"Berbaringlah istri mungilku," bisikan Broto di telinga Wulan terasa dingin menembus hatinya.
Ia mulai merasakan suaminya mengikat tangan kanan dan kiri pada ujung kasur, juga kedua kakinya.
Wulan memejamkan matanya, ia tahu kesakitan apa yang akan ia alami, ia mulai terbiasa, ia harus menikmati kesakitan dan kematian secara bersamaan. Biasanya Broto akan menutup mata Wulan menggunakan kain hitam, namun entah malam ini ia biarkan mata Wulan tanpa penutup.
Sekali hentak baju tidur wulan terbuka, ia tidak menggunakan apapun di dalamnya, ia tetap memejamkan matanya, berusaha tenang, saat pelan tapi pasti suaminya menciumi ujung kakinya dan merambat naik hingga pangkal pahanya dan ia mendesis pelan saat kenikmatan dan kesakitan datang hampir bersamaan.
Tetesan lilin yang panas mulai jatuh kepermukaan kulitnya mulai dari pangkal pahanya, terus naik ke perut, ke d**a, setetes demi setetes dan setiap tetesan itu menyentuh kulitnya Wulan mendesis kesakitan, tapi ia tidak berteriak, menangispun tidak.
"Good girl, mendesislah manisku, tampakkan wajah kesakitanmu, ya begitu," suara lembut Broto seolah menyihir Wulan untuk menikmati permainan menyakitkan namun mulai Wulan nikmati.
Perlahan Broto mulai membuka bajunya, lalu menyejajarkan badannya di atas badan Wulan, mencengkeran leher Wulan hingga mendongak, mencium dengan kasar dan mengigit bibir istrinya.
Wulan merasakan bibirnya yang perih, ia merasakan darah mengalir di bibirnya, namun ciuman panas Broto mampu mengalihkan kesakitan itu, juga saat tanpa isyarat, Broto memasukinya, menghentaknya dengan liar, hingga badannya terguncang, Wulan menikmatinya sebagai bayaran karena ia telah memisahkan cinta kakak dan istrinya selama puluhan tahun.
Setiap kesakian yang ia terima dari suaminya selalu Wulan hitung sebagai buah karena ia telah memenjarakan hati kakak dan iparnya.
Broto menatap badan lemah tak bertenaga Wulan, ia buka ikatan tangan dan kaki istrinya, setelah satu jam lebih ia mengurungnya di kamar besar itu.
Lalu ia usap d**a istrinya yang bersinar dan basah karena keringat, ia ciumi lebam di leher istrinya karena genggamannya yang kasar dan terlalu kuat tadi. Juga lebam di lengan dan paha istrinya.
Broto benar-benar membenci dirinya mengapa sebulan ini selalu saja ada penyesalan tiap kali melihat lebam itu, ia tidak mau perasaan itu merajai hatinya.
Ia peluk badan Wulan yang tak bertenaga, ia ciumi punggungnya, meraup d**a kecil Wulan dengan tangannya, terdengar desah Wulan.
"Kau menikmatinya?" Broto merasa aneh pada dirinya sendiri, karena selama ini, b******a dengan gaya apapun ia tak pernah berpikir apa yang dirasakan oleh pasangannya.
Saat Broto melesakkan miliknya dari belakang, kembali Wulan mendesah bahkan memanggil namanya, seketika badan Broto meremang ia menikmati panggilan itu, menumbuknya dengan kasar dan berakhir dengan geraman Broto setelan setengah jam lewat.
"Terima kasih mas," suara Wulan terdengar lemah dan tidur meringkuk.
Hati Broto serasa di remas, selama Wulan menjadi istrinya, baru kali ini ia mendengarnya mengucapkan terima kasih. Mengapa ia diam saja, mengapa ia tak menyiksa Wulan, biasanya ia tidak akan pernah membiarkan istri-istrinya merasakan kenikmatan, ia hanya ingin kesakitan yang diterima oleh istrinya.
Broto mengusap wajahnya dengan kasar, lalu beranjak dari kasur besarnya menuju kamar mandi.
****
Semalaman Wida menunggu dipanggil Broto untuk mengurus Wulan ternyata sampai dini hari ia belum juga dipanggil.
Hingga pagi hari ia mendengar pintu diketuk, ia buka dan melihat Wulan yang sudah mandi dengan rambut basah.
Wida memeluk Wulan, menariknya masuk. Merebahkan Wulan lalu membuka baju tidurnya.
Segera ia mengoleskan krim pada lebam-lebam di leher, lengan dan paha Wulan.
"Istirahatlah, nanti mbak bangunkan, kamu...maaf dari semalam sampai pagi?" tanya Wida dengan pertanyaan yang Wulan pahami.
"Nggak mbak, hanya tadi malam saja, nggak lama kok, tumben juga, nggak sampe dua jam," jawab Wulan dan Wida terbelalak.
"Oh ya, dia membiarkanmu tidur semalaman di kasur yang sama, sungguh aneh, tidak biasanya mas Broto begitu, syukurlah, mbak senang kamu baik-baik saja," Wida kembali memeluk Wulan.
"Tidurlah, nanti mbak bangunkan," suara lembut Wida mengantarkan Wulan ke alam mimpi.
****
"Untuk apa kamu menemuiku lagi?" tanya Devi berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Mama yang ingin menemuimu, aku tak tega menolak, ia ulang tahun lalu.......," belum selesai Victor berbicara, muncul seraut wajah yang sangat dikenal Devi yang nergegad memeluknya.
Devi tercekat dan kehilangan kata-kata, saat wanita paruh baya itu memeluknya dengan erat lalu melepas pelukannya memandang Devi dan mencium pipinya.
"Kau boleh menjauh dari Victor, kau boleh tidak berjodoh dengannya, tapi jangan benci aku Devi, aku menyukaimu, aku terlanjur menganggapmu anakku," mata mama Victor berkaca-kaca.
"Iii iiya mama Devi tidak membenci mama, hanya Devi kaget dengan kemunculan Victor. Devi sudah menikah mama, jadi Devi tidak bisa sembarang menerima laki-laki di rumah ini, tapi karena dengan mama dan ah ya sekarang bulan..selamat ulang tahun mama," suara Devi menjadi serak.
Mereka berpelukan lagi dengan haru, dulu saat awal Victor datang ke ubud ia pernah membawa serta mamanya dan sangat dekat dengan Devi namun perlahan saat Devi menyadari perubahan Victor, ia mulai menjauh, saat itu, ia hanya ingin serius berpikir tentang hidup anak-anaknya.
Ketiganya lalu duduk di teras, Devi merasakan mata Victor yang terus menatapnya sejak ia sampai, meski jengah dan salah tingkah Devi berusaha bersikap wajar.
Mereka berbicara sekitar hampir satu jam, mama Victor memberi beberapa oleh-oleh yang ia bawa, dan Devi segera melesat masuk, ia ingat membeli beberapa batik khas Jogja saat beberapa waktu lalu berada di Jogja bersama suaminya, memberikan beberapa kepada mama Victor sebagai bingkisan ulang tahun.
Tak lama mereka pamit, sekali lagi mama Victor memeluk dan menciumnya.
"Jangan usir aku Devi jika aku ke sini lagi karena aku terkadang rindu saat-saat kita bersama dulu," ujar mama Victor, Devi hanya mengangguk dan tersenyum.
Devi kaget saat tiba-tiba Victor juga memeluknya dan Devi segera mendorong badan Victor.
Wajahnya bersemu merah karena kaget tak mengira Victor melakukannya.
"Maaf, Dev, dan terima kasih telah menerima mama," suara serak Victor hanya dijawab anggukan oleh Devi.
****
Setelah keduanya menghilang Devi segera menutup pintu pagar dan berjalan masuk ke rumahnya, baru saja hendak masuk ia mendengar pagar terbuka dan muncul wajah suaminya yang ia rindukan.
Seketika Devi berbalik, tersenyum lebar dan berlari, melopat memeluk Ananta.
Badan besar Ananta menangkap badan Devi, berjalan masuk ke dalam rumah sambil menggendomg istrinya.
"Kamu seperti bayi koala yang menempel pada induknya," tawa pelan Ananta menyadarkan Devi yang segera turun setelah menciumi wajah suaminya.
"Maaf sayang tadi kalau tidak salah, aku melihat dari jauh bule itu lagi keluar dari rumah ini bersama seorang wanita tua, benar?" tanya Ananta penasaran.
"Yah, dia bersama mamanya, maafkan aku yang tak bisa menolak mama Victor, ia berulang tahun dan ingin bertemu denganku, maafkan aku," Devi menatap wajah suaminya yang menatapnya penuh tanya lalu memeluknya.
"Hmmmm aku tidak bisa berkomentar sayang, yang penting kamu bisa jaga diri, aku percaya padamu, dua puluh tahun kamu bisa jaga diri, jika hanya seminggu kita terpisah tak masalah bagiku, kita masuk, aku haus," suara Ananta semakin pelan berbisik ke telinganya dan Devi mengerti maksud suaminya,mereka bertatapan, senyum mereka mengembang tanpa terasa dan kembali Ananta menggendong Devi membawanya masuk ke dalam kamar.
****
Livia baru selesai sarapan, segera mencuci piringnya dan akan segera ke toko roti pagi ini, baru minggu depan perkuliahan akan dimulai.
Ia melangkahkan kakinya ke kamar bundanya hendak pamit saat terdengar suara-suara aneh.
Livia segera mundur dan lewat pintu samping sambil geleng-geleng kepala terssenyum sendiri sambil menutup dan mengunci pintu, ia membawa kunci duplikat.
****
Saat sampai di toko roti, Livia melihat Victor yang menyendiri di pojok, melamun menatap lalu lalang kendaraan yang ramai.
Livia diam saja, ia terus melangkah namun saat akan melewati meja kasir ia merasa lengannya ada yang menarik saat berbalik ia melihat badan menjulang Victor.
"Hai, kamu Livia kan, apa bunda kamu masih di rumah sekarang, kok kamu yang ke sini?"
****