Livia membiarkan pesan itu tak terjawab, ia tidak ingin semakin menyakiti laki-laki yang iya yakin akan terus berusaha menghubunginya.
Aku akan menunggumu Livi, bahkan jika laki-laki itu tak pernah muncul, aku akan menikahimu...
Sekali lagi ia biarkan pesan dari Ejak, air matanya luruh, ia tahu jika Ejak tulus mencintainya, tapi entah mengapa bayangan Victor terus berputar dikepalanya.
****
"Ini kayaknya guesthousenya sayang," ujar Deviana.
Mereka masuk dan menuju lobby kecil di hotel itu, mendekati customer servis dan menanyakan ini itu. Tapi sepertinya tidak memuaskan karena pihak guesthouse tidak banyak memberikan informasi.
Saat hendak ke luar Devi bertemu dengan seseorang yang ia kenal.
"Hei bli Wayan," Devi berteriak memanggil laki-laki yang berlalu di hadapannya dan menoleh lalu menuju Devi berdiri dengan Ananta.
"Ada apa ke tempat ini Dev?" tanya laki-laki itu.
Devi menarik laki-laki itu menjauh, menjelaskan seperlunya dan laki-laki itu mengangguk-angguk.
"Baik nanti akan aku kirim via wa saja, akan aku foto, tidak boleh sebenarnya karena itu rahasia hotel kami, tapi ah baiklah Dev, maaf aku terburu-buru, pokok tamu sekitar sebulan lalu ya?" ujar bli Wayan dan berlalu dari hadapan Ananta dan Devi.
****
Mata Wulan berkaca-kaca saat melewati rumahnya, ia minta suaminya agar menyuruh sopirnya menghentikan laju mobil mereka.
Saat hendak turun, tangan suaminya menahan lengannya.
"Bukankah menurutmu ibumu telah meninggal, untuk apa kamu ke sana?"
"Aku kangen mas, kangen rumah," suara Wulan lebih memyerupai rintihan dan Broto menjadi ingin menciumnya saat itu juga, bibir Wulan yang bergetar membuatnya semakin ingin menyentuhnya saat itu juga.
Broto menggeleng, dan memencet tombol agar tertutup pembatas antara tempatnya duduk dan tempat sopir. Memberi perintah pada sopir agar kembali menjalankan kemudi melalui alat yang dapat membuat dirinya dan sopirnya dapat berkomunikasi. Menarik Wulan dalam pelukannya dan mencium bibir istrinya dengan kasar. Air mata Wulan mengalir, ia sebenarnya tak ingin apapun, pikirannya pada ibunda tercinta, namun ia tahu, jika ingin suaminya tak bisa dihentikan.
Wulan merasakan sentuhan tangan suaminya yang kasar dan cenderung menyakitinya, dadanya sudah terasa perih saat tangan dan mulut suaminya tak henti menyiksa dadanya.
"Layani aku di sini, aku ingin sayang," suara berat Broto membuat Wulan menurut.
Perlahan Wulan menunduk dan mendekatkan bibirnya mendekati pangkal paha suaminya yang membuka dengan celana cepat dan sudah tidak pada tempatnya.
Telinganya mendengat erangan suaminya, ia gerakkan kepalanya naik turun, lalu bibir dan lidahnya tak henti bekerja, meski kadang ia tersedak, ia tahu suaminya tidak mudah dihentikan.
Tiba-tiba kepalanya ditarik dan badan mungilnya telah berada dipangkuan suaminya.
"Bergeraklah, yah bagus, lebih cepat sayang, tumbuk aku dengan kasar, yah terus, kita harus cepat, karena sebentar lagi akan sampai di tempat yang kita tuju," tangab suaminya mencengkeran erat pinggulnya, memaju mundurkan dengan cepat.
Lima belas menit kemudian terdengar erangan keras suaminya dan memeluknya dengat erat, menciumi kembali dadanya yang terbuka. Lalu mengusap keringat yang menetes dipelipis istrinya.
"Kau lelah?"
Wulan hanya mengangguk, tanpa bersuara. Ia menatap tak percaya, suaminya membetulkan branya, mengancingkan kembali blousenya. Merebahkannya lalu mengusap miliknya dengan tisu, memakaikan celana dalamnya lalu menarik roknya hingga menutup sempurna.
"Terima kasih, kau istri yang tak pernah melawan, sesakit apapun perlakuanku, bahkan saat darah mengalir dari tubuhmu kau hanya diam, tersenyumlah, aku ingin kau juga merasakan nikmatnya saat kita seperti tadi," samar-samar Wulan berusaha tersenyum, dan mobil berhenti, Wulan segera duduk dan melihat suaminya membetulkan celananya.
"Kau di sini, tidak usah turun, tunggu aku, aku dan anak buahku yang akan turun, kau aman dengan sopirku," Wulan menatap suaminya yang menghilang setelah pintu ditutup.
Baru tadi siang ia mendarat di Jogja, dan selama tiga hari ke depan ia di berada di kota yang telah membesarkannya. Air matanya kembali turun, ia raih ponselnya dan menelpon seseorang.
Mas aku di Jogja, bisa kita bertemu, aku kangen ibuk, aku kangen rumah, mas kapan balik, besok, baiklah, aku tunggu, aku tidak lama, yah, matur suwun mas...
Air mata Wulan kembali mengalir, ia pejamkan matanya, berulang lagi, kisahnya hingga ia berada di tangan Broto, ibunya yang memang sangat menyukai uang, mengangguk saja saat seseorang mengajukan lamaran ingin mempersuntingnya dengan iming-iming jaminan hidup yang besar untuk ibunya.
Dimulailah drama mengerikan,ia baru sadar jika suaminya sakit saat pertama ia disentuh secara aneh oleh suaminya, awalnya Wulan merasa ia bagaikan di neraka, siksaan, darah dan lebam-lebam disekujur tubuhnya membuatnya berusaha bunuh diri, namun istri pertama suaminya dan bapak angkat suaminyalah yang berusaha menguatkannya, hingga ia bisa bertaham sampai detik ini.
Sekitar satu jam, suaminya kembali dan duduk di dekatnya lagi, memeluknya dengan wajah dingin.
"Kau tahu, aku menceraikan istri-istriku, hari ini aku serahkan salah satunya pada salah satu rekananku,"
Wulan menatap suaminya dengan tatapan kaget tapi tak berani protes.
"Dalam pikiranmu aku pasti orang yang sangat kejam, paling tidak ia tidak terlunta dijalanan, setelah lepas denganku ia masih ada yang menghidupi, tinggal dua orang lagi, yang akan aku serahkan pada seseorang, hanya kamu dan Wida yang akan tetap bersamaku, hanya kamu, yang bisa memuaskanku, jangan pernah pergi, aku tak pernah memohon, baru kali ini,"
Wulan merasakan bahunya direngkuh dalam d**a suaminya, kepalanya diciumi berulang, ia bertekad akan menyembuhkan suaminya, meski sulit ia yakin bisa.
****
Devi dan Ananta kembali berada di bandara menanti keberangkatan pesawat yang akan mengantarnya menuju Jogja.
****
"Kau tahu, Wulan berada di Jogja Dev, ia ingin bertemu denganku, ia takkan lama, seperti biasanya, tempatnya sulit dijangkau," ujar Nanta aaat mereka telah berada di dalam pesawat.
"Oh ya, kapan kalian akan bertemu, besok aku seharian sibuk," sahut Devi.
"Nggak masalah, aku akan menemaninya sendiri, entah di mana akan bertemu," sahut Nanta sedih.
"Aku ingin ia lepas dari laki-laki itu," suara Nanta terdengar lirih.
"Apakah Wulan ingin, jika ia bisa hidup dengan laki-laki itu ya tak masalah," ujar Devi.
****
Malam hari Devi dan Nanta kembali menginjakkan kakinya di rumah, dan menemukan Livia yang meringkuk di ruang keluarga. Memeluk bantal dan ada sisa air mata di wajahnya.
Ananta menggendong Livia dan meletakkannya di kasur. Lalu menyelimutinya dan menutup kamarnya.
"Ah anak itu, benar-benar menguras pikiranku," ujar Devi lirih, lalu melangkah ke kamarnya diikuti oleh suaminya.
****
Victoooorrr jangan pergiii....
Dan Livia bangun, napasnya tersenggal, ia menatap kamarnya dan baru sadar jika ia sudah berada di kamarnya.
Siapa yang memindahkanku...
Livia menangis, tadi ia bermimpi bertemu laki-laki itu, memeluk dan menciuminya lalu melambaikan tangan dan pergi...
Livia menyentuh bibirnya, masih terasa ciuman dalam mimpinya seolah nyata.
Tiba-tiba pintunya terbuka, terlihat wajah bundanya.
"Ada apa Livi, kamu beteriak memanggil siapa?" tanya Devi dan wajah Livia menjadi tegang.
"Nggak bunda, Livia ngigo, nggak tahu ngigo apa," ujar Livia.
Devi menutup kembali pintu kamar anaknya, ia mendengar jelas jika Livia memanggil nama Victor, Victor siapa, rasanya tak mungkin Victor yang ia kenal, karena Livia hampir tak pernah berbicara dengan laki-laki itu, hanya anggukan dan saling tatap saat laki-laki itu sering menemuinya dulu.
Lalu siapa Victor yang disebut oleh Livia dalam mimpinya?
****