#26

1013 Kata
"Kita pulang ya mas, mas Nanta istirahat dulu," Devi mengusap lengan suaminya yang masih terpekur memandang makam ibundanya yang dipenuhi bunga. Nanta tidak menjawab, ia hanya memandang gundukan tanah yang baru saja menimbun tubuh ibunya. "Kalian pulanglah,  aku masih ingin di sini, biar nanti kalau aku mau pulang,akan menelpon Sena," suara Nanta terdengar lirih. "Mas, ini semakin senja,  sebentar lagi maghrib,  kan mas harus sholat," ujar Devi kembali mengusap lengan Nanta. Ananta memandang Devi dengan wajah memelas lalu ia mengangguk perlahan. "Tapi mas segera pulang ya karena lepas isya' acara tahlilan akan dimulai, aku, Livia dan Ejak akan kembali dulu ke rumah,  meski semuanya sudah pesan ke katering kan aku harus ke rumah mas,  masih banyak kerabat di rumah,  yu Jamirah dan anaknya pasti bingung kalau tidak ada aku," ujar Devi dan Ananta mengangguk. Devi menatap Sena, Sena mengangguk, mengerti maksud bundanya agar ia menjaga ayahnya. Devi,  livia dan Ejak melangkah meninggalkan area pekuburan itu dengan hati-hati. Terlihat Livia yang menggandeng lengan Devi dengan erat. "Tangan kamu basah Livia," Devi menatap mata Livia yang terlihat takut. "Ngeri bun, malam Juma'at ini," suara Livia membuat Ejak menahan tawa dan menggoda Livia dengan mengusap pelan lengan kanan Livia sementara Ejak berada di sebelah kiri. Saat menoleh ke kanan ternyata tak ada siapapun. "Iiii buuuun," Livia menahan pekikannya dan Ejak tertawa pelan. "Jaaak ah,  tumben deh kamu usil,  sudah tahu adikmu kalau berhubungan dengan kuburan dia takut setengah mati," ujar Devi kesal karena Livia semakin erat memegang lengannya. "Ih mas Ejak ternyata, dasar,  nggak lucu," Devi terlihat kesal dan Ejak tertawa geli melihat wajah marah Livia. **** Setelah acara tahlilan tampak satu persatu kerabat meninggalkan rumah orang tua Ananta, bersalaman pada Devi,  Ananta,  dan anak-anak mereka. Sebagian kerabat Ananta yang baru tahu jika Ananta dan Devi telah bersama lagi mengucap syukur karena sejak pengusiran Devi berbagai cobaan telah menimpa keluarga Ananta, sehingga mereka yang awalnya percaya kisah selingkuh Devi dan Panji akhirnya berangsur tahu bahwa kisah itu hanya salah satu usaha ibu Ananta untuk benar-benar memisahkan keduanya. Hal yang disesali keluarga besar Nanta karena ibunda Ananta sangat terlambat menyadari kekeliruannya. **** "Mas, makan dulu ya,  mas nggak makan sejak kemarin,  hanya makan goreng sama kopi, aku suapi ya," Devi melihat suaminya mengangguk dengan lemah. Devi bergegas ke dapur lalu kembali tak lama kemudian. "Ayo, mas duduk dulu, aku tahu mas sedih tapi kalau kesehatan nggak diperhatikan malah jadi sakit," Ananta bangun dari tidurnya dan duduk sambil bersandar pada bantal. Devi sebenarnya ingin tersenyum tapi momennya tidak cocok jika tiba-tiba ia tersenyum, suaminya lebih menyerupai anak-anak yang harus dibujuk untuk makan,  kehilangan ibunya membuat Ananta benar-benar terpuruk dalam kesedihan karena merasa tidak lama merawat dan janji pada ibunya yang belum ia penuhi,  yaitu mempertemukan ibunya dengan Wulan,  adiknya. "Mas jangan begini, ibu akan sedih jika melihat mas seperti ini, tunjukkan pada ibu bahwa mas baik-baik saja,  sehat dan akan segera mencari Wulan," ujar Devi sambil tetap menyuapi Ananta yang matanya menatap lurus tanpa ekspresi apapun. Ananta menghembuskan napas lalu mengunyah perlahan makanannya. "Ya,  aku harus sehat Dev, demi ibu aku harus mencari