Ananta cepat meraih ponselnya dan melihat nama Sena yang muncul
Iya Sena ada apa
Ayah, Sena pamit besok mau ke Denpasar, KRS-an, minta tanda tangan pengesahannya ke DPA, trus lusanya Ejak, UKT sudah transfer juga Sena sama Ejak, bilangin ke bunda ya yah, takut bunda kaget kok uangnya berkurang banyak hahahah
Iya iya tidak apa-apa Sena, nanti ayah yang akan ganti ke bunda uangnya, tidak usah mikir uang, ngerti, ada ayah sekarang Sena
Ya sudah ayah, salam ke bunda ya yah, semangat ayah, senengin bunda ya yah hahahaha
Iyaaaa hahahah, ah kamu, lusa ayah sama bunda ke Ubud, bilang sama Livia nggak usah tidur di mess karena kami akan datang
Iya ayah iyaaa bai ayah
Nanta tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Dan menoleh pada Devi yang matanya sudah berkaca-kaca.
Ananta memeluk istrinya, mendekatkan wajahnya dan melumat lembut bibir Devi.
"Ada apa Dev, aku minta maaf jika kamu masih sering mengingat masa pahit kita," ujar Nanta lirih, setelah melepaskan ciumannya ia dekap kepala Devi ke dadanya.
"Terkadang aku masih saja belum percaya kita bisa saling memeluk lagi seperti ini, perjalanan hidup yang tidak pernah aku pahami, tapi aku selalu bersyukur bahwa Allah merencanakan jalan terbaik bagi kita, makanya aku kawatir jika mas mempertaruhkan nyawa untuk adik mas, aku tidak mau kita berpisah lagi, bukannya aku egois, aku hanya ingin mas hati-hati saja," ujar Devi dengan suara tersendat karena air matanya telah mengalir deras.
"Devi, lebih takut aku berpisah denganmu, bayangkan, aku mencarimu selama bertahun-tahun, membayangkan dirimu terlunta-lunta dengan perut besar membuat aku menyakiti diriku dengan berbagai cara, setelah mendekapmu seperti ini, aku tidak akan membuatmu jauh lagi, jangan pernah tinggalkan aku," Ananta menciumi ujung kepala istrinya.
Ananta merasakan tangan kecil Devi menyusup ke dalam kaosnya, mengusap pelan perutnya, membuat Ananta mengerang tertahan.
Ia pegang tangan istrinya dan menggeleng perlahan.
"Aku kawatir kamu capek, aku tidak mudah selesai Dev, ini akan lama," bisik Nanta sambil menatap wajah cantik di depannya.
Ananta semakin kaget saat istrinya mendorong badannya dan Devi sudah berada di atas tubuhnya, menjepit pinggangnya dengan erat dan membuka kaosnya melalui kepalanya.
"Baiklah, jangan menyalahkanku jika besok kau tidak bisa membuka matamu, kamu yang memulai," Nanta tersenyum licik, meraih badan Devi agar menunduk dan mengangkat bra istrinya hingga ia bisa leluasa menghisapnya, rintihan Devi membuat Nanta semakin menjadi.
****
"Mas aku capek," suara Devi hilang diantara matanya yang mulai lelah hampir terpejam.
"Sebentar lagi Dev, sebentar lagi," Ananta memiringkan badan Devi dan memeluknya dari belakang, gerakan teratur mulai Devi rasakan, saat ia merasakan sesak menyerbu miliknya.
Remasan yang semakin keras di dadanya, gigitan di lehernya serta tumbukan yang semakin keras membuat Devi terengah sambil memejamkan matanya, tak lama kemudian erangan keras Nanta mengakhiri semunya.
"Terima kasih Dev, maafkan aku, maafkan aku telah membuatmu lelah lagi, tidurlah," Ananta masih mengusap d**a istrinya dan dengan lembut menciumi punggung Devi, tak lama kemudian ia mendengar napas teratur istrinya yang sudah tertidur.
Ananta meraih selimut, menutup badan mereka berdua, sekali lagi menciumi istrinya dan iapun memejamkan mata.
****
"Ini yang mau di bawa ke Ubud mas, cukup ya?" tanya Devi memperlihatkan baju-baju Ananta dan Ananta hanya mengangguk sambil tersenyum, mengusap rambut basah Devi.
"Tumben setelah gempuran semalam masih terlihat segar?" Ananta menggoda istrinya yang sedang sibuk menyiapkan barang-barang mereka. Wajah Devi memerah dan pura-pura tidak mendengarkan.
"Pasti karena jamu yu Sum," ujar Nanta masih saja menatap istrinya sambil memakai baju untuk segera berangkat ke hotel.
"Ck mas Nanta, nggak usah dibahas, ayo cepat dahar, aku juga lapaaar banget, yuk ah ke ruang makan, dari pada bicara aneh-aneh," Devi mendorong badan besar suaminya menuju ruang makan dan tawa Nanta terdengar keras sampai ke dapur tempat yu Sum memasak, yu Sum hanya tersenyum ikut merasakan kebahagiaan tuannya yang rasanya tidak pernah ia dengar tawanya sejak ia bekerja di rumah besar ini, sekarang ia bisa mendengar tawa itu berkali-kali.
****
Keeseokan harinya...
Bagaimana Dar, pindah lagi, ke mana, mengapa bisa tidak tahu, mengapa bisa lepas dari pengawasanmu, apa uangku kurang Dar, aku tambah jika kau perlu, ah baiklah, aku menunggu kabarmu...
Ananta terlihat kesal, dan memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Devi mengusap lengan suaminya dan menatap dengan lembut.
