"Om percaya sama kamu Sena, hanya lain kali jangan sampai berdua di dalam kamar, meski kalian tidak melakukan apapun om kawatir jiwa muda kalian yang tidak dapat kalian ketahui kapan akan meledak bahkan kawatir tidak dapat dipadamkan," Papa Nira tersenyum bijaksana. "Sekali lagi makasih Sena, maaf sudah mengganggu waktumu, karena bisanya tiap minggu kamu pulang untuk memantau toko roti milik keluargamu," "Nggak papa om, ada adik saya yang pulang untuk melakukan itu, mohon maaf saya pamit om, tante." Sena pamit dan lengannya di tahan oleh mama Nira. "Ini oleh-oleh untukmu Sena, dan titip untuk bundamu," "Wah, makasih tante, akan saya beritahu bunda nanti," Langkah Sena kembali tertahan, saat papa Nira memanggilnya. "Jika suatu saat ayah dan bunda kamu ke Ubud, beritahu om, om ing

