#35

1105 Kata
"Sudah menelpon Sena dan Ejak sayang, kalau kita akan ke Jogja?" tanya Ananta. "Ya sudah, mereka, terutama Ejak akan menengok Livia ke sini, biasanya memang tiap minggu mereka pulang, nggak tahu kenapa minggu ini keduanya kok tidak pulang hampir dua minggu malah," sahut Devi resah. "Pasti banyak tugas sayang, aku lihat keduanya bukan anak-anak malas,mereka rajin dan tekun," ujar Nanta. " Livia ke mana ya mas?" Devi mencari Livia ke kamarnya namun tidak ada. "Tumben anak itu tidak pamit, aneh benar sejak kemarin," ujar Devi lagi. "Pasti terburu-buru dia sayang," sahut Ananta, Devi hanya mengangguk namun ia masih saja merasa ada yang aneh dengan Livia. **** Livia mengangkat ponselnya saat berdering beberapa kali. "Ya buuun, Livi ada di rumah teman, iyaaa maaf bun tadi terburu-buru, iya bun," Livia memasukkan ponsel ke dalam sling bagnya. Entah mengapa pikirannya membawa dia ke guesthouse itu lagi. Berharap Victor ke luar menemuinya. Sejak pagi pikirannya selalu saja teringat apa yang terjadi semalam, bukan rasa sesal yang ia rasakan tapi justru ada keinginan untuk menyentuh kulit Victor lagi. Livia merasa ia tak waras tapi dorongan itu terlalu kuat datang dari dalam dirinya. Perlahan ia langkahkan kakinya menuju guesthouse itu lagi. **** Victor beranjak dari pekerjaannya ia meninggalkan laptopnya dan menuju pintu saat terdengar ketukan, seingatnya ia tidak punya janji, mamanyapun sudah kembali ke negaranya. Victor kaget saat menemukan wajah mungil Livia di balik pintu. Livia memeluknya hinga badan Victor terdorong, ia tidak siap dan kaget. "Hei mengapa kembali ke sini, pulanglah, om minta maaf, om salah, kenapa, kamu marah pada om?" tanya Victor melepas pelukan Livia. Victor menunduk menatap wajah Livia yang terlihat sedih, mengingatkannya pada wajah keponakannya di Jerman sana, mungil dan selalu memelas. "Pulanglah, om tidak akan menganggumu lagi," ujar Victor pelan, pintu kamarnya masih terbuka. "Livi boleh di sini kan om?" tanya Livia pelan. Victor menggeleng. "Pulanglah, om banyak pekerjaan dan akan segera kembali ke negara om," suara Victor semakin pelan, berusaha menerka apa yang ada di pikiran gadis kecil di depannya, ia kaget saat tiba-tiba Livia berjinjit dan mencium bibirnya, meski sekilas ia cukup kaget. "Tidak boleh Livia, tidak boleh, om hanya akan melakukan dengan orang yang om cintai, maaf jika kejadian semalam menganggumu," Victor melihat mata Livia berkaca-kaca. "Boleh minta nomor ponsel om?" tanya Livia dan Victor mengangguk. **** "Livia sayang, bunda mau ikut ayah ke Jogja, kamu baik-baik di sini ya,  agak lama, mungkin dua bulanan, Sena dan Ejak sudah bunda kasi tahu, mereka akan sering ke sini," ujar Devi saat mereka makan malam. "Iya nggak papa bun," sahut Livia. "Kamu mengapa sayang, kok terlihat sedih dan bingung?" tanya Devi cemas. "Nggak papa bun, paling kecapean, " sahut Livia. **** Malam, lepas isyak Livia kembali berada di guesthouse itu lagi, Victor sampai dibuat bingung karena dalam sehari dua kali gadis mungil itu bertandang ke kamarnya. "Apa lagi Livi?" tanya Victor dan Livia menerobos masuk ke kamarnya. Victor berbalik dan menatap Livia yang mengerjabkan matanya, menatap Victor lalu memeluk erat tubuhnya. Victor tak tahu apa yang ada di pikiran gadis kecil di hadapannya. "Pulanglah Livi, pulanglah, om tidak ingin terjadi apa-apa lagi," Victor berusaha melepaskan pelukan Livia, yang membelit tubuhnya dengan erat. "Boleh kan kalau Livi meluk om?" ujar Livia pelan. "Jangan, tidak boleh, jangan karena peristiwa sesaat kita jadi sesat Livia, apa yang terjadi pada kita kemarin malam itu salah, mengerti, jangan terulang lagi, kamu masih muda, jalan hidupmu masih panjang, bisa lepaskan pelukanmu?" Victor berusaha