Altaf mempersilakan Ciara masuk ke ruang inap, tempat Briana ditangani setelah mendapat perawatan intensif. Ruangan tersebut dijaga ketat dan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. “Mamamu belum sadar,” ucap Altaf setelah menutup pintu, “kondisinya masih lemah, tapi sudah membaik.” Ciara langsung meraih tangan Briana, menggenggam telapak tangan sang mama lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien. “Ma …” Ciara mulai terisak, menempelkan punggung tangan Briana di pipinya, “ini aku, Cia. Bangun, yaaa …” “Karena kamu sudah di sini, aku tinggal ke kantor dulu,” ujar Altaf berdiri di sudut ranjang pasien. Ciara menghapus air mata di pipinya. “Apa harus dijaga seketat ini? Mamaku bukan orang jahat.” “Bukti yang bicara, Cia.” “Mama pasti difitnah, Mas,” ucap Ciara penuh keya

