Altaf memasuki kamar rawat Briana dan menutup pintunya rapat. Kamar itu bukan tipe VIP, hanya kamar sederhana dengan satu ranjang pasien dan sebuah kursi di sampingnya, yang saat ini sudah ditempati oleh Ciara. Altaf berhenti di sudut ranjang dan menatap wajah Briana yang pucat. Tidak ada rasa kasihan sedikit pun, setelah mengingat apa yang sudah diperbuat wanita itu pada Cinta. “Cia, keluar,” titah Altaf datar, “aku mau bicara sama mamamu.” “Aku tetap di sini.” “Keluar,” ulang Altaf lebih tegas, “dan jangan membantah atau kamu nggak akan punya akses untuk nemui mamamu lagi.” Ciara berdiri dengan menghentak kaki. Tanpa bicara, ia membuang wajah dari Altaf lalu keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Briana dan kakak laki-laki yang belakangan ini hampir tidak pernah ada di pihaknya.

