nasib Panji beruntung karena ia akhirnya menjalin kasih dengan anak pemilik toko tempat Panji biasa membeli bahan pokok untuk dijual kembali di tokonya. "Ah mas Panji dapat anak bos ternyata," ujar Ananta. "Mungkin karena kami sering bertemu,  biasanya memang dia yang berada di kasir jika aku sedang ke tokonya," sahut Panji sambil tersenyum. "Ah aku masih saya takjub dengan cara kalian bertemu Nanta, dan Devi ia benar-benar wanita hebat jika mendengar ceritamu,  ia bisa membesarkan anaknya seorang diri dan sukses dengan dunia yang ia geluti," Panji masih saja geleng-geleng kepala. **** Sampai sore hari, Ananta belum juga pulang. Devi sempat menelpon, ternyata keduanya menyempatkan diri mengunjungi kerabat yang lama tidak bertemu dengan keduanya. Jam sepuluh malam Nanta baru pulang, ia melihat istrinya yang sibuk dengan laptopnya, dan kaget saat pintu tiba-tiba terbuka. "Mas, mana mas Panji?" tanya Devi. "Ada di rumah bu de, besok mas Panji sudah balik ke Padang, aku mandi dulu ya Dev," ujar Nanta melangkah ke kamarnya, diikuti Devi. "Mau mandi air hangat mas?" tanya Devi, Nanta hanya menggeleng sambil tersenyum menatap istrinya yang lagi-lagi hanya menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan yang kali ini agak tipis. "Apa senyum-senyum mas, mesti pikirannya aneh-aneh, aku mau lanjutin ngerevisi cerita ya,  beberapa hari di sini benar-benar aku biarkan terbengkalai," ujar Devi berbalik hendak ke luar namun ia merasakan badannya dipeluk lengan yang besar dari belakang. "Maaaas mandi dulu, itu bajunya sudah aku siapkan," Devi mulai melepaskan pelukan Nanta dan berbalik menatap suaminya yang masih tersenyum memandangnya. "Baiklah aku mandi dulu lalu...," Nanta menatap istrinya yang mulai membulat matanya. "Mas nggak pengen lihat aku pulas semalaaaaam aja," ujar Devi setengah merengek dan Ananta tertawa. "Baiklah,  baiklah, aku biarkan kamu pulas malam ini, besok pagi aja ya?" pinta Nanta lagi dan Devi terbang menjauh ke pintu, menoleh lagi pada suaminya. "Nggak janji," Devi tertawa pelan. Nanta hanya menggeleng sambil terkekeh. **** "Ibu sangat nyeyak ya Dev?" ujar Nanta saat melihat ibunya yang tidur bersedekap. "Iya,  beberapa hari ini ibu selalu tidur dengan posisi tangan seperti itu, aku takut mas," ujar Devi berbisik pelan. "Nggak papa yang penting ibu merasa nyaman, tuh yu Jamirah yang nunguin juga pulas," sahut Nanta menarik Devi ke kamarnya. Dan terdengar pekik pelan Devi saat Nanta tiba-tiba menciuminya dan menindihnya di kasur mereka yang tak begitu besar. **** "Bang, kapan bunda balik ya,  dua minggu lagi kita mulai masuk loh, masa Livia sendirian di sini, gimana ya bang?" tanya Ejak cemas. "Biar Livia nginep di mess karyawan aja kalau dia takut sendirian Jak,  atau kamu temani dulu,  dan terpaksa kamu yang bolak balik Denpasar-Ubud," ujar Sena. "Nggak papa Livia sendiri di sini,  aman kok, rumah tetangga kanan kiri deket gini, dempet-dempet," sahut Livia yang tiba-tiba muncul di antara Sena dan Ejak. "Tuh kan Jak,  Livi di lawan, iya nggak adik manis?" ujar Sena sambil tertawa. Livia hanya tersenyum dan mulai duduk di dekat Ejak, Sena bangkit meraih tas kecilnya lalu ia selempangkan di bahunya. "Mau ke mana bang, dah malem banget ini?" tanya Ejak. "Ya nengokin cafe lah,  nggak enak sama teman abang,  terlalu lama ditinggal,  gimana kelimpungannya dia, besok aku mulai rutin ke sana Jak,  sekarang mau ngumpul sama teman-teman, dah ya,  Jak, Livi,  aku ke luar dulu ya," Sena pamit lalu melangkah ke luar,  menghembuskan napas berat, berusaha memahami bahwa keduanya sedang ingin berdua. **** Devi dan Nanta yang baru saja selesai sholat subuh dikejutkan oleh teriakan yu Jamirah dari kamar ibunya. Devi dan Nanta bergegas menuju kamar ibunya dan melihat yu Jamirah yang menangis meraung. "Ada apa to yu?" tanya Nanta dan kaget saat melihat ibunya tidur bersedekap, ia sentuh kulit ibunya dan hanya dingin yang ia dapatkan, seketika dadanya bergedup kencang. Secepatnya Nanta menggendong ibunya ke mobil. "Cepat Dev, kita bawa ibu ke rumah sakit, kamu pakai baju secepatnya, aku tunggu di mobil,  yu, bukakan pintu," ujar Nanta. **** Nanta hanya bisa menangis meraung di dekat jasad ibunya, yang masih dalam posisi sama, terpejam dengan tangan bersedekap. Sesampai di rumah sakit,  dokter langsung memeriksa denyut nadinya dan mengatakan bahwa ibu sudah meninggal sekitar dua jam sebelumnya. Devi mengusap dan menenangkan suaminya yang tiada henti menangis. "Aku belum mempertemukan ibu dengan Wulan, Dev,  aku punya hutang itu pada ibu," tangisan Nanta semakin jadi. "Iyaaa iya aku mengerti, ayo kita bawa pulang ibu,  kita telpon anak-anak agar segera ke sini,  kita sempurnakan jasad ibu," Devi kembali memeluk sambil mengusap dan memenangkan suaminya. Mata Devi menatap ke luar ruangan, terlihat warna kelabu di langit meski ada awan-awan putih disekitarnya. Ia hanya memahami bahwa dalam hidup ia selalu menemukan banyak hal yang harus dia pelajari, meski mengalami kesakitan,  ia harus memberi maaf dengan ikhlas. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN