“Jangan lama-lama. Aku capek, mau cepet pulang, bumil perlu istirahat.” Baru saja mereka duduk berempat mengelilingi sebuah meja, Cinta langsung melempar protes tanpa basa-basi. Wajahnya pun sejak tadi hanya datar-datar saja. Ia hanya memberi senyum formal dan anggukan singkat pada Kiano. “Pesan aja dulu,” ucap Bias menyodorkan buku menu pada Cinta. Kemudian, ia merapatkan kursi lalu ikut melihat daftar menu bersama istrinya. Seorang pelayan sudah berdiri di samping meja mereka, bersiap untuk mencatan pesanan. “Mbak, croissant cheese dua, Korean garlic bread dua, red velvet satu, sama triple choco pie lima,” ucap Bias setelah membolak-balik buku menu di tangan Cinta, “pesanan saya barusan di bungkus semua.” Semua mata spontan menatap Bias. Sementara Cinta, langsung mengulurkan tangan

