Sena memegang bahu Nira mendorongnya perlahan. "Capek juga kayak gini Nira, kita kayak tarik ulur nggak jelas," "Aku malu, mungkin aku yang nggak pantas berdiri di samping kamu, sampai papa memohon padamu, kamu tetap sulit mencoba mencintai aku," mata coklat Nira terlihat berkaca-kaca. Sena menarik Nira ke dalam pelukannya. "Kau tahu, aku masih mencoba menghilangkan bayangan seseorang, dia wanita pertama yang aku cintai Nira, maka jika kita mencoba berjalan berdua, aku harap kamu bersabar, sampai bayangannya hilang dan berganti dengan wujudmu, bukan kamu tak pantas, bukan, kamu malah terlalu cantik untuk aku, kamu mau kan bersabar?" Sena melepas pelukannya dan menatap wajah cantik tanpa makeup di depannya. "Aku tunggu di luar, pakailah pakaian yang agak tertutup, aku lebih suka kau

