Rapat berakhir dengan ketegangan yang masih terasa di udara. Di luar ruangan, Cinta menarik napas panjang. Menyembunyikan rasa kecewa dan tetap memasang senyum ketika menyalami anggota rapat yang lainnya. “Gagal,” ucap Cinta menepi di sudut ruang bersama Altaf. Meski sisa-sisa luka pada kakaknya masih mengendap, tetapi Cinta masih bisa menyisihkannya untuk sejenak. Ada hal yang lebih penting daripada terus mengingat mengingat masa lalu. Toh Altaf juga sudah berusaha mengembalikan semua hak-hak Cinta, hingga ia bisa berdiri dalam jajaran pemilik saham di Naraland. “It’s okay,” jawab Altaf santai, “anggap, ini belum waktunya.” Altaf mungkin kalah dalam pengambilan suara untuk menjadi direktur utama. Namun, hal itu sepadan dengan adanya Cinta di sisinya. Untuk saat ini, itu saja sudah leb

