#37

1175 Kata
Livia melempar testpack ditangannya, ia memeluk bundanya, menangis di d**a bundanya sepuasnya. "Aku menginginkannya bunda, aku sudah mengejarnya berulang tapi ia menolak, aku tahu ini salah, tapi aku menginginkannya," tangis Livia membuat Devi bingung. Tak urung air matanya menetes juga. Ia teringat dirinya saat hamil dan jauh dari orang-orang yang dicintainya. "Duduk,  tenangkan dirimu, ceritakan pada bunda, siapa laki-laki itu," Devi menarik tubuh mungil Livia duduk di tepi kasur dan mengusap wajahnya yang penuh air mata. Dalam hati Devi berdoa semoga apa yang didengarnya nanti, apapun dan siapapun itu akan membuatnya tetap tegar. Dengan tersendat Livia menceritakan semua kejadian yang ia alami, namun sama seperti halnya pada Sena ia tidak menceritakan siapa laki-laki itu. Devi menarik Livia ke dalam pelukannya, ia menangis sejadinya, namun tak bersuara, Devi menganggap Livia sudah seperti anak kandungnya, ia merasakan bagaimana kegundahan hati Livia. "Jika kau tahu di mana alamatnya, tunjukkan pada bunda, akan bunda datangi, jika kamu tahu nomor telponnya, telponlah agar ia tahu bahwa perbuatannya telah meninggalkan kehidupan baru dibadanmu," suara Devi kembali bergetar. Livia menggeleng. "Ia sudah kembali ke negaranya bun, aku sudah ke guesthousenya berulang, dan aku tidak punya nomor hpnya," Livia berbohong tentang nomor hp, ia bisa saja menelpon Victor dan memberitahunya bahwa ia hamil, namun hati kecilnya menahan, ia tahu diri karena Victor tak mencintainya, ia hanya berjanji pada dirinya akan membesarkan janin yang saat ini baru tumbuh dalam dirinya. Devi melepaskan pelukannya, ia menatap wajah layu di depannya. "Lalu apa rencanamu?" "Livi akan membesarkan anak ini bun, Livi akan istirahat, akan cuti semester depan saat perut Livi tak bisa disembunyikan, lalu melanjutkan kuliah lagi, bekerja, dan menghidupi anak ini sendiri," Livia kembali menangis dan Devi meraih kepala Livia dalam pelukannya. "Bunda akan selalu di dekatmu sayang, akan ikut menjaga anakmu, kau harus kuat dan bekerja keras untuk membesarkan anakmu," suara lirih Devi menguatkan Livia. **** Ananta memeluk Devi yang menangis tiada henti. Jika di depan Livia tadi ia bisa menahan tangisnya yang hanya mengalir tanpa bersuara, tapi di d**a suaminya ia menangis sejadinya, isakannya terdengar menyakitkan bagi Ananta. Ia teringat bagaimana dulu ia bertahan dalam kondisi hamil, kejadian itu seolah berputar kembali dalam ingatannya. Ananta mengusap punggung Devi, lalu mengelusnya berulang. "Aku tahu kau mengingatnya sayang, mengingat bagaimana kau berjuang demi Sena dan Ejak, iya kan, maafkan aku, maafkan aku," suara Nanta terdengar bergetar, matamya berkaca-kaca. "Peluk aku mas, hanya peluk aku saja," Devi memeluk suaminya dengan erat, entah mengapa rasa sakit di dadanya terasa begitu lama. **** Devi menelpon Sena agak lama mereka berbicara, malam makin larut dan Devi semakin sulit memejamkan matanya. **** Ejak menatap wajah Sena tak percaya, matanya bergerak-gerak cepat dan menggeleng perlahan. "Nggak mungkin, nggak mungkin bang," ujar Ejak pelan. "Tapi kenyataannya memang begitu Jak, tadi malam bunda nelpon lama sambil menangis," sahut Sena. "Lalu siapa,  siapa laki-laki itu?" suara Ejak terdengar memburu. Sena menceritakan semuanya, semua yang Livia ceritakan padanya. "Kasihan Livia bang, kasihan dia," suara Ejak terdengar lirih. "Yah, dia bertahan ingin membesarkan janinnya kata bunda, dan memamg harus begitu, karena janin itu tak berdosa," Sena menepuk bahu Ejak pelan, menatap adiknya yang tetap menunduk menatap ujung kakinya. **** Ada kesibukan baru Livia, ia diberi tanggung jawab oleh Ananta untuk mengelola galeri seni khas Jogja tak jauh dari rumahnya, lepas kuliah biasanya ia ke sana untuk mengurus administrasinya. Devi melihat bahwa kesibukan itu paling tidak mengalihkan kegundahan Livia karena masalahnya. Livia yang fasih berbahasa Inggris kadang menemani tamu-tamu dari mancanegara yang berkunjung ke galeri itu saat ramai pengunjung, sambil sesekali menawarkan barang-barang seni yang cukup mahal harganya. Ada tiga orang karyawan sebenarnya tapi saat pengunjung ramai ia tak sungkan turun tangan menemani para wisatawan. **** "Bunda mau ke Ubud sama ayah dua hari ya Livi, nggak papakan sendiri?" tanya Devi. "Nggak papa bun, banyak pembantu di rumah ini, dan mereka baik sama Livi," sahut Livia pelan. "Baiklah, jaga diri baik-baik ya," Devi mengusap kepala Livia yang terlihat semakin tirus wajahnya. "Makanlah yang teratur, minum vitaminmu," ujar Devi lagi dan Livia mengangguk. **** Devi dan Ananta sampai di Ubud malam hari saat Sena akan ke luar mengunjungi toko rotinya dan Ejak yang masih betah di kamarnya. "Bunda, Ejak mau bicara," tiba-tiba saja Ejak sudah berdiri di depan kamar ayah bundanya yang kebetulan terbuka. Ananta menatap wajah anaknya yang terlihat gundah. "Iya, di ruang makan saja ya Jak, boleh kan ayah ikut duduk?" tanya Ananta. Ejak hanya mengangguk dan melangkah meninggalkan keduanya. **** "Apa yang akan kamu bicarakan sayang?" tanya Devi menatap lekat wajah Ejak. "Bun, boleh kan kalau Ejak menikahi Livia setelah anak itu lahir?" tanya Ejak, Ananta dan Devi saling pandang. "Sayang, perlu bunda jelaskan, maaf, kamu jangan sakit hati, bunda terpaksa menjelaskan ini, karena usia kamu bunda rasa sudah cukup, bunda rasa Livia akan sulit menerima laki-laki lain, selain laki-laki yang membuatnya hamil, ini memang kasus aneh, Livia sepertinya jatuh cinta pada laki-laki yang menghamilinya, ia bukannya merasa benci atau sakit hati, tapi malah seperti menginginkan laki-laki itu lagi, bunda pernah menemaninya tidur saat ia gelisah, kamu tahu, ia mengigau, eeemm maaf Jak kalau ini terasa v****r, tapi ia mengigau bagaimana ia disentuh oleh laki-laki itu, jadi akan sulit bagi Livia untuk menerimamu lagi, mungkin bahkan laki-laki lain," Devi menatap Ejak sambil memegang tangan anaknya dan wajahnya terlihat sedih. "Aku mencintainya bunda," suara Ejak menjadi parau karena menahan tangis. "Bunda tahu, tapi kenyataannya seperti ini anakku," sahut Devi. "Besok malam bunda sudah kembali ke Jogja, jika kamu belum sanggup menangani toko rotimu, biarkan Sena yang mengurus semuanya, termasuk milik Livia," ujar Devi lagi. Ejak hanya mengangguk dan bangkit menuju kamarnya. "Aku tak sanggup melihatnya hancur sayang," Ananta akhirnya bersuara. "Dia sulit dekat dengan wanita, Livia adalah wanita pertama yang dekat dengannya, dia tidak seperti Sena, teman-teman wanitanya banyak, meski sampai saat ini ia tidak juga mengenalkan padaku siapa pacarnya," ujar Devi lagi. "Ok besok kita maraton ya sayang, keliling ke tiga toko roti, melihat bagaimana selama kamu tinggalkan ke Jogja, lalu kita mencari informasi, kira-kira siapa tamu di guesthouse yang aku pikir Livia pasti kenal laki-laki itu, ia tidak mungkin menolong laki-laki sembarangan, kadang aku berpikir bahwa Livia datang pada saat yang tidak tepat," ujar Ananta. "Yah dan besok sore kita harus sudah kembali ke Jogja, karena lusa pagi harinya aku menjadi pemateri teknik menulis cerita di sebuah seminar menulis," ujar Devi mengingatkan. "Ah yaaa, aku lupa jika sejak di Jogja kamu jadi seperti selebriti yang jika ke mall para remaja itu meminta berfoto denganmu," Ananta tersenyum melihat istrinya yang mengerucutkan bibirnya, lalu mengecup bibir Ananta sekilas. "Kita lama tak saling dekat seperti ini lagi," bisik Ananta pelan. "Lamaaa, jadi lima hari yang lalu?" mata Devi membulat. "Kan biasanya hampir tiap hari, aku tidak memaksamu karena kamu selalu sedih karena masalah Livi," Ananta memeluk bahu Devi mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya. "Mas, ada Ejak loh, kita ke kamar saja," bisik Devi dan sekali bergerak, Ananta sudah menggedong Devi menuju kamar. **** Livi boleh aku menelponmu, aku ingin bicara... Livia menatap pesan dari Ejak, ia bimbang, ia tidak ingin berbicara apapun lagi dengan Ejak, selesai sudah semuanya, ia tidak ingin membuat laki-laki itu semakin tersakiti. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN