#34

1329 Kata
"Ya bunda sedang berdua dengan ayah di rumah, di kamarnya, ada perlu apa sama bunda, nanti Livia sampaikan," ujar Livia dan Victor kaget. "Kamu tidak berbohong kan?" tanya Victor ragu. Livia menghela napas. "Ayah baru saja datang setelah seminggu di Jogja, tadi saat aku mau pamit mereka di kamarnya sedang eeemm ya begitulah mesra-mesra berdua...," ujar Livia dam mata Victor terlihat menatapnya tajam. "Jangan membuatku marah," ujar Victor. "Om ini aneh, tadi tanya, kalau di jawab jujur marah, gimana sih," dan Livia meninggalkan Victor. **** Livia kaget saat sedang melihat beberapa laporan yang disampaikan oleh bagian keuangan tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Ya buuun, iya, nggak papa, biar Livi nanti ke dua toko roti yang lain, hahahaha iya iyaaa Livi ngerti kok, senengin ayah dulu, mungkin nanti Livi agak malam, mau ke rumah teman bun, ada perlu bentar,  ok bundaa baaai," Livi meletakkan kembali ponselnya. Tak lama kembali ponselnya berbunyi, ternyata dari Ejak. "Haloooo, iya, sendiri, bunda lagi sama ayah...nggak papa, sudah, aku sudah makan, ok bai," suara pelan Livia membuat karyawan bundanya tersenyum melihat Livia yang salah tingkah. **** Livi melihat jam tangannya, tak terasa jam dua belas malam lewat saat ia meninggalkan rumah temannya. Livia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang saat melaju di jalan. Saat ia membelokkan mobilnya di perempatan, ia melihat laki-laki yang posturnya sangat ia kenal, berjalan terhuyung dan saat dekat ia melihat dengan jelas wajah Victor. Gila bener nih bule pake acara mabok, segitunya cinta sama bunda kok ya sampe gini. Namun akhirnya Livia turun dari mobilnya dan membawa Victor yang berbicara tak jelas. Saat bertanya di mana tempatnya menginap ia menjawab dengan samar sebuah guesthouse. Livia segera melajukan mobilnya menuju tempat itu. **** Livia kesulitan memapah tubuh besar Victor, sambil menggerutu ia mendekati meja resepsionis dan bertanya apakah benar Victor menginap di tempat itu, ternyata memang benar bahkan, bahkan seorang roomboy mengatakan guesthoust ini langganan Victor tiap berkunjung ke Ubud. Setelah menerima kunci kamar Victor,  Livia membawa Victor ke kamarnya. ***** "Heh bule gila mana mamamu, kayaknya tadi pagi kamu sama mama kamu waktu ke rumah, biar dia yang urus, aku mau pulang," Livia segera beranjak dari kamar itu saat ia mendengar suara muntah Victor. "Idih pake muntah lagi, heran deh baru kali ini ada bule gak kuat minum, ih bikin capek aja," Livia berbalik dan melihat Victor yang menatapnya. "Devi, aku mo..hon..kem..ba..li," ujarnya terengah dan kembali muntah. "Yaaaah si om, aku bukan bundaa, tuh kan ke baju sama celananya lagi, mana bau lagi," Livia menbuka kaos Victor, meletakkannya di sudut kamar dan mengambil air mineral botol serta tisu, membasahi tisu lalu merebahkan badan Victor mengusap badannnya yang bau terkena muntah tadi. Tangan Livia gemetar saat tangannya menyentuh badan Victor yang keras, seumur-unur baru kali ini ia menyentuh langsung kulit laki-laki dewasa. Lalu perlahan membuka gesper celana Victor, menarik resliting celananya dan menarik turun celana yang terkena muntah itu. Ada gejolak aneh saat melihat badan laki-laki yang sedari tadi menyebut nama bundanya, dengan hanya menggunakan boxer laki-laki di depannya tiba-tiba memeluk Livia. Livia kaget dan mendorong sekuat tenaga badan besar Victor. "Devi,  jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu," suara Victor yang meracau tak jelas membuat Livia semakin takut. Victor meraih dagu Livia dan meraup bibirnya, mencium dengan rakus dan semakin menjadi, Livia tak kuasa menolak. Sekali lagi ada bagian dari tubuh Livia yang tak bisa ia mengerti seperti menikmati gerakan kasar Victor. Meski berkali-kali mendorong, badan kecil Livia tak sebanding dengan kekuatan Victor. Saat ciuman Victor beralih ke lehernya Livia semakin lemas dan ia mulai panik, berkali-kali ia memohon namun bibir Victor semakin menyesap leher dan dadanya, yang kancingnya mulai terbuka. Dress selutut Livia sudah tidak pada tempatnya. Gerakan kasar tangan Victor di pahanya dan bibir Victor yang mulai menyesap d**a Livia membuat gadis kecil itu tak mampu lagi bergerak ia merasakan tubuhnya lemas dan tanpa terasa ia memeluk punggung Victor. Livia hanya meneteskan air mata saat terakhir yang ia rasakan pahanya di buka lebar dan penutup terakhirnya entah kemana, ia merasakan sakit teramat sangat,  ia gigit bahu Victor yang badannya mulai bergerak kasar, rasa sakit yang tiada terperi serta nikmat yang baru pertama ia rasakan bercampur baur. Satu jam berlalu, erangan Victor mengakhiri semuanya dan tersungkur di samping Livia dengan berkali-kali menyebut nama bundanya. Air mata Livia mengalir deras, bayangan wajah bunda dan Ejak berkelebat di matanya. Ada penyesalan mengapa tidak ia biarkan bule itu di jalanan, dan menyesal karena diantara rasa takut ia menikmati apa yang telah terjadi tadi. Namun rasa lelah teramat sangat membuat matanya menutup tak lama kemudian. ***** "Livia ke mana ya mas kok nggak pulang semalam, aku telpon bolak balik nggak bisa, aku nelpon ke nomor sahabatnya eh katanya semalam sudah pulang," suara resah  Devi membuat Nanta menoleh. "Coba kamu telpon mess karyawan,  siapa tahu dia di sana, biasanya juga sering di sana, mungkin dia ngerti sayang, membiarkan bundanya agar bisa bebas menjerit-jerit seperti tadi malam," Nanta mengoda Devi dan wajahnya memerah menahan malu. "Maaas nggak usah dibahas, mas juga sih," Devi kembali asik dengan ponselnya mencoba menghubungi Livia. **** Perlahan Victor bergerak, ia merasakan pusing teramat sangat, ia buka matanya hendak meraih guling dan kaget saat menyentuh badan Livia yang masih nyenyak. Ia kaget bukan main melihat dirinya dan Livia dalam keadaan seperti itu. Apalagi saat badan kecil Livia berbalik memunggunginya ia melihat bercak-bercak darah di sprei. "Tidak mungkin, tidak mungkin aku telah merusaknya, apa yang terjadi semalam," erangan Victor membuat Livia bangun, menutup badannya dengan bantal dan ketakutan. Victor menatap wajah mungil Livia, mendekatinya dan Livia terlihat takut. "Livia katakan, ceritakan kejadian semalam," pinta Victor. Dengan suara tersendat, Livia bercerita, air matanya mulai mengalir dan Victor meraih badan mungil Livia ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, maafkan aku Livia, aku tak sadar,  aku tak tahu apa yang terjadi semalam," suara Victor terdengar penuh penyesalan. Ada perasaan nyaman saat badan besar Victor menyentuh kulitnya secara langsung. Victor melepaskan pelukannya dan beranjak ke kamar mandi, sempat menoleh pada Livia. "Mandilah, lalu pulang, kita jangan pernah bertemu lagi, ini salah dan maafkan aku, namun jika terjadi sesuatu pada dirimu, aku akan bertanggung jawab," ucap Victor. **** Saat Livia hendak ke luar dari kamar Victor setelah ia mandi dan memakai pakaiannya lagi, tangan Victor menahan lengan Livia. "Terima kasih semalam menolong om, maafkan om yang telah merusakmu, om benar-benar tak sadar Livia, maafkan om, ingat kita jangan bertemu lagi, ini sebuah kesalahan, om bukan orabg b******k yang suka mencari kesempatan pada gadis muda sepertimu, om lebih memilih wanita dewasa dan melakukannya karena suka sama suka," tangan Victor melepas lengan Livia, gadis itu hanya mengangguk dan berjalan dengan menahan perih di pangkal pahanya. Victor menatap punggung Livia yang menjauh dengan penuh penyesalan, mencengkeram rambutnya dan berkali-kali menghembuskan napas kuat. **** "Livia sayang, dari mana semalam, bunda kawatir nak," Devi memeluk Livia saat ia masuk ke ruang makan. Devi memeluknya dan melihat wajah sedih Livia. "Kamu kenapa?" tanya Devi kawatir. "Nggak papa bun, maaf Livia nginap di rumah teman,  kecapean ngobrol sampe malem," sahut Livia. "Bunda nelpon kamu bolak balik, tapi nggak bisa," ujar Devi lagi. "Iya, lowbat bun, ya sudah Livi matikan, boleh Livia masuk kamar bun, Livi capek banget," sahut Livia. "Ooo iya iya dah sana tidur," ujar Devi. "Kayak nggak biasanya anak itu Dev," ujar Nanta. "Apa ada masalah sama Ejak ya?" Devi jadi berpikir yang lain. "Memang benar-benar pacaran tuh dua orang?" tanya Nanta tertawa geli. "Yaaa kayaknya sih," Devi akhirnya tertawa dan ponselnya berbunyi, ia meraih ponselnya di meja. "Iya sayang, apaaa Liviii,  iyaaa ini baru saja datang Jak, semalam nginap di rumah temannya, ponselnya lowbat katanya, nggak tengkar sama kamu kaaan, ooooh ya sudah nanti mama sampaikan, Livinya tidur Jak, iyaaa iyaaaa bai sayang," Devi meletakkan ponselnya. "Makin bingung,  Ejak bilang mereka gak ada masalah, paling mikir urusan kampus dia mas," ujar Devi. "Iya paling,  eh sayang, lusa, ikut aku yuk ke Jogja, aku banyak urusan dua bulan ke depan, nggak mungkin aku bolak balik ke sini, mau ya?" ajak Nanta. Devi hanya menatap wajah suaminya, tidak tega menolak ajakannya, tapi Livia, dan proyek menulisnya juga ada dipikirannya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN