Sesampainya di rumah Ananta, Devi takjub melihat kemegahan rumah suaminya, saat turun dari mobil ia melangkah ragu hingga tangan besar Ananta memeluk pinggang istrinya.
"Masuk sayang, ini rumah kita."
Devi melangkah mengikuti Ananta dan disambut oleh tiga orang pembantu, lalu segera meninggalkan Devi dan Ananta.
Devi dibuat takjub lagi saat melihat foto pernikahannya dalam ukuran besar di ruang keluarga.
Matanya berkaca-kaca namun bibirnya tersenyum. Ananta mengusap bahu istrinya perlahan dan menciumi ujung kepala Devi.
"Kenapa?" tiba-tiba suara Ananta berbisik di telinganya.
"Nggak papa, teringat lagi saat bahagia itu, meski tak lama kemudian...," jari Ananta menyentuh bibir istrinya dan menggeleng.
"Jangan dilanjutkan, aku tidak ingin memutar lagi rasa sakitku Dev, cukup sudah, aku tidak mau lagi jauh dari kamu, kini saatnya kita menikmati masa bahagia," ujar Ananta lalu terlihat menggendong Devi menuju kamarnya.
Devi memekik pelan dan memukul d**a Ananta.
"Turunkan aku, ah mas, heran deh ini jam berapa masih," teriak Devi dan Ananta akhirnya menurunkan Devi di ruang makan.
"Ini yu Sum, wanita yang bikin saya tidak bisa jatuh cinta pada yang lain," ujar Ananta pada wanita tua tapi nampak masih cekatan menata makanan di meja makan, menatap Devi sambil mengangguk dengan hormat.
"Lah ya cantik gini tuan, padat berisi lagi," terdengar kekeh yu Sum yang membuat wajah Devi memerah.
"Ah ada-ada saja yu Sum, memang sudah berapa pacar tuan yu, sebelum bertemu saya lagi?" tanya Devi melihat tangan cekatan yu Sum yang segera menyelesaikan persiapannya di meja makan.
"Ya ndak tahu nyah, saya tahunya sejak saya kerja di sini hanya satu orang yang pernah di bawa ke sini, tapi cuman duduk di sofa depan sana terus ke luar berdua," ujar yu Sum.
"Memang berapa tahun yu Sum ikut tuan?" tanya Devi lagi.
"Duuuuh lama ya tuan, lebih dari lima belas tahun kalau tidak salah, mari dahar dulu nyah, silakan" ujar yu Sum menyilakan.
"Sudah interogasinya sayang?" tanya Ananta sambil tersenyum.
"Pengen tahu saja mas kan nggak papa," sahut Devi tertawa perlahan.
"Aku tidak sembarang bawa orang ke rumah ini, aku pernah membawa satu orang karena aku pikir dia wanita yang mengerti aku, awalnya dia baik, eh malah aku diperintah ini itu, aku harus menuruti kemauannya, dan cenderung menguasai apa saja yang aku miliki, ya sudah aku akhiri baik-baik, meski dia sempat ngotot tidak mau putus, aku menjauh dan akhirnya dia menyerah," ujar Ananta menatap wajah Devi yang mengangguk tanpa senyum lalu menatap wajah suaminya dengan lekat sambil memasukkan makanan ringan ke mulutnya.
"Kenapa sayang, menyesal kita bersama lagi karena aku sempat dekat dengan beberapa orang?" tanya Ananta.
"Ah nggak, aku bukan remaja yang masih cemburu pada hal-hal semacam itu mas, hanya aku berpikir berapa orang yang sudah kamu kecewakan?" tanya Devi menatap wajah suaminya.
"Yang jelas lebih banyak dari kamu yang sudah mengecewakan dua orang bule itu," jawab Ananta tersenyum melihat wajah cemburu istrinya.
"Siapa yang kamu cemburui Dev, foto pengantin kita saja tidak pernah lepas dari dinding itu, tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu," ujar Nanta duduk semakin dekat dengan istrinya.
"Aku nggak cemburu mas," sahut Devi menatap wajah suaminya yang semakin dekat, ia mengerti keinganan Nanta, ia majukan bibirnya membiarkan Nanta bermain lama di sana. Namun saat tangan suaminya mulai menyusup ke sela-sela blousenya dan menekan dadanya dengan keras, Devi melepaskan ciuman suaminya.
"Ssshhh mas Nanta ya, dilihat yu Sum, malu," bisik Devi lirih.
"Mereka tidak akan ke sini kalau tidak aku panggil," Nanta kembali meraih tengkuk Devi dan menciumnya lebih dalam lagi, Devi memukul-mukul punggung Nanta.
Ananta akhirnya menggendong Devi ke kamar kawatir istrinya akan semakin jadi menolaknya.
****
"Mas pintunya," Devi masih saja kawatir.
"Nggak sayang, nggak papa, nggak ada orang, aku di sini bertahun-tahun, jadi tahu gimana situasi rumahku," ujar Nanta membuka kaos dan celana dengan cepat, lalu menarik blouse Devi melewati kepalanya, membuka pengait bra dan melabuhkan wajahnya di d**a Devi.
"Ssshhh mas," Devi menahan sakit saat merasakan perih di dadanya, Nanta hanya tersenyum mengangkat wajahnya dan membuka pakaian yang tersisa di tubuh istrinya.
"Mas jangan lama ya, aku masih lelah setelah tujuh hari tahlilan ibu," bisik Devi menahan sakit dan geli saat kepala suaminya hilang di pangkal pahanya dan berlama-lama di sana.
Nanta mengangkat wajahnya, menatap wajah istrinya yang memerah dengan keringat yang mulai menetes, dengan napas tersenggal.
"Justru karena lelah selama tujuh hari itu, kita tuntasnya lelah kita hari ini Dev," sahut Nanta mencium leher istrinya dan perlahan menyatukan dirinya dengan istrinya, bergerak perlahan dan semakin lama semakin cepat.
****
Nanta merasa bersalah melihat tubuh istrinya yang meringkuk lemah, ia peluk dan ia ciumi wajahnya yang penuh keringat.
"Maafkan aku Dev," suara serak Nanta tak bisa membuat Devi membuka matanya, Nanta beranjak ke lemari menarik selimut dan menyelimuti istrinya yang masih lunglai.
"Tidurlah, nanti akan aku bangunkan," bisik Nanta dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
****
Nanta mengelus kepala Devi perlahan dan Devi membuka matanya yang terasa berat.
"Mandi dulu gih, adzan duhur sudah lewat setengah jam yang lalu, aku gendong ya?" bisik Nanta dan Devi mengangguk.
Nanta meninggalkan Devi di bathup dan membiarkan pintunya terbuka.
Tak lam kemudian Nanta mendengar langkah Devi yang berjalan pelan menggunakan bathrob.
Lalu mengambil celana dalam dan branya.
"Ngadep sana mas, aku mau pakai ini, nanti digituin lagi," ujar Devi dengan wajah lelah, Nanta terkekeh pelan.
"Nggak, nggaaak pake aja, kamu kan mau sholat, nggak akan aku gangguin," sahut Nanta masih saja tertawa.
****
Setelah sholat Devi kembali bergelung di dalam selimut dan memejamkan matanya.
"Masih capek?" tanya Nanta sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Banget, sudah dibilangiiin bolak balik, lihat jaaam, lihat kondisiku, mau bikin aku mati bener deh mas Nanta," ujar Devi terdengar jengkel.
"Sayang dengerin, nggak ada orang mau mati mendesah-desah, teriak, teriak, bahkan melonjak-lon...duuuh sakit Dev," Nanta menahan sakit sambil tertawa saat Devi mencubit perutnya dengan gemas.
"Ya jelas gitu efeknya, tangan sama bibir kemana-mana, ah sudahlah mas, aku mau tidur, capek banget," Devi kembali memeluk guling dan memejamkan mata.
"Baiklah, tidurlah, nanti malam lagi ya sayang?" ujar Nanta menggoda istrinya dan Devi kembali membuka matanya dengan lebar, menatap suaminya dengan jengkel.
"Nggaaaak."
Nanta tertawa lebar, namun ia akan tetap melakukan keinginannya nanti malam, ia tahu istrinya tidak akan menolak.
Nanta melangkah ke luar kamar saat ponsel di sakunya berbunyi.
Yaaa bagaimana Dar, oh di Aceh sekarang, sudah tiga bulan, amati saja terus, laporkan apa yang terjadi, jika aman hubungi aku, aku akan berangkat..
****