#36

1095 Kata
"Aku balik duluan ke Denpasar bang," Ejak tiba-tiba meraih ranselnya dan melangkah cepat menuju motornya, meninggalkan raungan yang memekakkan telinga. Sena membiarkan adiknya pergi, ia yakin Ejak sedang ingin sendiri. Tak lama kemudian ia ke luar kamarnya menuju dapur, membuka tempat sayur dan menemukan rawon masakan bundanya. Ia mengambil piring dan menyendokkan nasi setelah membuka tudung magicjar. Menikmati sendiri rawon di ruang makan. Tak lama terdengar langkah mendekat, ia yakin itu langkah Livia. "Duduklah Livi, aku ingin bicara," Livia menurut dan duduk tanpa bersuara. "Ejak sudah ke Denpasar, aku biarkan dia karena aku yakin ia ingin sendiri, aku hanya tak mengerti mengapa kau menyudahi semuanya, kau dan Ejak tak pernah ada masalah, aku yakin kau bohong jika mengatakan ada yang lain, hampir tak ada laki-laki ke sini, aku tadi menelpon hampir semua orang yang mengenalmu di tiga toko roti bunda, tidak ada laki-laki yang dekat denganmu, aku juga menelpon sahabatmu di kampus, jawabannya pun sama, tidak ada yang dekat denganmu selain Ejak, kau bohong kan, tidak ada yang lain kan, mengapa kau mau bersama Ejak jika akhirnya kau meninggalkannya tanpa alasan," Sena menghembuskan napas kuat-kuat lalu melanjutkan makannya. Livia menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir. Ia menggelengkan kepalanya, teringat kembali wajah tampan Victor yang menciuminya dan menyentuh seluruh tubuhnya, badan tegap Victor serta erangannya yang memekakkan telinga namun seolah menyihirnya untuk ingin kembali disentuh oleh laki-laki itu, rasa sakit yang ia rasakan saat pertama melakukan hal itu hilang dengan sendirinya dan tergantikan dengan nikmat yang ia rasakan sampai detik ini. "Aku paling sudah gila mas, tak waras, aku mencintai laki-laki yang memperkosaku," suara lirih Livia mampu membuat Sena tersedak dan nasinya berhamburan di meja makan. Cepat ia raih air minum dan meneguknya sampai tandas dan menenangkan detak jantungnya. "Apa, kau bilang apa Livi, bagaimana bisa terjadi, kau jangan mengarang Livi, ya Allah apa yang sebenarnya terjadi?" Sena memandang wajah Livia yang kembali penuh air mata. Sena jadi tidak berminat melanjutkan makan, untung hanya tersisa sedikit. "Kau mau bercerita, berceritalah Livi, aku akan menyimpan rahasia ini jika kau mau seperti itu," Sena melihat Livi yang mengusap air matanya. Dengan suara tersendat ia ceritakan semuanya, lengkap bagaimana sejak awal ia membawa laki-laki itu ke guesthouse, membawanya masuk ke kamar hingga terjadi peristiwa itu,hanya satu, ia tak menyebutkan siapa laki-laki itu. Sena menghembuskan napas, menunduk dan tak mengerti mengapa Livia merasa tak ternodai, tak bisa benci pada laki-laki yang merusaknya. "Kau tak segera melaporkan pada polisi saat itu juga?" tanya Sena dengan bodoh. "Maaas bagaimana mungkin aku melaporkan dia pada polisi, aku ingin kembali padanya, tapi ia menolakku, mengatakan aku tak pantas mendapat perlakuan seperti itu, dia meminta maaf berulang, aku berkali-kali mendatanginya, tapi ia kembali menolakku?" air mata Livia semakin deras turun. "Ah berarti, dia laki-laki baik sebenarnya, kau berada di waktu dan tempat yang salah Livi," ujar Sena sedih. "Kau tak segera mengantisipasi Livi, minum obat atau apapun, kau bisa saja hamil kan?" Sena memberi saran. "Nggak mas, kalaupun aku hamil, akan aku jaga, akan aku rawat, aku menginginkannya mas, dia tiba-tiba hilang, kembali ke negaranya, aku punya nomor ponselnya, rasanya ingin menyusul ke negaranya tapi ke mana aku harus mencarinya?" kembali tangis Livia terdengar. "Ah Liviii, Livi, rumit, rumit sekali," saut Sena lirih. "Mas, jangan sampai mas Ejak dan bunda tahu ya, biarlah ini menjadi rahasia kita," pinta Livi dan Sena mengangguk. **** Sesampainya di Jogja, Devi menelpon Sena, terlihat berbicara agak lama. "Ada apa sayang?" tanya Ananta. "Entah ada apa, Ejak kembali ke Denpasar, tadi aku menelponnya karena Sena mengatakan adiknya sudah kembali ke kosannya, dari suaranya Ejak sedang tidak baik-baik saja, aaah rumitnya mikir mereka, belum lagi Livi yang terlihat aneh," Devi merebahkan badannya dan Ananta juga berbaring di dekat istrinya. Tiba-tiba ponsel Devi berbunyi nyaring, Nanta meraih ponsel dan memberikan pada istrinya. "Yaaaa oh ya sayang, kenapa, mau nyusul bunda, loh ada apa, iya iya, minta antar Sena ke bandara, hah sudah di bandara, nanti jika sudah sampai di Jogja telpon ya, iya hati-jati Livi," Devi terlihat resah. "Kenapa sayang?" tanya Ananta melihat wajah resah istrinya. "Livia dalam perjalanan menuju Jogja, ia sudah di bandara I Gusti Ngurah Rai, ah entahlah ada apa?" "Sabarlah, pasti semua akan baik-baik saja," Nanta berusaha menenangkan istrinya. **** Livia duduk termenung, ia menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawanya ke Jogja, ia merasa tempat itu akan membuatnya melupakan Victor, karena selama berada di Ubud, ia akan selalu ditarik oleh kakinya untuk melangkah ke guesthouse itu lagi. Ia hanya menatap lalu lalang orang dengan ekspresi lelah. Dari jauh Victor menghentikan langkahnya, saat melihat sosok mungil livia duduk termenung, hari ini ia akan kembali ke negaranya. Victor hanya mengawasi Livia dari jauh, berharap gadis kecil itu baik-baik saja. Setengah jam kemudian, ia melihat Livia akan boarding, ia terlihat mengirim pesan entah pada siapa. Saat akan menuju pesawat, ponsel Livia berbunyi, terdengar notifikasi masuk, ia berhenti sejenak, meraih ponselnya, membuka dan melihat siapa yang mengirim pesan. Ia baca dan matanya menjadi kabur karena air mata. Gadis kecil, ingat pesan om, segera kabari om, jika terjadi sesuatu padamu, om akan bertanggung jawab..see you... Livia menunduk dan menekan ponsel ke dadanya, air matanya bercucuran, namun ia segera melangkahkan kaki, memasuki pesawat. **** Victor berusaha memejamkan matanya, ia berusaha tidur setelah semalam lembur menyelesaikan penelitiannya tentang sejarah budaya beberapa tempat di Ubud. Namun bayangan wajah memelas Livia seolah membayangi dan lekat di pelupuk matanya. **** "Gimana Livia, sayang, apa sudah datang?" tanya Nanta saat larut malam baru sampai di rumahnya. "Sudah, tadi aku minta tolong salah satu anak buahmu untuk menjemput Livia di bandara, aku kawatir kamu sibuk," ujar Devi. "Sejak tadi dia hanya diam saja, dan puncaknya, tadi dia bilang ingin kuliah di sini saja, akan mengurus segala sesuatunya, mencari kampus yang akreditasinya sama dengan kampus yang di Ubud, apa ada ya sayang universitas swasta sekitar sini, dia tetap teguh ingin pindah, ah apalagi ini," Devi mengeluh sekali lagi. "Biar aku uruskan, aku akan minta tolong temanku, dia dosen di salah satu universitas swasta di sini," sahut Ananta. **** Sebulan sudah Livia di Jojga, ia akhirnya memang benar-benar pindah. Ada banyak perubahan, gadis ceria itu berubah menjadi gadis pendiam. Hingga suatu malam, saat Devi hendak ke dapur karena Ananta yang tiba-tiba kelaparan setelah aktivitas kerjanya seharian, ia mendengar tangis lirih dari kamar Livia. Perlahan Devi melangkah, membuka pintu kamar yang ternyata setengah terbuka, ia intip dan sedikit terperangah, ia menutup mulutnya, saat menemukan Livia yang memegang benda pipih di tangannya, ia meyakinkan dirinya bahwa hal itu salah dan tidak mungkin. "Sayang itu tespack bukan punya kamu kan sayang, nggak mungkin kan Ejak melakukannya?" suara Devi yang bergetar bercampur dengan isakan Livia. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN