"Mas boleh nggak aku ijin ke Ubud barang semingguuu saja, kepikiran anak-anak terutama Livia, meski sama-sama sudah dewasa tapi kan mereka masih perlu pengawasan apalagi baru kali ini mereka benar-benar ditinggal bertiga," pinta Devi sambil memelas pada Ananta setelah mereka sarapan dan duduk di sofa sebelum Nanta berangkat menuju hotelnya.
Ananta menatap Devi yang duduk di dekatnya sambil menengadah di ciumnya kening istrinya.
"Akan aku antar kamu ke Ubud, aku tidak mau ada yang nyuri kamu sesampainya di sana, aku tetap kawatir pada dua bule itu," Ananta tersenyum dan Devi terlihat jengkel.
"Ah mas Nanta, kamu di sini sibuk loh, aku ingin seminggu dua minggu lah di sana sebelum Sena dan Ejak kembali ke Denpasar karena kuliah akan segera aktif, sedang Livia selama aku tinggal bisa di mess karyawan dulu dan jika sabtu bisa balik ke rumah karena Sena dan Ejak juga pulang kan tiap minggu," sahut Devi.
"Pokoknya aku antar, kalau aku merasa perlu kembali lagi ke Joga aku akan kembali, aku suamimu, aku akan mendampingi kamu kemanapun, kita terlalu lama terpisah dan aku tidak mau lagi terpisah, kita tak pernah tahu sampai kapan kita bersama, sampai di usia berapa," ujar Nanta sambil meraih dagu istrinya dan mengulum lembut bibir bawah Devi yang terbuka. Dan Devi memukul d**a Nanta, lalu mendorongnya perlahan.
"Ih mas Nanta, jangan begini kalau di luar kamar," wajah Devi cemberut meski ia sebenarnya ingih lebih.
"Mau kita teruskan di dalam kamar sayang?" tanya Nanta tersenyum lebar.
"Nggaaaak bisa satu dua jam nggak selesai," dan Devi mendengar tawa Nanta yang lalu memeluknya dengan gemas.
"Baiklah, kamu ingin kapan ke Ubud, aku antar," tanya Nanta pada istrinya.
"Maunya ya lusa mas," sahut Devi.
"Baiklah, siapkan saja bajuku dan keperluan apa saja yang perlu di bawa, lusa akan aku antar kamu, aku ke hotel dulu sayang," Anata mencium kening Devi dan melepas pelukannya.
****
"Loh nyaaah ngapain ke sini, ke dapur, sudah tiduran sana, nyonya seperti kecapean gitu," ujar yu Sum kaget melihat Devi tiba-tiba ke dapur.
"Nggak papa, saya malas juga kalau tidak ada kerjaan yu, saya bantu yok mau masak apa nih, pasti selera kita sama, sama-sama Jawa kok, saya asli Surabaya," ujar Devi dan kembali yu Sum menggeleng.
"Nyonya tinggal bilang pingin apa saya buatkan, tadi tuan pesan agar nyonya jangan boleh ke dapur, kata tuan nyonya kecapean," dan yu Sum tersenyum lebar melihat wajah Devi yang bersemu merah.
"Aneh-aneh saja mas Nanta yu, sampai bilang begitu," ujar Devi malu.
"Saya percaya nyah, nyonya memang terlihat masih mengantuk, saya buatkan jamu ya biar seger, biar kuat ngelayanin tuan," tawa yu Sum mulai terdengar.
"Ih yu Sum apaan sih, mau juga jamunya tapi jangan jamu macam-macam, jamu biar seger saya, sinom atau beras kencur gitu," sahut Devi sambil menyentuh rambut pendeknya yang masih basah.
"Ah kalau cuma sinom di kulkas selalu saya sediakan nyah, tinggal minum, kalau jamu itu itu saya racikkan ya, saya buatkan ya, bener saya kasihan nyonya yang badannya mungil gini, dah kelihatan capeeeek banget," yu Sum terlihat menatap wajah Devi yang terlihat agak pucat.
"Yu Sum yaaaa saya cuma butuh istirahat saja, tidur, sudah selesai," ujar Devi mengelak meski ia memang merasa badannya agak lemas setelah suaminya menggempurnya tanpa henti.
"Mohon maaf sebesarnya ayo saya antar nyonya ke kamar, saya tidak mau dipecat gara-gara nyonya masih di sini dan tuan tiba-tiba muncul, bentar lagi jamu siap saya antar," akhirnya Devi mengalah dan menuju kamarnya.
*****
Tak lama jamu selesai dan yu Sum bergegas ke kamar Devi, ia ketuk tak ada sahutan, terpaksa yu Sum membuka perlahan dan melihat istri tuannya yang tidur sangat nyenyak, yu Sum menggeleng sambil menghela napas.
"Hmmm wong terlihat kecapean kok ndak mau ngaku, lihat badan tuan saja sudah tahu bakalan tanduk bolak balik, bisa ajur tenan kalau tidak minum jamu, untung dah tak kasi madu sama telor biar nyonya segeran, tak taruk di meja saja, biar nanti diminum kalau sudah bangun," yu Sum meletakkan jamunya di meja dan ke luar kamar sambil menutup pintu.
*****
Sore hari Nanta pulang dan menemukan istrinya yang meringkuk tidur dan di meja ia melihat ada gelas jamu yang sudah kosong. Ananta tersenyum lebar, pasti yu Sum yang ngasi jamu ini, pikir Nanta. Ia ambil gelas jamu dan berjalan ke dapur memberikan gelas itu pada yu Sum yang terlihat menghangatkan sayur.
"Yu, nyonya tidur terus ya?" tanya Nanta.
"Iya tuan, sempat bagun sih, sholat, dahar, minum jamu, lalu tidur lagi, barusan kok tidurnya itu tuan, tapi sudah tidur kedua kalinya, kecapean bener nyonya tuan, makanya saya buatkan jamu yang bikin seger, sehat biar nggak lemes kalau nanti tuan nambah lagi," yu Sum tersenyum penuh arti dan Nanta tertawa mendengar pembantunya yang sangat pengertian.
"Suwun yu, kami kan pengantin baru lagi jadi ya nangih saja yu, pingin lagi dan lagi," tawa Nanta tak kunjung berhenti.
"Iyaaa saya percaya, tuan sih kuat mau berapa kali, lah nyonya hmmm bisa ajur tuan kalau tidak diselingi jamu," yu Sum terkekeh melihat tuannya yang masih saja tertawa lebar.
"Iya dah yu saya ke kamar dulu, mau melihat istri lagi siapa tahu sudah bangun," Nanta bergerak menuju kamarnya namun sbeelumnya ia kembali mendengar suara yu Sum.
"Jangan minta sekarang tuan, agak nanti lah, biar jamu nyonya ada reaksinya."
Dan Nanta kembali tertawa.
****
Devi menggerakkan badannya merasa geli, saat ia membuka mata ternyata suaminya yang menciumi lehernya.
"Eeggghhh maas, ngantuk, jangan ganggu aku," ujar Devi menjauhkan wajahnya dari suaminya.
"Ayo bangum, sholat asar dulu, sudah jam berapa tuh," ujar Nanta dan Devi menggeliat lalu perlahan bangun.
Nanta menatap istrinya yang berjalan perlahan menuju kamar mandi dengan mata setengah tertutup. Nanta hanya tersenyum dan nanti malam ia berjanji tidak akan mengganggu istrinya.
*****
"Mas boleh aku tanya, tadi mas telponan sama siapa kok wajah mas tegang gitu, boleh kan aku tahu, sudah dua kali orang itu menghubungi mas, setelah nelpon mas selalu gelisah, jangan bikin aku takut," ujar Devi sambil memeluk Nanta saat mereka akan tidur, dan jam di dinding sudah mendekati angka sebelas malam.
Ananta menghela napas ia tatap wajah istrinya, ia hirup harum rambutnya sambil terpejam.
"Aku menyuruh seseorang mencari informasi tentang adikku, ia orang yang punya akses dengan orang-orang yang bekerja secara illegal, aku harus mengabulkan keinginan ibu, nememukan adikku, aku hanya ingin memastikannya baik-baik saja, namun jika ia tidak dalam kondisi nyaman aku akan membawanya pulang," ujar Nanta, Devi mendengar dengan perasaan takut.
"Apa mas nantinya mau menemui adik mas, mengingat orang suruhannya dulu menakutkan, aku takut mas kenapa-kenapa," ujar Devi cemas.
"Aku tidak ingin mati konyol sayang, aku ingin lebih lama mendekapmu seperti ini, jadi aku ingin memastikan diriku aman saat bertemu adikku," sahut Nanta mengusap lengan Devi.
"Tapi, aku takut, perasaanku tidak enak tiap mas selesai nerima telpon," ujar Devi.
Nanta memeluk Devi semakin erat, ia cium kening, mata, hidung dan bibir istrinya, namun Devi melepas pelukannya saat mendengar ponsel suaminya berbunyi.
"Mas, telpon lagi," dan wajah Devi kembali terlihat cemas.
*****