Wulan," Nanta mengangguk lalu meraih air yang berada di meja kecil dekat kasurnya. **** Setelah tujuh hari ibunda Ananta meninggal,  Sena,  Ejak dan Livia segera kembali ke ubud. Rumah besar orang tua Ananta untuk sementara akan di rawat oleh yu Jamirah dan anak-anaknya. Ananta dan Devi pagi itu berkemas dan bersiap hendak ke rumah Ananta saat terdengar ketukan di depan rumahnya dan terlihat yu Jamirah yang tergopoh-gopoh ke ruang tamu. Tak lama terdengar langkah yu Jamirah kembali dan membungkuk hormat pada Ananta. "Pak ada orang suruhan suaminya non Wulan,  seperti biasa, ngasi ibu uang paling," ujar yu Jamirah,  Ananta bergegas, ia merasa ini kesempatan untuk tahu lebih jauh keberadaan Wulan karena baru kali ini ia bertemu dengan orang-orang itu. Ananta tertegun melihat dua orang berbadan kekar seperti dirinya, berkaca mata hitam, berkaos ketat menempel di tubuh mereka dan bercelana jeans. "Silakan duduk dulu," ujar Nanta berbasa-basi tanpa senyum. "Tidak usah,  ini untuk ibunda nyonya Wulan," ujar salah satu dari laki-laki itu, menyerahkan amplop coklat yang isinya tampak tebal. "Kembalikan bada bos anda, katakan bahwa ibu sudah meninggal,  saya kakak Wulan,  bisa saya meminta alamat atau nomor ponsel Wulan,  saya ingin memenuhi permintaan terakhir ibu agar menemukan Wulan, karena sejak menikah,  ia belum pernah menjenguk ibu," ujar Nanta, kedua orang dihadapannya saling berpandangan. "Berarti anda tidak tahu cerita sejak awal, ibu anda sudah menandatangani perjanjian dengan bos kami,  bahwa hidup ibu anda dan nyonya Wulan akan dijamin oleh bos, asalkan nyonya bersedia tidak bertemu ibu anda,  dan ibu anda setuju, malah tanda tangan di surat perjanjian itu, kasarannya,  maaf, ibu anda menjual nyonya Wulan pada bos kami," ujar salah satu lelaki itu dan Ananta mengarahkan pukulannya pada rahang laki-laki itu, saat hendak membalas pukulan Ananta ia dicegah oleh temannya, yang akhirnya ia ikut bicara dengan suara keras. "Jika saya mau,  saya bisa membunuh anda karena kami dibekali senjata oleh bos kami, tapi kami menahan karena ia selalu berpesan agar tidak menyakiti keluarga nyonya Wulan, anda harusnya bersyukur, adik anda menjadi istri kesayangan dari lima istrinya, meski kadang disakiti secara fisik, namun ia selalu dibawa kemanapun tuan berada, jangan pernah berharap bertemu adik anda,  dia akan aman selama anda diam saja, namun jika kami tahu anda mulai mengorek keberadaannya, kami tak segan membunuh anda atau adik anda, permisi," mereka berlalu dan menutup pagar dengan suara keras. Ananta memukulkan tangannya pada tembok,  rasa marahnya terasa tersalurkan, meski buku-buku tangannya memar dan terlihat ada darah mengalir. "Mas,  ya Allah," Devi memekik dan melihat tangan Ananta yang berdarah ia cepat masuk dan mengambil kotak obat. **** Setelah tangan Ananta selesai diperban oleh Devi, ia menatap wajah istrinya lalu memeluk dengan erat. "Peluk aku Dev,  peluk aku, aku beruntung bisa bersamamu lagi,  disaat ibu meninggal dan adikku entah kemana,  aku seolah menemukan tempat bersandar yang nyaman," Ananta memejamkan matanya saat merasakan pelukan erat Devi. Devi mengusap punggung suaminya perlahan, berusaha mengalirkan rasa nyaman. Seketika bayangan mama Sisil berkelebat, mengingat kembali bagaimana wanita tua itu selalu memeluk dan mengusap punggungnya saat ia merasa lelah menghadapi cobaan hidup, terusir dalam keadaan hamil. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN