#31

1536 Kata
"Ini hotel di Kintamani kan ya bang?" tanya Ejak yang baru saja datang saat mendengar nama hotel yang disebutkan oleh ayahnya. "Iya bener, di Kintamani itu, hotelnya biasa saja yah, nggak bagus banget, nyaman juga sih tapi heran juga ya yah, katanya suami bu lik Wulan kaya kok nginepnya di hotel itu?" tanya Sena. "Dia hidup dan menghidupi dirinya serta anak buahnya dari dunia illegal, tidak akan berani dia tampil di tempat-tempat terbuka dan ramai," ujar Nanta memberikan penjelasan. "Aku ikut mas, kalau ada apa-apa, kita mengalaminya berdua," ujar Devi. "Sena juga yah ikut.." "Ejak juga..." "Oklah kita bareng, Livi sekalian, besok jam sepuluhan lah kita berangkat, ada jeda satu jam sebelum kita ketemu dik Wulan sama orang itu," ujar Ananta. **** Keesokan harinya mereka berangkat dengan mengendarai mobil milik Devi menuju Kintamani. Jam sebelas lewat mereka telah sampai di hotel yang dituju. Mereka segera menuju restoran dan akan segera makan berlima. Ananta sadar jika sejak sampai dia dan keluarganya diamati oleh beberapa orang di sekitar hotel itu, namun ia pura-pura acuh, ia peluk bahu istrinya dan berjalan pelan bersama anak-anaknya juga. Mereka makan dengan nikmat, ada kebahagiaan yang tak ternilai dan tak pernah terbayangkan oleh Ananta bahwa ia akan berkumpul dengan anak istrinya seperti ini. Gurauan Ejak dan Sena sering membuatnya tersenyum, tingkah anak kembarnya sering membuatnya tertawa saat ia sendiri. Ananta menatap wajah istrinya yang masih terlihat lebih muda dari usianya, ia bersyukur istrinya masih menjaga cintanya, ia sering merasa bersalah saat ia jauh dari istrinya sempat beberapa kali dekat dengan wanita bahkan terlibat hubungan lebih jauh. Tanpa sadar tangannya mengusap lengan istrinya, Devi menoleh dan melihat mata suaminya menatapnya dengam mesra sambil tersenyum. "Hadeeeh ayah, kok ya sempat-sempatnya ngusap-ngusap bunda,  di depan kita lagi," ujar Sena sambil tertawa. "Biarlah bang, ayah sama bunda kan bulan madunya kayak nggak selesai-selesai memang," sahut Ejak pelan, Nanta dan Devi akhirnya tertawa mendengar kata-kata Ejak. "Maaf, benar bapak yamg bernama Pak Ananta Sastro Darsono?" tanya seseorang berbadan tegap, tinggi, besar. "Iya benar," sahut Ananta. "Mari ikut saya," ujarnya lagi. Mereka semua bangkit dan mengikuti laki-laki berbadan kekar itu. Meski tingginya sama dengan Ananta namun besarnya badan orang itu, dua kali lebih besar dari Nanta. **** Mereka mengikuti orang itu sampai melewati lorong kecil dan tiba di sebuah tempat, bagian belakang hotel itu yang ternyata memiliki satu ruangan yang sangat besar. Laki-laki itu mengetuk dan ada yang membukakan. Ananta,  Devi, dan anak-anak mereka masuk, mereka di suruh duduk. Mereka saling pandang tanpa bersuara. Tak lama terdengar langkah, pelan namun pasti lalu muncul laki-laki seusia Nanta, tampan, berkulit putih bersih dengan rambut rapi. Menggunakan kaos yang ditutup jaket kulit hitam, bercelana jeans dan lengkap dengan sepatu. Ananta dan keluarganya berdiri bersalaman dengan laki-laki tanpa senyum itu. Lalu mereka duduk kembali, laki-laki itu duduk agak jauh dan memandang Nanta tanpa melihat yang lain. "Mohon maaf, saya hanya punya waktu lima belas menit karena kami akan segera ke bandara untuk menuju Cina, Wulan akan ikut saya," ujar laki-laki itu dengan suara berat. Tak lama terdengar langkah pelan, lalu muncul di mulut pintu, Wulan adik Ananta dengan wajah lelah, namun kecantikannya tak berkurang, juga baju mewah yang ia kenakan tetap tak mengurangi gambaran wajah lelah dan tersiksa itu. "Mas," hanya itu yang terucap, melangkah cepat dan mencium punggung tangan kakaknya, lalu memeluk sekilas dan ia lepaskan lagi sambil sesekali melirik laki-laki tampan tanpa senyum itu. Lalu ia menoleh dan kaget saat melihat wajah Devi, memeluk Devi dan air matanya hampir jatuh namun ia tahan, karena Wulan takut pada siksaan suaminya jika ia sampai mengeluarkan air mata. "Ini anak kami Wulan,  Anta Sena dan Anta Reja, serta Livia yang sudah kami anggap seperti anak," Devi memperkenalkan anak-anaknya yang dengan hormat mencium punggung tangan bu liknya. "Maafkan aku mbak, mas, aku...,"suara Wulan terbata-bata, namun belum selesai suaminya sudah memeluk pinggangnya dan berdiri di sampingnya. "Maaf kami harus pergi, Wulan selalu ikut kemana saya pergi," ujar Brotoseno. "Apakah boleh suatu saat saya ajak Wulan ke rumah? " tanya Ananta. "Saya suamimya, saya lebih berhak menyuruh dia harus ke mana," sahut suaminya dan Ananta merasa tidak punya kata-kata yang tepat lagi. Sebelum pergi suami Wulan memberikan map pada Ananta. "Ini, yang membuat Wulan harus selalu dengan saya, jika tidak maka selesai sudah hidupnya," Brotoseno dan Wulan segera berlalu dari hadapan mereka, ada keengganan dari mata Wulan tapi ia tak punya kekuatan. Ananta membuka map dengan cepat dan gerahamnya mengeras dengan mata berkaca-kaca, ia tidak percaya ibunya melakukan ini, surat perjanjian penyerahan Wulan pada Brotoseno, di sana tertera tanda tangan ibunya yang sangat ia kenal dan tanda tangan Brotoseno yang akan membuat selamanya Wulan terikat. Ananta membaca surat itu sekali lagi, alangkah banyaknya uang yang dijanjikan oleh Brotoseno, dan itu memang dipenuhi oleh lelaki itu, sampai saat ini ada di rekening ibunya yang telah ia pindah tangankan padanya, bahkan selain uang itu Brotoseno juga rutin mengirim uang pada ibunya semasa hidup yang ia tolak setelah ibunya meninggal. Tiba-tiba Ananta tersadar dan mengejar Brotoseno, saat sudah dekat beberapa anak buah Brotoseno mencegatnya, Brotoseno yang hendak menutup pintu mobil, memberi kode pada anak buahnya agar membiarkan Ananta mendekat. Brotoseno ke luar dari mobil dan menunggu Ananta mendekat. Sambil terengah Ananta memperlihatkan map ditangannya. "Maaf, jika uang anda saya kembalikan lagi, apa adik saya bisa anda kembalikan pada saya?" suara Ananta membuat Brotoseno memandangnya tajam. "Anda tidak bisa menggagalkan perjanjian yang dibuat oleh ibu anda, jika ibu anda yang meminta akan saya pertimbangkan, masalahnya ibu anda sudah meninggal dan satu lagi hanya adik anda yang bisa memuaskan saya," Brotoseno masuk ke dalam mobil, mengempas pintunya dan meninggalkan derunya di hadapan Ananta. Pandangan Ananta mengabur, ia merasa tidak berguna sebagai kakak, tidak bisa menyelamatkan adiknya. Ia kaget saat bahunya ditepuk oleh laki-laki tua yang terlihat masih gagah berdiri di belakangnya, tersenyum padanya seolah berusaha menenangkan kegundahannya. "Anda harusnya bersyukur, dari sekian istrinya, adik anda yang paling disayang, istrinya yang lain kadang ia ijinkan jika pengawalnya ingin menyentuhnya, tapi jangan harap ada satupun yang bisa menyentuh adik anda selain dia, akan ia bunuh," ujar laki-laki tua itu. "Bagaimana bapak tahu?" tanya Ananta ragu. "Sejak menikah dengan adik anda, ia sering ke sini, menengok laki-laki tua ini, semua ini berkat adik anda, meski anak saya kerap menyiksanya, namun ia tetap berbakti pada anak saya, memberi banyak pengaruh baik padanya, sedikit-demi sedikit ia mengikuti apa yang adik anda inginkan, jadi ijinkan saya meminta, biarkan adik anda bersama anak saya, saya ingin ia jadi orang baik," ujar laki-laki tua itu. Ananta menoleh pada anak dan istrinya yang berdiri tak jauh dari dirinya, di belakangnya dengan beberapa pengawal di sampingnya. "Dan saya akan membiarkan anak anda menyiksa adik saya, kakak macam apa saya jika saya tenang-tenang saja sementara ia menderita," Ananta menatap laki-laki tua itu yang terkekeh dan menarik tempat duduk, lalu ia hempaskan dirinya di tempat duduk. "Tidak benar-benar menyiksa sebenarnya, anak saya punya kelainan, jika akan b******a dengan adik anda maka ia akan menyiksanya dulu, awal-awal ia sempat menangis, menjerit dan hendak melarikan diri, tapi saya nasehati agar ia bersabar dan lama-lama ia menikmati siksaan itu, yang perlu anda tahu ia bukan benar-benar anak saya, saya menemukannya di jalanan, sekarat, saya besarkan ia dengan cara saya, jadilah ia penguasa di dunia kami, dunia yang tidak akan pernah anda pahami," ujar laki-laki tua itu. "Boleh saya tahu nama bapak?"tanya Ananta. Lagi-lagi laki-laki itu terkekeh. "Apalah arti sebuah nama, orang terbiasamemanggil saya Budi Bogang," ujarnya tertawa lepas dan badan Ananta menegang, ia tidak percaya laki-laki yang sejak ia muda namanya sudah ia kenal malang melintang di dunia hitam ternyata ada di hadapannya dan terlihat tidak bertenaga lagi. "Saya hanya tahu nama bapak, siapa yang tak kenal bapak, yang saya herankan bapak dan gerombolan bapak, pernah masuk bui, tapi bapak masih bisa menjalankan usaha illegal bapak dari sana," ujar Nanta heran. Kembali terdengar tawa pria tua itu. "Anda orang baik-baik, anda tidak akan mengerti meski saya jelaskan," sahut laki-laki itu. "Jika sudah selesai pergilah,  anak saya tidak suka jika saya terlalu dekat dengan orang yang baru saya kenal,"  laki-laki itu bangkit lalu beberapa pengawal mendekatinya dan mengiringi langkahnya. Ananta menatap anak dan istrinya yang masih menatapnya dengan tatapan bingung. "Bagaimana yah,  lalu bagaimana bu lik yah?" tanya Sena. "Ayah hanya bisa mendoakannya Sena, semoga ia baik-baik saja, menunggu kabar lagi, kapan melihat bisa Wulan, yang penting ayah tahu, di sini tempat tinggal orang tua suami bu likmu," suara Ananta terdengar pelan. "Tapi Sena tidak yakin yah, jika laki-laki tua itu tinggal di sini, Sena yakin ia akan pindah-pindah, ini hotel yah, hoteeel," ujar Sena. "Ah sudahlah, kita kembali saja," semuanya melangkah menuju mobil. **** Ananta mengemudi dengan pikiran gamang, memikirkan adiknya yang wajahnya terlihat tak bahagia. Tiba-tiba ponsel di saku Ananta berbunyi, ia segera mencari tempat aman untuk menepi, karena dering ponselnya tak kunjung berhenti. Ananta mengambil ponsel di dashboard, ia lihat panggilan tak dikenal, namun ia terima. Yaaa halooo Mas jangan temui Wulan lagi, Wulan bahagia dengan mas Broto, jika mas Nanta sayang pada Wulan, jangan temui Wulan, Wulan akan menelpon mas jika ada waktu... Dan suara Wulan hilang setelah itu.. "Siapa mas?" tanya Devi. "Wulan, dia menyuruhku jangan mencarinya lagi, katanya dia bahagia, aku malah semakin curiga, bahkan nama suaminya pun aku yakin hanya nama samaran," desah Ananta semakin menambah bingung anak dan istrinya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN