#30

1033 Kata
"Mas semalam kok sampe bolak-balik teman mas nelpon ada apa?" tanya Devi cemas melihat wajah lelah suaminya. "Wulan, Dev, menurut informasi dari orang kepercayaan Ismunandar, temanku, dia ada di Bali, namun Bali mana belum ada info susulan ah aku rasanya ingin segera tahu, mengingat kata-kata orang suruhannya yang ke rumah rasanya aku yakin, adikku tak bahagia Dev," Nanta meremas rambutnya sambil menunduk. Devi mendekati suaminya, ia usap punggung Nanta dan diciumnya pundak suaminya yang berbalut kaos. "Berdoalah, minta yang terbaik pada Allah, selama mas bersungguh-sungguh berdoa, tidak akan pernah tertolak doa mas, aku sudah membuktikannya, mas kembali padaku, dipelukanku seperti ini, siapa yang akan mengira, dua puluh tahun, meski jalannya berliku mas kembali, meski sakit di awal Allah memberi akhir yang manis, berdoalah, mintalah pada Allah, jangan pernah putus asa," Devi mengusap rahang suaminya, menatap dari jarak dekat dan mengecup bibir Nanta sekilas. "Kamu selalu bisa membuat aku tenang Dev, selalu saja begini seolah dahagaku hilang setelah merasakan senyummu," ujar Nanta menatap wajah istrinya dari jarak dekat. "Belajar gombal di mana pak bos?" tanya Devi sambil menciumi pipi suaminya. Akhirnya Ananta tergelak dan menindih tubuh Devi dan menciumi bibir serta leher istrinya. "Duh maaf bun, yah," Sena tiba-tiba menutup kembali pintu kamar ayah dan bundanya. Keduanya bangkit dan saling menahan tawa. **** Devi menemukan Sena di ruang makan, Nanta menyusul di belakangnya. "Sorry ayah, bunda, jadi keganggu ya bikin adik untuk Sena," tawa Sena memenuhi ruang makan. "Ah Sena, nggak kok ayahmu cuman pengen nyium aja," sahut Devi mulai menyajikan makan malam. "Iya Sena, gara-gara kamu sih, ayah jadi pusing ini," Nanta tertawa menatap wajah anaknya yang masih saja terbahak. "Salah ayah, kenapa nggak diterusin?" tanya Sena dan Devi menepuk pundah Sena. "Heeeeh kayak ngerti aja kamu," ujar Devi. "Alah maaa, aku laki-laki, bisa tahu dari mana aja, tinggal prakteknya ntar," sahut Sena sekenanya dan Devi semakin menatapnya dengan tajam. "Ya Allah bundaaa, Sena bergurau bundaaaa," Sena akhirnya bangkit, memeluk mamanya. "Kamu kok malem baru nyampe?" tanya Devi pada Sena. "Iya bun, selesai urusan kampus langsung balik, nunggu beres dulu, " jawab Sena. "Trus, dua minggu lagi akif ya perkuliahan? " Sena mengangguk mendengar pertanyaan Devi. "Ejak paling besok pulang dah bun ke rumah," ujar Sena yang mulai menikmati makan malamnya. "Liviiiii, makan sayaaang," Devi berteriak dan Livia keuar dari kamarnya. "Nggak bun, males," sahut Livia. "Alaaah pasti takut gendut, jangan kawatir, Ejak tetep cinta kok," ujar Sena terkekeh. "Ih mas Sena, apaan sih mas Ejak nggak pernah komen-komen," ujar Livia. "Hesssyyy sudah ayo makan, Livi kalau nggak mau makan ini ngemil lauk atau apa gitu nak biar nggak sakit," Devi menawarkan macam-macam lauk dan makanan di meja, Livia mengambil udang goreng tepung dan mulai mrmasukkan ke mulutnya. **** Di mana, ok, ok Dar, sudah pastikan, aku ke sana Dar, kamu di Bali juga, oklah kita ketemu di alamat yang akan aku kirim ya.. "Gimana mas?" tanya Devi menatap wajah suaminya yang duduk di sebelahnya, sedang Devi berbaring di kasur. "Ini alamatnya Dev, kamu tahu?" tanya Nanta sambil memperlihatkan sebuah alamat pada Devi, Devi bangkit dan melihat alamat itu. "Ini di daerah Kintamani mas, sekitar satu jam lah perjalanan ke sana, tapi mengingat cerita mas dulu, nggak mungkin semudah ini kita bisa menemui adik mas, aku kawatir ini hanya jebakan atau tipuan, aku kawatir mereka tahu kalau mas mencari Wulan," ujar Devi terlihat kawatir. "Tapi kan nggak ada salahnya kalau kita coba?" tanya Nanta. "Ok, aku temani mas aku nggak mau mas sendirian ke sana, aku nggak mau mas mati konyol, kalaupun mati ya biar kita bareng," ujar Devi dengan suara tertahan. Ananta meraih kepala Devi ke dadanya, memeluknya dengan erat. "Jangan bicara yang tidak-tidak Dev, aku mau mencari adikku, bukan mau cari mati, aku belum puas memelukmu seperti ini," Ananta melepas pelukannya, menatap wajah cemas istrinya dan dengan tiba-tiba Ananta melumat bibir mungil di depannya. Devi memeluk dan mencengkeram kaos suaminya saat dirasakan ciuman suaminya berubah semakin kasar. "Maafkan aku, sakit Dev?" bisik Ananta saat dirasakannya napas istrinya yang mulai tersenggal. "Mesti deh mas Nanta sulit pelannya," rengek Devi mulai menyusupkan tangannya ke dalam kaos suaminya, mengusap dadanya perlahan, sedang Nanta menikmati elusan tangan istrinya sambil memejamkan matanya dan perlahan membuka celananya, mendorong perlahan badan Devi, menatap mata istrinya yang terlihat mengijinkannya. Menaikkan kaos Devi hingga terlihat dadanya yang tidak menggunakan pelapis apapun, mendekatkan bibirnya, menyentuhkan pelan dan semakin kasar. Nanta mengangkat badannya sejenak, membukaka kaosnya dan kaos istrinya. "Mau berapa lama?" bisik Ananta ditelinga Devi sambil tangannya menurunkan celana pendek istrinya. "Sebentar saja mas, jangan lebih dari lima belas menit," bisik Devi yang wajahnya mulai gelisah karena tangan suaminya yang mulai menyentuh miliknya, mengusapnya pelan dan tak lama Devi merasakan miliknya penuh saat suaminya mulai memasukinya. "Mmm mas pelan, sakiiit," rintihan Devi dibalas Nanta dengan ciuman yang kasar. "Sssstttt, nanti Sena dengar sayang," ujar Nanta yang mulai bergerak teratur sambil menciumi leher istrinya. **** Sena melangkah dengan cepat menuju kamar ayah bundanya setelah menerima telpon dari salah satu temannya agar segera menuju cafe milik temannya itu. Namun niat Sena untuk mengetuk pintu kamar ayah bundanya jadi terhenti saat ia mendengar rintihan dan desahan bundanya serta suara geraham tertahan ayahnya. Sena mundur dan melangkah menuju teras sambil tersenyum lebar dan menahan tawanya. "Kayaknya bakalan punya adik lagi nih kalau mendengar geraman ayah dan rintihan bunda, nggak nyangka aja punya ayah dengan kekuatan penuh," ujar Sena sambil memasang helmnya dan mulai melajukan sepeda motornya. **** Satu jam kemudian, Nanta menarik selimut, menutupi badan istrinya yang lemas dan dirinya masih saja merasa terheran-heran, mengapa selalu saja seperti ini saat menyentuh istrinya, tak ada kata bosan dan lelah, ia usap lengan Devi dan menciuminya lagi. "Tidurlah sayang, maafkan aku," bisik Nanta parau saat Devi tak mampu lagi bergerak, hanya memejamkan matanya dan tidur meringkuk membelakangi suaminya, memeluk erat gulingnya dan berusaha menyamankan tidurnya, meski lelah tak tertahankan. Saat akan memeluk Devi ia dikagetkan suara dering dari ponselnya. Nanta meraih ponsel yang ada di meja kecil dekat tempat tidurnya, ia lihat nomor tak dikenal melakukan panggilan dan malam-malam pula. Perlahan ia angkat dan didekatkan ke telinganya. Yaaa selamat malam Selamat malam, saya Brotoseno, suami adik anda, Wulan, temui saya di hotel ......., bukankah anda ingin bertemu adik anda, saya tunggu besok siang jam dua belas.. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN