“Tante Alma ke mana?” tanya Dinda sebelum membicarakan hal lain pada Cinta. “Ada undangan,” jawab Cinta sambil menyuapi putrinya di tepi kolam renang, “harusnya kamu nelpon dulu kalau mau ketemu mama.” Dinda meringis. “Nggak ketemu juga nggak papa sebenarnya. Aku cuma mau ngabari kamu duluan.” Dinda yang duduk di kursi santai bersama Cinta itu, segera mencondongkan tubuh. Berbisik di telinga Cinta, padahal ia bisa saja bicara seperti biasa. “Aku mau nikah, akhir bulan ini.” Mulut Cinta langsung terbuka lebar. Menoleh perlahan pada Dinda. Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam dan mengerjap. Mencerna perlahan ucapan sahabatnya itu sambil menatap wajah semringahnya. “Nikah … akhir … bulan?” tanya Cinta dengan perlahan dan belum bisa percaya sepenuhnya. Dinda mengangguk-angguk. Senyumn

