Sri merasa sedih melihat kebaya putih yang ada dikasurnya. Kebaya itu yang akan dia gunakan untuk pernikahan dirinya dan juga Bian. Wanita itu hanya bisa menghela napas meratapi nasibnya. Mungkin memang benar, jika dia harus membuka hati dan pasrah kepada Bian, menjadi istri pria itu. Marni yang melihat Kakaknya murung, hanya bisa melihat saja tanpa bisa melakukan sesuatu. Dia mendekati Kakaknya, dan memegang bahunya, “Mbak Sri, Mbak sudah siap?” Sri menoleh dan menatap sendu ke arah Marni, “Ntah lah Mar. Mbak ragu, apakah ini memang pilihan yang terbaik atau tidak untuk Mbak.” Marni menatap heran, “Mbak, piye to? Kok ragu? Besok itu pernikahan Mbak Sri dan Mas Bian. Waktu itu Mbak Sri yang menentukan sendiri memilih Mas Bian. Lalu sekarang kok ragu Mbak?” Sri menghela napas dan menat