"Sabar mas, sabar, pasti mas bertemu dik Wulan, kita belajar banyak dari perjalanan kita, bahwa jika kita sabar dan ikhlas menjalaninya akan berbuah kebahagiaan, meski sakit, dua puluh tahun bukan waktu sebentar, aku bahkan mengira mas sudah menikah, ternyata kita sama-sama betah sendiri, meski mas sempat bolak balik pacaran," Devi tersenyum dan Ananta memeluknya dengan Erat.
"Yah benar, sabar, aku akan bersabar menungga waktu yang tepat berjumpa dengan Wulan, satu hal yang aku pinta padamu Devi, maafkan ibu dan Wulan, yang telah membuatmu menderita, kadang aku berpikir apa karena mereka telah menyiksamu, memisahkan cinta kita hingga akhirnya mereka menerima kesakitan yang lebih parah, apa ini hukuman dari Allah?" suara Ananta lirih di telinga Devi, ia masih mendepak erat istrinya.
Devi mengurai pelukan suaminya, menatap suaminya tanpa senyum, lalu menggeleng.
"Saat aku mengalami siksaan itu, aku memang sempat berpikir mas, apa yang telah aku lakukan hingga mendapat siksa seperti ini, hingga aku menangis tiap sholat, mengadu pada Allah, tapi jujur aku tidak pernah mendoakan ibu dan dik Wulan dengan doa yang jelek dan berharap mereka celaka tidak mas, aku betul-betul memaafkan ibu dan dik Wulan saat berada di Ubud, saat melihat Sena dan Ejak berangsur tumbuh, di dalam darah mereka mengalir darah yang sama, aku ikhlas atas semua yang terjadi padaku mas," Devi merasakan badannya di tarik pada kehangatan d**a suaminya ia memejamkan mata dan merasakan kenyaman yang tak bisa ditukar dengan apapun.
"Terima kasih, telah menungguku, memaafkan ibu dan adikku, membesarkan Sena dan Ejak hingga mereka tetap mencintaiku meski aku tak pernah disampingnya,"suara Ananta terdengar parau.
"Kita berangkat mas, khawatir tertinggal pesawat," ujar Devi menyadarkan suaminya, mereka segera pamit pada yu Sum dan menuju mobil, sopir Ananta dengan sigap membawa travel bag ke bagasi.
****
"Bundaaaaa," teriakan Livia menyambut Devi dan Nanta, dan segera berlari memeluk Devi.
"Huusssyyy sampe kedengaran ke luar," ujar Devi membalas pelukan Livia, Ananta tersenyum bahagia melihat Livia yang menganggap Devi seperti ibunya sendiri, ada kebahagiaan bahwa istrinya selalu bisa memberi kedamaian bagi siapapun.
"Kayak nggak ketemu bertahun-tahun saja," Devi terkekeh dan mencium pipi Livia.
"Mana Ejak, katanya besok mau ke Denpasar juga ya?" tanya Devi membawa beberapa barang bawaannya ke dalam kamar.
"Maunya ke toko yang baru bun, grand openingnya nunggu bunda, yang kapan hari kan soft opening bun wih rame deh, teman-teman Livia banyak yang datang juga, tapi orangnya tidur tuh bun di belakang kecapean kali ngurus soft opening," ujar Livia.
Mereka duduk di ruang makan, sementara Ananta beristirahat di kamar.
"Livia, toko roti baru itu milik kamu, lengkap sudah kan, Sena, Ejak dan sekarang punya kamu," Devi melihat mata Livia yang berkaca-kaca lalu berdiri memeluk Devi, Devi yang tak siap hampir terjungkal saat ia masih duduk.
Akhirnya Devi berdiri dan membiarkan Livia menangis di pundaknya.
"Nggak bundaaa, nggak, Livi bisa hidup kayak gini, sama dengan teman-teman sebaya Livi sudah sangat Livi sukuri, nggak usah ngasi apa-apa lagi, bunda sudah kayak mama Livi yang sudah meninggal, Livi nggak punya siapa-siapa lagi, tapi dengan bunda di sisi Livi itu sudah cukup," Livia merasakan usapan lembut Devi di kepalanya, lalu Devi melepas pelukannya, ia lihat wajah penuh air mata di depannya sambil tersenyum.
"Hei anak bunda, ngapain sampe nangis, bunda ingin kamu, Ejak, Sena, bertanggung jawab pada apa yang sudah mama beri, dengan belajar bertanggung jawab pada toko roti itu, artinya kamu sudah menghargai banyak hal, karyawan kamu, staf kamu bagian administrasi, koki, satpam, sampai bagian tukang cuci perabot pantry, bunda hanya ingin kalian tahu bahwa menjadi besar itu tidak mudah, mengerti sayang?" Devi mencium pipi Livia.
"Loh bunda kapan datang, kok peluk-pelukan sama Livi, eh ngapain Livi nangis bun?" Ejak yang baru bangun tidur terlihat bingung.
"Hmmm iya, ini si Livi ngadu ke mama, kamu apain aja selama nggak ada orang hayo ngaku?" Devi pura-pura marah dan tak disangka wajah Ejak berubah takut, dan Livia terlihat bingung dengan wajah memerah.
"Iya maaf bun, maaf Livi, memang Ejak yang salah bun, Ejaaak...emmm Ejak nyium Livi terlalu lama, Livinya sampe ngamuk" Ejak melihat Livi yang matanya melotot dan Devi yang tertawa tanpa bisa ditahan.
Akhirnya Ejak sadar jika ia hanya jadi bahan gurauan bundanya.
"Bundaaaaaa....," teriakan Ejak menahan malu.
****