Sena mendorong badan Nira, memegang bahunya dan dengan napas tersenggal ia pandangi wajah cantik nan s*****l di hadapannya. "Dengar, aku tidak mau jadi laki-laki b******k, aku laki-laki normal Nira jangan pancing aku, pulanglah, jangan ke sini lagi, carilah laki-laki sepadan, kita seperti langit dan bumi Nira, aku tahu jika banyak yang menyukai dan mengejarmu, pulanglah," Sena menatap mata Nira yang bergerak-gerak dan berkaca-kaca. "Aku hampir lelah mengejarmu Sena, aku capek selalu mendengar kata-kata itu, tak sepadan, tak sebanding, kata-kata apa itu?" Nira memeluk Sena. Sena diam saja berusaha meredakan gemuruh dadanya. Aroma badan Nira sering mengusiknya, ia tak berani gadis itu terlalu lama berada di kamarnya. "Pulang ya, besok aku pasti menemuimu di cafe itu, pulanglah, aku t

