Sesampainya di rumah, Sena dan Ejak menuju kamar, sedang Livia langsung ke dapur, memasukkan bahan-bahan masak yang tadi sempat di beli, di mini market oleh bundanya.
****
"Nggak ke kamar mandi dulu mas, bersih-bersih, mandi atau apa?" ujar Devi sambil menjepit rambutnya dan mulai membuka baju, berganti baju rumah.
Nanta menatap Devi yang membuka bajunya satu persatu, lalu memakai baju rumah yang santai.
"Kenapa mas diam saja?" Devi melangkah menuju tempat suaminya merebahkan diri di kasur.
"Nggak papa, aku hanya berpikir, adikku pasti kesakitan, laki-laki itu mengidap kelainan, kata laki-laki tua yang mengaku bapak angkat Brotoseno, adikku selalu disakiti oleh suaminya tiap kali mereka makeout, aku tak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya, kadang mereka gak berhenti sampai pasangannya berdarah-darah, ssshhhh aaah adikku, aku tak bisa membayangkan, aku saja yang bersikap lembut padamu, kamu selalu lelah dan minta berhenti," Ananta menatap lembut wajah istrinya dan mengusap lengan terbuka Devi.
"Lembut apanya, kapan mas merasa berlaku lembut, hmmmm kok bisa nggak merasa selalu aneh-aneh," ujar Devi memukul d**a suaminya dan senyum Ananta melebar.
"Aku kan tidak menyiksamu, dan kamu sepertinya menikmati, " sahut Ananta cepat.
"Yaaa mau gimana lagi," ujar Devi terlihat jengkel dan tawa Ananta semakin jadi.
"Kamu ini loh aneh, marah-marah, kalau aku menyakitimu kamu tidak akan pernah selalu sampai berkali-kali," Devi menutup mulut suaminya karena wajahnya mulai memerah.
"Awas ya nggak aku kasih, aku mau mandi saja," Devi melangkah menuju kamar mandi dan Ananta menyusul dari belakang menggendong istrinya dan Devi menjerit karena kaget.
****
Sena dan Ejak kaget saat mendengar suara jeritan bundanya, tapi menghilang tak lama kemudian.
"Bang, bunda kenapa ya, aku kawatir jatuh apa gimana?" Ejak hendak bangkit dari tidurnya dan Sena menarik lengan Ejak.
"Eh eeeeh mau kemana, sok tahu aja, itu bunda proses bikin adik kita, kamu ini," Sena merebahkan badannya lagi dan menutup matanya.
"Eh masak sih," Ejak cengar-cengir menahan malu, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah tidur, jangan dekat-dekat kamar ayah bunda," ujar Sena dan Ejak mengangguk dengan cepat.
****
"Mas, matur suwun, aku boleh menelpon mas ku," Wulan menatap takut-takut pada suaminya dengan suara lirih.
"Hmmmm," jawaban singkat Brotoseno.
"Wulan, sudah kau minum vitamin dan obat yang aku berikan padamu?" tanya Brotoseno lagi.
"Sampun mas," sahut Wulan lirih.
"Bagus, sesampainya di Cina kau segera membersihkan badan dan segera datangi aku, ingat jangan menangis atau berteriak jika kau ingin baik-baik saja" suara Broto penuh penekanan.
"Inggih mas," sahut Wulan lagi.
Broto menghela napas, selama perjalanan ke bandara mereka diam sama.
Bahkan saat pesawat takeoff mereka berbicara dengan pikiran masing-masing, meski akhirnya Wulan segera tertidur.
Broto menatap wajah Wulan saat tertidur, ia mulai membeci dirinya yang terkadang timbul rasa kasihan pada Wulan, perasaan yang sudah sangat lama ia buang.
Ia memupuk rasa benci dan membuang jauh-jauh rasa kasih, sayang dan cinta, perasaan itu hilang saat berusia tujuh tahun ia melihat dengan mata kepalanya, ibunya yang diperkosa sampai berdarah-darah oleh lima orang hingga meninggal di depan matanya.
Brotoseno kecil hanya tahu bahwa saat ibunya sekarat, tiba-tiba masuk wanita ke rumah kumuhnya dengan tawa penuh kemenangan, mengatakan ibunya jalang, dan bersyukur karena mati dengan cara mengenaskan.
Sejak kecil Brotoseno tak tahu siapa ayahnya, yang ia tahu ada laki-laki kaya yang rutin memberinya uang pada ibunya, meski ia tak pernah turun dari mobil mewahnya, Brotoseno tahu jika laki-laki itu tampan.
Sejak hari itu, Brotoseno hanya tahu bahwa cinta itu sakit dan pedih. Ia hidup bertahan sendiri setelah ibunya dikebumikan oleh para tetangga.
Ia hidup dijalanan, bertahan dari para preman dan rukang palak lainnya, hingga terlibat perkelahian dan hampir mati sia-sia seandainya ia tak ditemukan oleh bapak angkatnya yang membuatnya menjadi seperti saat ini.
Kembali Brotoseno menghela napas, lalu ia pejamkan matanya, mengusir rasa kasihan pada wajah lelah yang sangat lelap tertidur.
Maafkan aku jika kau akan merasa kesakitan lagi, itulah caraku melampiaskan hasrat, tak akan pernah sampai jika tak melihat darah dan erang kesakitan, tapi mengapa tiap melihat wajah kesakitanmu aku ingin menghentikan semuanya..ah kau benar-benar setan kecil...aku harus membuang rasa kasihan, aku harus lebih keras menyiksamu tapi matamu, matamu seolah memohon...aaaah..tidak..tidak buat apa aku meminta maaf, setelah semua uang yang keluarganya terima dariku...
****
"Ternyata benar, laki-laki tua yang mengaku sebagai orang tua dari Brotoseno tidak selalu menetap di sana," ujar Ananta sesampainya di rumah Devi kembali setelah ia dari Kintamani tepatnya dari hotel yang kemarin ia datangi.
"Sudahlah, yang penting mas sudah melihat dik Wulan, selanjutnya kita tunggu perkembangan, tapi melihat kondisi dik Wulan meski lelah, ia baik-baik saja kok mas, badannya juga terawat dengan baik, kita doakan saja yang terbaik untuk dik Wulan," Devi berusaha menyemangati suaminya.
****
"Mbak Wida, syukurlah mbak ikut, aku bingung dari tadi," Wulan berlari mendekap Widati istri pertama Brotoseno, satu-satunya dari sekian istri Broroseno yang selalu baik padanya bahkan selalu melindunginya.
"Broto memintaku menemanimu, ia tahu kau asing di Guanzhou ini, ayo mandi dulu, bersihkan dirimu, nanti aku antar ke kamar Broto," Wida membuka pintu kamar mandi, menghidupkan keran air dan menyiapkan peralatan mandi untuk Wulan.
"Mbaaak jangan, aku bisa melakukan sendiri, mbak istri pertama mas Broto, harusnya aku yang melayani mbak," Wulan kembali memeluk Widati dan Wida tersenyum menatap Wulan yang nyaman dalam pelukannya.
"Kau anak baik, makanya Broto sangat menjagamu, kau tidak seperti istrinya yang lain, yang berani melawan Broto dan juga aku," ujar Wida mengelus rambut Wulan.
"Maafkan aku mbak, mbak pasti membenciku karena menjadi istrinya yang kesekian," ujar Wulan lirih. Terdengar tawa pelan Wida.
"Ini rahasia kita, aku memang istri pertamanya, ia mengambil paksa aku dari suamiku, tapi anehnya ia tak pernah menyentuhku meski sekali, kau tahu alasannya, karena aku mirip ibunya begitu yang ia katakan padaku, awalnya aku membencinya, tapi dengan seiring waktu, aku berusaha menikmati hidupku, ah sudahlah, ayo mandi dulu, jangan buat ia menunggu," Wida memberikan bathrob pada Wulan.
****
"Bun, Sena sama Ejak balik ke Denpasar dulu ya, besok perkuliahan dah aktif lagi," Sena dan Ejak pamit pada bundanya.
"Dan ayah dah seminggu di Jogja, gak kangen ayah bun?" tanya Sena menggoda bundanya.
"Ah kamu ini, nanti malam ayahmu akan sampai di Ubud, atau paling lambat dini harilah," sahut Devi menanggapi gurauan Sena.
"Ayahmu punya usaha lain lagi selain hotel, dia baru saja membuka cafe baru, kejutan katanya untuk bunda, cafenya di kasi nama bunda kok, entah kapan bunda akan di ajak ke sana, kalau bunda mau dan ada waktu akan ke sana pastinya," ujar Devi lagi.
"Iya dah bun, berangkat ya bun," suara Ejak akhirnya terdengar setelah akan naik motornya.
Devi mengantar sampai pagar depan, menatap motor kedua anaknya sampai menghilang dari pandangan matanya. Lalu melangkah masuk dan menutup pintu pagar, namun ia cepat menoleh saat pintu pagarnya terbuka lagi.
"Victor?" suara Devi tercekat saat melihat laki-laki itu lagi.
****