bersabar. Livia semakin menyandarkan kepalanya ke d**a Victor. Ya Tuhan apa yang diinginkan gadis kecil ini... Perlahan Livia melepaskan pelukannya,  menatap mata Victor dan.... Perlahan membuka dressnya, segera Victor menghentikan gerakan tangan Livia, memeluknya dan kembali membujuknya pulang. "Jangan Livia, jangan, kau belum tahu bahwa hidup ini tidak hanya sekedar hal seperti itu, ingat apa yang terjadi pada kita semalam adalah salah, om memang hidup di negara maju, hubungan seperti kita tadi malam adalah hal biasa, tapi kamu, om tahu kamu sejak lama, tidak terlintas dalam pikiran om untuk b******a denganmu, kau lebih pantas jadi keponakan om, bahkan seandainya ayahmu tak kembali, aku sudah menikahi bundamu, mengerti, jangan seperti ini kepada om atau kepada siapapun," ujar Victor sambil memeluk Livia, lalu ia lepaskan pelukannya menatap wajah mungil di depannya. Sekuat tenaga Livia mendorong Victor hingga jatuh terlentang di lantai dan Livia segera menciumi laki-laki yang sejak tadi menolaknya. Victor kaget, dan sekali rengkuh tubuh Livia, ia sudah bisa menguasai badan kecil itu. Ia pegangi wajah Livia, berhadapan dengan wajahnya. "Dengarkan om, jika om mengulangi lagi perbuatan tadi malam padamu, berarti om memang b******k, om bisa saja sekarang menyentuhmu, tapi tidak akan om lakukan, karena om menghargai kamu sebagai wanita, pulanglah dan jangan pernah kembali lagi ke sini," Victor menggendong badan kecil Livia dan menurunkanya di depan pintu kamarnya. "Selamat malam Livia, terima kasih telah menolong om," Victor menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Berkali-kali terdengar gedoran hingga akhirnya hilang dengan sendirinya. Victor mengusap kasar wajahnya dan menggeleng berkali-kali. **** "Ayah dan bunda berangkat ya Livi, baik-baik di rumah ya, nanti malam Ejak dan Sena datang tapi lusa balik lagi ke Denpasar kayaknya," Devi memeluk Livia yang hanya mengangguk. **** "Aku kok kepikiran Livi ya mas," ujar Devi saat sudah di dalam pesawat. "Yah aku juga, tidak biasanya anak itu," sahut Nanta. **** Livia menatap nanar kamar yang ditempati Victor, ia diberitahu resepsionis bahwa Victor telah Checkout pagi-pagi sekali. Livia ke luar dari guesthouse itu dengan gontai. Apa yang aku rasakan ini, mengapa aku hanya ingin dia yang menyentuhku...semuanya terekam dengan baik dikepalaku, usapannya, ciumannya.. Dari sudut lain Victor menatap Livia yang berjalan gontai, ia menyuruh resepsionis agar mengatakan bahwa ia telah ke luar dari guesthouse itu, ia tidak ingin gadis cantik itu terus menggodanya, ia laki-laki normal, Victor tak ingin mengulang kesalahan pada gadis itu. **** "Ada apa Livia mengapa kau ingin menyudahi semuanya?" tanya Ejak kaget saat ia baru sampai dan Livia mengajaknya berbicara. "Tidak apa-apa, hanya aku sedang ingin sendiri, tidak terikat pada siapapun," Livia meninggalkan Ejak yang termenung di taman belakang. Ejak kembali mengejar Livia, menarik dalam pelukannya namun Livia mendorong badan Ejak perlahan. "Ada orang lain Livia?" tanya Ejak sedih. Livia diam saja, lalu mengangguk perlahan. "Siapa dia, aku boleh tahu?" Ejak berusaha menahan sakit di dadanya. "Dia jauh, dia tidak di sini, jadi biar aku sendiri, karena dia juga sendiri," suara Livia terdengar hampir menangis. Lalu bergerak cepat masuk ke kamarnya. **** "Masa sih Jak, nggak mungkin deh kayaknya, dua minggu lalu baik-baik saja kan kalian?" Sena menatap wajah adiknya yang terluka. "Entahlah bang, siapa laki-laki b*****t itu, yang begitu cepat mengubah Liviaku?" mata Ejak berkaca-kaca. Sena menepuk pundak adiknya mencoba memberikan kekuatan karena terkadang cinta memang mampu membuat hati hancur dalam sekejab. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN